Climate Justice: Memandang Isu Perubahan Iklim dari Lensa Keadilan

Krisis iklim adalah ketika suhu rata rata bumi meningkat dalam jangka waktu yang lama, disebabkan gas rumah kaca yang terjebak di stratosfer, yang disebabkan oleh kegiatan manusia.
Climate justice adalah cara memandang isu krisis iklim dari kacamata keadilan. Melalui climate justice ini kita bisa melihat isu perubahan iklim dari berbagai layer keadilan sehingga aksi iklim yang perlu dilakukan pun akan mempertimbangkan keadilan keadilan tersebut.
Tanpa adanya lensa keadilan. Kita hanya melihat perubahan iklim sebagai sebuah fenomena, tanpa melihat kembali lebih dalam apa yang menjadi ketimpangan sehingga terjadi perubahan iklim itu sendiri.
Tapi lensa keadilan yang seperti apa? Setidaknya ada 3 layer keadilan dalam climate justice
1. Keadilan dari sisi negara global utara dan global selatan

Negara global utara sering dipadankan sebagai negara negara maju. Secara historis, emisi gas rumah kaca terutama di masa revolusi industri dihasilkan paling banyak dari negara negara Eropa. Yang bertanggung jawab atas dampak dari emisi tersebut tidak hanya negara tersebut, tetapi justru negara negara yang mengeluarka emisi lebih rendah sehingga hal ini harus dilihat dari lensa keadilan.
2. Keadilan dari sisi kelas ekonomi

Pihak yang mengeluarkan emisi lebih banyak biasanya merupakan pihak yang mengkomsumsi lebih banyak. Pihak pihak tersebut biasanya berasal dari kalangan menengah dan menengah ke atas. Ketika dampak krisis iklim terjadi seperti banjir, kalangan menengah ke bawah biasanya menanggung dampak yang lebih besar dari pada kalangan yang mempunyai sumber daya lebih. Sehingga aksi iklim juga harus dilihat dari lensa kesenjagan tersebut.
3. Keadilan antar generasi

Aktivitas manusia di masa lalu membentuk dunia di masa sekarang, dan aktivitas kita di masa sekarang akan membentuk dunia yang akan kita wariskan kepada generasi penerus di masa depan. Apapun keputusan keputusan terkait penanganan krisis iklim ini harus mempertimbangkan keadilan dari genarasi ke generasi. Keputusan yang telah diambil harus mempertimbangkan dampak jangka panjang yang akan dirasakan anak muda saat ini di masa depan mereka sehingga anak muda harus terlibat dalam pengambilan keputusan karena mereka yang akan paling merasakan dampaknya di masa depan.
Yuk generasi muda terus ikut berkontribusi dan suarakan keadilan iklim di Indonesia!
![[OPINI] Lelaki Harimau: Amis Darah di Balik Estetika Prosa Eka Kurniawan](https://image.idntimes.com/post/20260404/lelaki-harimau-eka-kurniawan_36a7cbd9-63a8-49da-aec5-8c89cc8bb3f6.jpg)
![[OPINI] Beriman Tanpa Marah, Bertoleransi Tanpa Syarat](https://image.idntimes.com/post/20260409/pexels-usman-hadi-wijaya-2158214120-35422495_d42c916b-ae8a-4169-a41e-329f8e376c76.jpg)
![[OPINI] Makan Bergizi Gratis atau Dana Pelajar: Mana yang Lebih Tepat?](https://image.idntimes.com/post/20260408/whatsapp-image-2026-04-08-at-09_69421cbe-6c1d-42aa-97c8-168df448bd22.jpeg)
![[OPINI] Analisis Kebijakan Pertahanan Indonesia dari Ancaman Maritim](https://image.idntimes.com/post/20260327/kri-brawijaya-320_d852154c-499d-4476-afaf-cb45bef97181.jpg)



![[OPINI] Kenapa Tulisan yang Ditulis Sendiri Sering Dibilang Buatan AI?](https://image.idntimes.com/post/20260123/alasan-gak-semua-hal-layak-ditulis-menulis-berlebihan_d71a7bb9-f249-48fb-be75-26f38e13ac2f.jpeg)

![[OPINI] Relasi Epstein-Chomsky, dan Integritas Intelektual Kiri](https://image.idntimes.com/post/20260204/efta00003652-0_3909c293-079d-4870-ba54-8c60af9ef07b.jpg)






![[OPINI] Berhenti Berlindung di Balik Kalimat “Aku Orangnya Emang Begini”](https://image.idntimes.com/post/20251018/pexels-kampus-7555858_e0f0519c-fde0-4ab4-8965-0e12dabbd0b7.jpg)
![[OPINI] Peran Perempuan dalam Wujudkan Harmoni Sosial dan Lingkungan](https://image.idntimes.com/post/20250802/pexels-julia-m-cameron-8841582_4f4cbb51-bd42-46f6-ba78-fa42532e55a6.jpg)