Cerita Ramadan: Testimoni dari Aku si Non-Islam yang Mencoba Puasa

Sejatinya tak banyak kisah yang bisa dibagikan mengenai Ramadan mengingat aku menganut agama Katolik. Sejak kecil pun aku mengenyam pendidikan di sekolah swasta Katolik.
Meski begitu, aku paham sedikit banyak soal aturan berpuasa dari asisten rumah tangga yang menginap di rumah. Saat mendekati jam buka puasa, ART yang akrab kusapa Teteh Neulis ini akan membeli sederet takjil menggiurkan. Kolak pisang jadi satu yang gak pernah lewat untuk dibeli.
Rasa penasaranku membuncah soal puasa. Di masa remaja, tepatnya kelas 10 SMA, melihat Teteh Neulis melakukan ibadah puasa membuatku ingin ikut mencobanya. Kalau istilah sekarang mungkin bisa disebut FOMO.
Di hari pertama, walau tak ikut sahur, aku sudah berbuka dahulu dengan Teteh sambil diberi briefing singkat soal tata cara puasa. Maklum, namanya juga pemula, jadi banyak pertanyaan keluar dari mulutku.
Bersama dengan mama, aku mendengarkan jawabannya dengan semangat. Lewat penjelasan Teteh Neulis, aku baru mengetahui kalau sahur ada batas jam untuk makannya, sedangkan jadwal buka puasa tak selalu tepat pukul 18.00 WIB.
Di hari pertama mencoba puasa, sudah ada saja tantangannya. Paling berat, tentu bangun pada waktu subuh untuk menelan makanan. Tantangan berikutnya terjadi saat mama ternyata sudah mempersiapkan makanan berat. Sangat berat, sih, lebih tepatnya.
Ada ketupat, opor ayam, rendang, sambal goreng ati, lengkap dengan kerupuk. Pantas saja kemarin sore hingga malam mamaku dan Teteh Neulis sudah riweuh, alias sibuk heboh, di dapur.
Aku yang biasa makan sedikit saat pagi hari pun tak kuasa berseru, "Ini gak salah, nih?"
"Biar puasanya semangat," kata mama yang kuingat langsung ditertawakan Teteh. Mungkin dia juga bingung ada sahur yang pakai santapan berat begini.
Namun mau tak mau aku harus memakannya. Mama sudah susah-susah masak, kan. Enak, sih, walau enek juga, karena mama memberikan porsi yang cukup banyak.
Benar saja, begitu pelajaran dimulai, perutku sudah mulai gak enak dan berasa kembung. Mata juga berat, ngantuk usai bangun subuh-subuh.
Menjelang makan siang, jam istirahat kedua lebih tepatnya, perut yang tadinya mulas mendadak bergemuruh keras ketika melihat teman-temanku jajan. Ego untuk menyelesaikan hari pertama puasa ini beradu dengan keinginan lidah untuk makan seblak di kantin.
Di jam istirahat tersebut pula aku pun bertemu dengan salah satu teman yang beragam Islam dan tengah menjalani puasa. Dia sedang duduk berbincang dengan gengnya yang asyik makan tanpa rasa berdosa.
Maaf kalau kedengarannya lebay, karena baru setengah hari, tapi aku langsung merasa satu perjuangan dengannya. Aku yang lapar pun bawaannya jadi sensitif untuk menegur.
"Keren banget bisa puasa di tengah orang-orang pada makan. Semoga puasanya lancar terus, ya!" ujarku kepadanya sambil melenggang ke kelas sambil membawa semangkuk seblak.
Iya. Puasa pertama itu pun gagal total. Begitu juga keesokan harinya, lusa besoknya, hingga akhirnya aku mengaku kepada mama kalau sudah kurang lebih seminggu sebenarnya tak berpuasa. Duh, maaf, ya malah jadi nambah dosa karena berbohong.
Pengalaman singkat nan berharga ini membuatku sadar kalau puasa memang susah dilakukan. Penuh tantangan dan godaan itu pasti. Apalagi harus menjalaninya selama satu bulan penuh. Buat kamu yang sedang menjalani puasa, semangat, ya!
Tertanda, mantan pejuang puasa satu, eh maksudnya setengah hari.
![[OPINI] Lelaki Harimau: Amis Darah di Balik Estetika Prosa Eka Kurniawan](https://image.idntimes.com/post/20260404/lelaki-harimau-eka-kurniawan_36a7cbd9-63a8-49da-aec5-8c89cc8bb3f6.jpg)
![[OPINI] Beriman Tanpa Marah, Bertoleransi Tanpa Syarat](https://image.idntimes.com/post/20260409/pexels-usman-hadi-wijaya-2158214120-35422495_d42c916b-ae8a-4169-a41e-329f8e376c76.jpg)
![[OPINI] Makan Bergizi Gratis atau Dana Pelajar: Mana yang Lebih Tepat?](https://image.idntimes.com/post/20260408/whatsapp-image-2026-04-08-at-09_69421cbe-6c1d-42aa-97c8-168df448bd22.jpeg)
![[OPINI] Analisis Kebijakan Pertahanan Indonesia dari Ancaman Maritim](https://image.idntimes.com/post/20260327/kri-brawijaya-320_d852154c-499d-4476-afaf-cb45bef97181.jpg)



![[OPINI] Kenapa Tulisan yang Ditulis Sendiri Sering Dibilang Buatan AI?](https://image.idntimes.com/post/20260123/alasan-gak-semua-hal-layak-ditulis-menulis-berlebihan_d71a7bb9-f249-48fb-be75-26f38e13ac2f.jpeg)

![[OPINI] Relasi Epstein-Chomsky, dan Integritas Intelektual Kiri](https://image.idntimes.com/post/20260204/efta00003652-0_3909c293-079d-4870-ba54-8c60af9ef07b.jpg)






![[OPINI] Berhenti Berlindung di Balik Kalimat “Aku Orangnya Emang Begini”](https://image.idntimes.com/post/20251018/pexels-kampus-7555858_e0f0519c-fde0-4ab4-8965-0e12dabbd0b7.jpg)
![[OPINI] Peran Perempuan dalam Wujudkan Harmoni Sosial dan Lingkungan](https://image.idntimes.com/post/20250802/pexels-julia-m-cameron-8841582_4f4cbb51-bd42-46f6-ba78-fa42532e55a6.jpg)