Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Tidak Ada War Takjil, Kami Lebih Sering War Air Bersih

Tidak Ada War Takjil, Kami Lebih Sering War Air Bersih
ilustrasi umat muslim salat (pexels.com/mohammad ramezani)

Jakarta, IDN Times - Bulan suci Ramadan selalu menjadi momen spesial bagi jutaan muslim di dunia, termasuk saya. Hampir separuh hidup saya dihabiskan di kampung halaman, sebuah desa terpencil di Pulau Garam, Madura

Kebanyakan warga di kampung halaman saya merantau ke luar kota untuk mencari nafkah. Sehingga di bulan-bulan biasa, kampung kami tidak terlalu ramai. Masyarakat di kampung biasanya mudik lebih awal, mereka kembali dari perantauan masing-masing pada bulan Sya'ban, satu bulan menjelang masuknya bulan suci Ramadan. 

Begitu Ramadan tiba, kami menyambut dengan penuh suka cita. Satu tradisi yang tidak pernah terlewatkan sejak saya kecil hingga hari ini adalah peggengan. Tradisi ini sama seperti munggahan bagi masyarakat Sunda.

Namun, tradisi kami berbeda dengan masyarakat Sunda. Kalau Munggahan dilakukan dua hari sebelum Ramadan, peggengan digelar tepat malam pertama hari Ramadan.

Setiap rumah akan menyembelih satu atau dua ekor ayam, hasil ternak mereka untuk disajikan sebagai menu makan malam sekaligus sahur. Ayam yang disembelih juga ayam kampung. Sebab sebagian dari kami biasanya tidak bisa makan ayam potong yang dijajakan di pasar.

Pada malam ke-21 bulan suci Ramadan, ada tradisi yang kami kenal dengan slekoran. Biasanya setiap rumah akan membuat berbagai menu masakan lengkap dengan penganannya. 

Kemudian setelah ashar, kami saling berbagi makanan ke tetangga terdekat, termasuk sanak saudara. Tradisi slekoran ini diakhiri dengan doa bersama di musala usai mendirikan salat tarawih sekaligus doa membaca Khotmil Quran. Di kampung kami, setiap malam ramadan memang terbiasa mengkhatamkan Al-Qur'an dengan sistem satu hari satu juz Al-Qur'an (one day one juz). 

Malam slekoran menjadi salah satu malam spesial khususnya bagi anak-anak seperti saya dulu, pertama karena pada malam itu, musala dipenuhi dengan berbagai makanan dan penganan. Kedua, kami berhasil menyelesaikan 30 jus Al-Qur'an.

Setelah doa dipimpin ustaz, kami menyantap makanan yang dibawa masing-masing warga ke musala. Rasanya, tradisi ini tidak saya temukan di Jakarta dan Bogor, tempat saya merantau hampir 10 tahun ini.

Banyak cerita sebetulnya di masa kecil saya yang tidak dapat saya lupakan. Kalau di Jakarta belakangan warganya saling berburu takjil, dulu kami lebih sering berburu air bersih untuk minum dan mandi.

Ya, setiap kali bulan Ramadan, selalu bertepatan dengan musim kemarau, yang artinya sumber air di kampung halaman kami semakin berkurang. Salah satu sungai yang menjadi andalan kami adalah sungai murleket.

Ketika matahari terbit, kami biasanya sudah bergegas ke sungai untuk war air bersih dengan seluruh warga kampung. Tidak hanya itu, kami juga harus bersaing dengan warga kampung tetangga.

Berburu air bersih, di tengah terik panas matahari dalam keadaan berpuasa adalah momen yang tidak akan terlupakan bagi saya dan masyarakat di kampung halaman. Sore setelah menunaikan salat ashar, kami juga biasanya berangkat ke sungai untuk mandi dan sekaligus membawa air bersih ke rumah. 

Menelusuri jalanan dan hutan, sudah biasa bagi kami berbuka puasa di tengah perjalanan dari sungai ke rumah. Begitulah, pahitnya tinggal di kampung, yang tak pernah "dirawat" pemerintahnya sendiri. 

Syukurnya, sekarang kami sudah tidak perlu mencari air bersih ke sungai ketika musim kemarau tiba dan bulan suci Ramadan datang, karena salah satu warga di kampung kami, H Muchlis lolos menjadi wakil rakyat mewakili daerah pemilihan (dapil) di kecamatan kami.

Ia pun membangun pipa dari sumber mata air ke setiap rumah warga di seluruh kampung. Berkat pipanisasi ini, kami menjalankan bulan puasa lebih tenang, karena tidak khawatir kehabisan air di rumah kami. Namun, beliau sudah lebih dulu menghadap sang pencipta, semoga pipanisasi yang beliau bangun menjadi ladang pahala jariyah baginya.

Ini sedikit cerita Ramadan saya di kampung halaman, kenangan yang tak terlupakan adalah war air bersih, setiap kali bulan Ramadan datang, kenangan pahit itu selalu menjadi topik pembahasan bagi kami sembari mengingat-ingat lagi susahnya demi mendapatkan satu ember air bersih. 

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Amir Faisol
EditorAmir Faisol
Follow Us

Latest in Opinion

See More

[OPINI] Lelaki Harimau: Amis Darah di Balik Estetika Prosa Eka Kurniawan

12 Apr 2026, 19:15 WIBOpinion
Benarkah Kuliah Itu Scam?

Benarkah Kuliah Itu Scam?

20 Jan 2026, 12:41 WIBOpinion