Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Burung Pelatuk Unik Asli Indonesia, Punya Jambul Merah
pelatuk punggung jingga (inaturalist.org/briancasatelli)
  • Lima spesies pelatuk unik asli Indonesia diperkenalkan, masing-masing memiliki ciri khas seperti ukuran tubuh mungil, warna mencolok, hingga habitat di hutan lebat dan pegunungan.
  • Beberapa di antaranya adalah pelatuk kerdil sunda, pelatuk besi berjambul merah, pelatuk punggung jingga, pelatuk emas jawa yang langka, serta tukis tikus berukuran sangat kecil.
  • Artikel menekankan pentingnya menjaga kelestarian burung-burung ini dengan tidak merusak habitat alami dan memperkuat kerja sama antara masyarakat serta pihak berwenang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Secara umum, penyebutan woodpecker atau pelatuk merujuk pada burung yang berasal dari famili Picidae. Keunikan pelatuk tercermin dari paruhnya yang kuat dan kebiasaannya melubangi atau "melatuk" kayu dalam rangka mencari makanan. Penyebaran pelatuk tak terbatas di Eropa atau Amerika. Justru, ada beberapa spesies pelatuk unik asli Indonesia, lho.

Salah satunya adalah pelatuk kerdil sunda yang punya badan mungil. Pelatuk emas jawa dengan warna mencolok juga bisa ditemukan di Tanah Air. Selain itu, spesies bernama tukis tikus yang berwarna kuning juga hidup di hutan Indonesia. Apa saja keunikan dari tiap spesies tersebut? Berikut pembahasannya.

1. Pelatuk kerdil sunda punya badan berukuran kecil

pelatuk kerdil sunda (inaturalist.org/Sam Hambly)

Yungipicus moluccensis atau pelatuk kerdil sunda sangat jauh dari bayangan burung pelatuk di benak banyak orang. Ia tidak punya paruh atau leher panjang. Sebaliknya, kepalanya membulat, paruhnya pendek, dan tubuhnya berwarna cokelat. Dilansir Thai National Parks, burung ini punya panjang tubuh sekitar 13 centimeter. Penyebarannya sendiri mencakup wilayah Thailand, Singapura, Malaysia, Brunei, dan Indonesia. Ia punya warna cokelat, abu-abu, dan sering terlihat di hutan, pepohonan, hingga dataran tinggi.

2. Pelatuk besi punya jambul berwarna merah

pelatuk besi (commons.wikimedia.org/Chainfoto)

Spesies ini memiliki warna yang cukup mencolok, yaitu sayap emas, badan putih, corak tutul hitam, dan jambul merah yang menawan. Tak hanya mencolok, pelatuk besi (Dinopium javanense) juga merupakan hewan yang tidak terlalu vokal walau sebenarnya ia mampu mengeluarkan berbagai jenis suara. Selain itu, ia juga jarang melatuk dan lebih sering bertengger atau beraktivitas di atas tanah.

Dilansir BirdLife DataZone, pelatuk besi bisa ditemuka di wilayah Asia Tenggara kecuali Filipina dan Timor Leste. Menariknya, ada satu populasi kecil di pesisir barat India. Ia memang bukan hewan terancam punah, tetapi populasinya mulai menurun akibat kerusakan habitat. Spesies ini juga tidakk terlalu aktif, bahkan ia tak memiliki ritual khusus saat hendak kawin.

3. Pelatuk punggung jingga hidup di hutan lebat

pelatuk punggung jingga (inaturalist.org/Лариса Артемьева)

Dilansir Avibase, Chrysocolaptes validus atau pelatuk punggung jingga merupakan spesialis hutan. Ia hanya hidup di hutan lebat, khususnya di puncak pohon yang tinggi. Warna cokelat dan jingganya juga membantu spesies ini untuk berkamuflase di semak-semak kering atau batang kayu. Soal penyebaran, pelatuk punggung jingga bisa dijumpai di Malaysia, Pulau Sumatra, Kalimantan, dan Jawa. Ia dibagi menjadi dua subspesies, yaitu Chrysocolaptes validus validus dan Chrysocolaptes validus xanthopygius.

4. Pelatuk emas jawa hanya ditemukan di dua daerah

pelatuk emas jawa (commons.wikimedia.org/Forest Botial-Jarvis)

Sangat sedikit yang diketahui terkait pelatuk emas jawa (Chrysocolaptes strictus). Tak ada yang tahu pasti mengenai kebiasaan, makanan, cara hidup, sistem reproduksi, populasi, hingga habitat favoritnya. Secara ilmiah, hanya ada dua hal yang diketahui tentang hewan ini. Pertama, laman iNaturalist menerangkan kalau pelatuk emas jawa hanya bisa ditemukan di dua daerah, yaitu Pulau Jawa dan Kepulauan Kangean. Terkadang, ia juga dianggap sebagai subspesies dari pelatuk tunggir-emas (Chrysocolaptes guttacristatus) karena ciri fisik keduanya yang identik.

5. Tukis tikus merupakan salah satu pelatuk terkecil

tukis tikus (commons.wikimedia.org/Michael Gillam)

Tukis tikus (Sasia abnormis) adalah spesies yang hidup di pegunungan dan merupakan salah satu spesies pelatuk terkecil di dunia. Laman Animalia menerangkan kalau panjang burung ini sekitar 8-10 centimeter dan bobot maksimalnya hanya 9,2 gram. Badannya juga mungil, paruhnya pendek, dan ia punya perpaduan kuning, merah, jingga, serta hitam.

Tukis tikus menghuni beberapa negara, yaitu Myanmar, Malaysia, Thailand, Brunei, dan Indonesia. Habitat alaminya mencakup dataran tinggi hingga hutan pengunungan dengan ketinggian 1,600 meter di atas permukaan laut. Tukis tikus juga sangat aktif dan akan selalu terbang kesana kemari. Menariknya, ia hanya bisa terbang pendek dengan ketinggian yang tak lebih dari 5 meter.

Itulah beberapa spesies pelatuk unik asli Indonesia yang secara tak langsung mengharumkan nama bangsa. Mereka hidup di hutan dan pepohonan yang jauh dari jangkauan manusia. Namun, kita harus menjaga eksistensi mereka, caranya dengan tidak memburu atau merusak habitat alaminya. Kerja sama antara masyarakat dan pihak berwajib juga harus dijalin agar eksistensi pelatuk terus terjaga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team