Ketika Gunung Anak Krakatau meletus beberapa waktu yang lalu, penerbangan dari Bandara Internasional Soekarno Hatta sempat ditutup selama beberapa hari untuk menghindari bahaya abu vulkanik letusan. Abu vulkanik di udara pernah menyebabkan insiden serius terhadap penerbangan di atas langit Indonesia di tahun 1982 silam. Saat itu terjadi sebuah peristiwa yang mendebarkan ketika sebuah pesawat jumbo jet Boeing 747-200 Flight 009 milik Maskapai British Airways yang sedang dalam perjalanan dari Kuala Lumpur Malaysia, menuju Perth, Australia masuk ke dalam awan abu vulkanik dari letusan Gunung Galunggung yang kemudian menyebabkan seluruh mesin pesawatnya mati total. Penerbangan dengan pesawat Boeing 747-200 bernama City of Edinburgh dengan nomor registrasi G-BDXH tersebut membawa 247 penumpang dan 15 awak di dalam pesawat.
Pada tahun tersebut teknologi radar belum cukup canggih untuk mendeteksi anomali awan yang terbentuk dan berkomposisi abu vulkanik dari letusan gunung berapi ditambah saat itu abu vulkanik belum dianggap sebagai sesuatu yang serius terhadap penerbangan. Di kegelapan malam hari itu, radar tidak menangkap sesuatu yang aneh pada cuaca, karena teknologi radar saat itu dirancang untuk mendeteksi kelembapan dan komposisi butiran air dan kristal es di dalam awan badai dan bukan untuk mendeteksi partikel padat yang kering hingga para awak akhirnya melihat sejumlah fenomena yang mengawali masalah besar dalam penerbangan mereka.
Ingin tahu lebih lanjut mengenai insiden yang menimpa Boeing 747-200 milik Maskapai British Airways ini? Simak empat fakta menariknya berikut ini, yuk!
