Capai Nol Emisi Karbon di Masa Depan dengan Energi Surya

Kita belum sepenuhnya sadar bahwa selama ini kita sangat bergantung pada sumber energi tak terbarukan, seperti bahan bakar fosil. Mengutip dari situs International Energy Agency, pada tahun 2021, dunia telah memompa 36,3 gigaton emisi karbon dari bahan bakar fosil ke atmosfer, naik 6% dari tahun sebelumnya dan menjadi rekor tertinggi. Lalu, apakah kita mampu bertanggung jawab atas sebagian besar emisi karbon yang dihasilkan dari bahan bakar fosil tersebut? Jawabannya adalah kita mampu. Namun, memang butuh waktu.
Seperti yang kita tahu, sumber energi tak terbarukan itu jumlahnya terbatas. Jika kita terus menggunakannya, suatu saat pasti akan habis. Maka dari itu, kita perlu beralih dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan. Mengapa kita harus cepat beralih? Selain untuk mengurangi emisi karbon, kita juga bisa berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di dunia, termasuk di Indonesia. Sesuai dengan tujuan nomor 7 dalam SDGs, yaitu energi bersih dan terjangkau.
Mengapa Harus Energi Terbarukan?

Bayangkan saja, hingga saat ini, manusia masih bergantung pada bahan bakar fosil untuk menunjang berbagai kegiatan sehari-hari, mulai dari listrik untuk penerangan, bahan bakar minyak untuk kendaraan, gas untuk memasak, plastik untuk pengemasan dan sebagainya. Bahkan, bahan bakar fosil masih terus digunakan sebagai pembangkit listrik untuk menyuplai kebutuhan PLTU di Indonesia. Padahal bahan bakar fosil merupakan sumber energi yang tak terbarukan, yang jumlah terbatas dan akan cepat habis seiring meningkatnya kebutuhan manusia diberbagai sektor. Mengutip dari situs Environmental and Energy Study Institute, penggunaan bahan bakar fosil ternyata masih menyuplai 80% kebutuhan energi dunia. Jumlah yang sangat banyak bukan?
Transisi energi mutlak diperlukan agar suplai bahan bakar fosil untuk kebutuhan energi dunia bisa diminimalisir. Mengutip dari situs Direktorat Jenderal EBTKE - Kementerian ESDM, Menteri ESDM Arifin Tasrif dalam acara webinar Potret Energi Indonesia pada Tempo Energy Day tahun 2020, mengatakan bahwa tanpa penemuan cadangan yang baru, minyak bumi di Indonesia akan habis dalam sembilan tahun ke depan, gas bumi akan habis 22 tahun lagi, dan batubara akan habis 65 tahun mendatang. Oleh karena itu, potensi energi terbarukan yang selalu tersedia dari alam harus segera dilakukan pengembangan. Melalui 1000 Aspirasi Indonesia Muda, saya berpendapat bahwa sumber energi terbarukan seperti energi surya atau sinar matahari merupakan pilihan yang tepat untuk menjadi salah satu pasokan energi ramah lingkungan di masa depan.
Nol Emisi Karbon di Masa Depan, Bisakah?

Ketergantungan kita pada konsumsi bahan bakar fosil selama ini menyebabkan menipisnya pasokan dan perubahan iklim dunia. Mengutip dari situs United Nations, bahan bakar fosil, yaitu batu bara, minyak, dan gas hingga saat ini masih menjadi penyumbang terbesar perubahan iklim dunia. Namun, nol emisi karbon di masa depan bukanlah suatu hal yang mustahil jika kita mulai beralih dari penggunaan bahan bakar fosil ke energi baru dan terbarukan (EBT).
Energi surya sangat potensial untuk menyediakan energi terbarukan secara luas. Untuk memanfaatkan tenaga surya, diperlukan panel surya untuk mengubah sinar matahari langsung menjadi listrik. Mengutip dari situs Siyavula, terdapat banyak energi di bawah sinar matahari. Maka dari itu, dibutuhkanlah panel surya untuk menyerap energi radiasi dari matahari dan mengubahnya menjadi energi potensial yang dapat disimpan. Tidak seperti bahan bakar fosil, tenaga surya tidak menghasilkan emisi karbon selama proses pembangkitan berlangsung. Hal itulah yang membuat energi surya menjadi salah satu komponen penting dalam program transisi energi G-20.
Presidensi G-20 Indonesia menjadi momentum bagi Indonesia dalam mendorong upaya percepatan transisi energi, misalnya dengan mendorong pembangunan dan penggunaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di dunia. Program transisi energi bersih dengan pemanfaatan energi surya diharapkan dapat membantu dunia dalam memangkas emisi karbon dan mengatasi perubahan iklim. Sesuai dengan tema KTT G-20 tahun 2022 di Bali, Recover Together, Recover Stronger. Pulih Bersama, Bangkit Perkasa. Nol Emisi Karbon, Pasti Bisa!
![[OPINI] Lelaki Harimau: Amis Darah di Balik Estetika Prosa Eka Kurniawan](https://image.idntimes.com/post/20260404/lelaki-harimau-eka-kurniawan_36a7cbd9-63a8-49da-aec5-8c89cc8bb3f6.jpg)
![[OPINI] Beriman Tanpa Marah, Bertoleransi Tanpa Syarat](https://image.idntimes.com/post/20260409/pexels-usman-hadi-wijaya-2158214120-35422495_d42c916b-ae8a-4169-a41e-329f8e376c76.jpg)
![[OPINI] Makan Bergizi Gratis atau Dana Pelajar: Mana yang Lebih Tepat?](https://image.idntimes.com/post/20260408/whatsapp-image-2026-04-08-at-09_69421cbe-6c1d-42aa-97c8-168df448bd22.jpeg)
![[OPINI] Analisis Kebijakan Pertahanan Indonesia dari Ancaman Maritim](https://image.idntimes.com/post/20260327/kri-brawijaya-320_d852154c-499d-4476-afaf-cb45bef97181.jpg)



![[OPINI] Kenapa Tulisan yang Ditulis Sendiri Sering Dibilang Buatan AI?](https://image.idntimes.com/post/20260123/alasan-gak-semua-hal-layak-ditulis-menulis-berlebihan_d71a7bb9-f249-48fb-be75-26f38e13ac2f.jpeg)

![[OPINI] Relasi Epstein-Chomsky, dan Integritas Intelektual Kiri](https://image.idntimes.com/post/20260204/efta00003652-0_3909c293-079d-4870-ba54-8c60af9ef07b.jpg)






![[OPINI] Berhenti Berlindung di Balik Kalimat “Aku Orangnya Emang Begini”](https://image.idntimes.com/post/20251018/pexels-kampus-7555858_e0f0519c-fde0-4ab4-8965-0e12dabbd0b7.jpg)
![[OPINI] Peran Perempuan dalam Wujudkan Harmoni Sosial dan Lingkungan](https://image.idntimes.com/post/20250802/pexels-julia-m-cameron-8841582_4f4cbb51-bd42-46f6-ba78-fa42532e55a6.jpg)