Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

4 Fakta Sikatan Belang, si Pengendali Hama Alami Ekosistem Hutan

4 Fakta Sikatan Belang, si Pengendali Hama Alami Ekosistem Hutan
potret burung sikatan belang yang memiliki nama latin Ficedula westermanni (commons.wikimedia.org/Lip Kee Yap)
Intinya Sih
  • Sikatan belang atau Ficedula westermanni adalah burung kecil pemakan serangga dari keluarga Muscicapidae yang hidup di hutan tropis Asia Selatan hingga Asia Tenggara.
  • Burung jantan berwarna hitam putih mencolok, sedangkan betina berwarna coklat keabu-abuan untuk kamuflase; selama musim kawin, betina bertelur 3–5 butir dengan masa inkubasi 12–14 hari.
  • Sikatan belang berperan penting sebagai pengendali hama alami ekosistem hutan dan meski berstatus Least Concern menurut IUCN, populasinya mulai menurun akibat perburuan dan penyempitan habitat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Little pied flycatcher atau yang dalam bahasa Indonesia lebih dikenal dengan nama burung sikatan belang adalah burung kicau berukuran kecil anggota family Muscicapidae, sebuah keluarga burung arboreal atau burung yang melakukan sebagian besar aktivitas hidupnya di atas pohon. Burung yang memiliki nama latin Ficedula westermanni ini memiliki ukuran panjang sekitar 10 hingga 11 cm dengan berat antara 7g hingga 8g. Memiliki habitat alami di hutan lembab tropis atau subtropis dataran rendah maupun hutan pegunungan.

Pejantannya memiliki warna kontras mencolok dengan corak hitam dan putih yang memesona di tubuhnya, pola warna tersebut menjadi salah satu bagian nama julukannya "belang" dari sikatan belang. Menurut laman Animalia Bio, distribusi habitat burung yang memiliki 8 subspesies ini sangat luas meliputi Subkontinen India dan Asia Tenggara yang meliputi: Bangladesh, Bhutan, Kamboja, Nepal, India, Tiongkok, Laos, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Tailan dan Vietnam.

Ingin tahu lebih lanjut mengenai burung kecil yang sulit ditangkap kamera karena gerak gesitnya ini? Simak empat fakta menariknya berikut ini, yuk!

1. Spesiesnya diidentifikasi pada abad ke-19

potret burung sikatan belang yang sedang membersihkan diri di sungai yang berlokasi di salah satu hutan cagar alam di India
potret burung sikatan belang yang sedang membersihkan diri di sungai yang berlokasi di salah satu hutan cagar alam di India (commons.wikimedia.org/Lorensonowal)

Menurut laman Avibase, spesies burung sikatan belang ini pertama kali diidentifikasi oleh ahli ornitologi berkebangsaan Inggris bernama Richard Bowdler Sharpe sebagai Muscicapula westermanni pada tahun 1888 berdasarkan spesimen seekor jantan dewasa yang dikumpulkan oleh Leonard Wray di wilayah pegunungan di Semenanjung Malaya pada ketinggian 1.280 mdpl.

Julukan spesifik westermanni diberikan untuk menghormati ahli zoologi Belanda Gerard Frederik Westerman (1807-1890) seorang pendiri Nederlandsche Ornithologische Vereniging. Burung sikatan belang ini adalah burung partially migratory atau ada populasinya di suatu tempat yang bermigrasi sementara populasi di tempat lainnya menetap. Sebagai contoh, populasi sikatan belang di wilayah Himalaya akan naik ke tempat yang lebih tinggi selama musim kawin dan turun ke wilayah kaki bukit yang lebih rendah selama bukan musim kawin.

2. Jantan dan betinanya memiliki warna bulu yang berbeda

berbeda dengan pejantannya yang memiliki warna bulu cerah, burung sikatan belang betina memiliki warna coklat keabu-abuan yang lebih sederhana
berbeda dengan pejantannya yang memiliki warna bulu cerah, burung sikatan belang betina memiliki warna coklat keabu-abuan yang lebih sederhana (commons.wikimedia.org/Godbolemandar)

Dilansir laman eBrid, spesies burung sikatan belang ini memiliki perbedaan warna bulu antara burung jantan dan betinanya. Jika burung jantannya memiliki warna bulu yang kontras hitam dan putih yang mencolok, tak demikian halnya dengan burung betinanya. Burung sikatan belang betina memiliki warna bulu yang lebih kalem dengan keseluruhan berwarna coklat keabu-abuan. Warna bulu yang tidak secerah pejantannya memberikan keuntungan dalam kamuflase di habitat hutannya.

Sejumlah informasi menuliskan bahwa warna yang terlihat lebih menarik pada burung pejantan memiliki fungsi untuk menarik pasangannya dan memberi sinyal kepada burung betinanya bahwa burung jantan tersebut sehat dan memiliki gen berkualitas tinggi sehingga meningkatkan peluangnya untuk kawin. Selama musim kawin, sikatan belang betina dapat bertelur sebanyak 3 hingga 5 butir dan telur tersebut akan menetas setelah dierami selama 12 hingga 14 hari.

3. Berperan sebagai pengendali hama alami

potret burung sikatan belang yang difoto di kawasan hutan Gunung Gede, Jawa Barat
potret burung sikatan belang yang difoto di kawasan hutan Gunung Gede, Jawa Barat (commons.wikimedia.org/Lip Kee)

Burung sikatan belang ini memiliki peran penting di alam sebagai sebagai salah satu pengendali hama alami karena ia memangsa serangga atau yang dikenal dengan nama insectivorous bird. Burung sikatan belang memangsa invertebrata kecil, lalat, kumbang, kepik, laba-laba dan ulat. Ia seringkali menangkap mangsanya di udara dari posisi bertengger.

Menurut laman Science Direct, melalui aktivitas mencari makanan, burung pemangsa serangga seperti sikatan belang ini langsung mengelola dan menjaga populasi hama serangga seperti lalat, kepik dan ular agar tidak meledak yang bisa menyebabkan ekosistem hutan menjadi terganggu. Ketidakhadiran burung sikatan belang di hutan yang menjadi habitatnya bisa menjadi "alarm" bahaya bagi keseimbangan ekosistem hutan tersebut.

4. Status konservasi

foto burung sikatan belang yang difoto di salah satu kawasan hutan di Jawa Barat, Indonesia
foto burung sikatan belang yang difoto di salah satu kawasan hutan di Jawa Barat, Indonesia (commons.wikimedia.org/JJ Harrison)

Menurut laman IUCN (International Union for Conservation of Nature) Red List, asesmen terakhir yang dilakukan pada tahun 2024 lalu mengklasifikasikan burung sikatan belang ini ke dalam status Least Concern yang artinya populasinya di alam masih cukup banyak dan tak sedang terancam untuk punah.

Meski status konservasinya adalah Least Concern namun terdapat kecenderungan populasinya mulai menurun di sejumlah tempat karena aktivitas manusia seperti perburuan dan perdagangan burung, perubahan area hutan untuk dijadikan lahan pertanian atau tempat tinggal yang menyebabkan habitatnya makin sempit. Perubahan iklim terutama perubahan suhu juga dapat merusak habitat alaminya dan mempersempit wilayah jelajahnya.

Burung sikatan belang bukan hanya sekedar burung yang indah dilihat namun keberadaannya di alam juga menjadi salah satu penanda sehatnya sebuah ekosistem hutan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More