Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Hunters Moon, Fenomena Langit Oktober yang Memesona
Ilustrasi Hunter's Moon. (pexels.com/Philipp Deus)
  • Hunter’s Moon akan terjadi pada 26 Oktober 2026, dikenal dari tradisi agraris Eropa dan Amerika sebagai purnama setelah Harvest Moon yang membantu pemburu pascapanen.
  • Saat fenomena ini, bulan terbit sekitar 30 menit lebih lambat tiap malam, bukan 50 menit, sehingga cahaya alami hadir lebih awal meski ukuran dan kecerahannya tetap normal.
  • Bulan tampak kuning-oranye dekat ufuk timur akibat atmosfer, serta terlihat lebih besar karena Ilusi Bulan; pengamatan tak memerlukan alat khusus dan membutuhkan pandangan terbuka.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bulan Oktober 2026 menghadirkan pemandangan langit malam yang memikat melalui fenomena Hunter's Moon. Bulan purnama pada 26 Oktober ini memiliki daya tarik visual khas dibanding purnama biasa. Banyak pengamat menantikan kemunculannya karena membuat suasana malam terasa lebih terang.

Fenomena ini istimewa karena bulan terbit lebih cepat dan memancarkan warna jingga keemasan di cakrawala. Ukurannya juga tampak lebih besar, lho. Fenomena langit ini sangat cocok dinikmati bersama atau diabadikan lewat kamera.

Yuk, simak artikel ini untuk mengetahui fakta menarik dan cara terbaik menikmati keindahan Hunter's Moon!

1. Nama hunter's moon berasal dari tradisi masyarakat petani dan pemburu kuno di eropa dan amerika setelah masa panen berakhir

Ilustrasi Hunter's Moon. (pexels.com/Ivan Tanchev)

Dilansir UNESA, nama "Hunter's Moon" mengacu pada bulan purnama yang muncul tepat setelah fenomena Harvest Moon. Pada tradisi agraris di Eropa dan Amerika, waktu ini menjadi penanda penting setelah musim panen selesai. Purnama pada bulan Oktober ini pun akhirnya resmi dikenal dengan sebutan Hunter's Moon.

Setelah ladang selesai dipanen, para pemburu mulai memanfaatkan momen ini untuk mencari hewan liar yang keluar dari persembunyiannya. Cahaya bulan yang sangat terang di malam hari membantu aktivitas berburu dengan jauh lebih mudah. Oleh karena itu, sinar terang bulan purnama ini sangat bermanfaat dan diandalkan oleh para pemburu.

2. Jeda waktu terbit lebih singkat

Ilustrasi Hunter's Moon. (pexels.com/Robert So)

Dilansir Universe Today, bulan biasanya terbit lebih lambat sekitar 50 menit pada malam berikutnya. Namun, aturan tersebut tidak berlaku saat fenomena Hunter's Moon tiba. Pada momen ini, bulan terbit hanya terlambat 30 menit, sehingga kemunculannya amat dekat setelah matahari terbenam.

Jeda waktu yang singkat ini dipicu oleh sudut orbit bulan terhadap garis cakrawala yang relatif lebih sempit. Dampaknya, suasana malam terasa terang lebih lama karena pencahayaan alami datang lebih awal. Meskipun begitu, ukuran maupun tingkat kecerahannya sebenarnya sama saja seperti bulan purnama pada umumnya.

3. Berwarna kuning keemasan

Ilustrasi Hunter's Moon. (pexels.com/Soly Moses)

Dilansir Space, Hunter's Moon akan muncul di langit sebelah timur tepat sewaktu matahari terbenam pada 25 Oktober. Saat baru terbit rendah di garis cakrawala, piringan bulan kerap memancarkan warna kuning-oranye yang amat lembut. Perubahan warna ini terjadi akibat pantulan sinar matahari yang melewati lapisan atmosfer tebal di dekat cakrawala.

Lapisan atmosfer yang padat tersebut secara alami menyebarkan gelombang cahaya biru milik sinar matahari. Akibat hamburan cahaya itu, hanya sisa gelombang warna hangat yang akhirnya sampai ke mata kita. Proses fisika sederhana inilah yang membuat tampilan bulan terasa begitu memikat dengan rona keemasannya.

4. Ukuran bulan tampak lebih besar, tapi sebenarnya sama

Ilustrasi Hunter's Moon. (pexels.com/JOHN CALLERY)

Space juga mengatakan bahwa sewaktu terbit, piringan bulan sering kali terlihat sangat besar dibandingkan biasanya. Padahal secara ukuran astronomis, ukurannya sama persis seperti saat berada tinggi tepat di atas kepala kita. Fenomena trik penglihatan unik yang kerap mengecoh mata ini dikenal dengan istilah Ilusi Bulan.

Otak kita pada dasarnya menipu persepsi diri saat melihat bulan berada sangat dekat dengan garis cakrawala. Kehadiran objek di latar depan seperti pepohonan atau bangunan membuat ukuran bulan terasa jauh lebih besar. Jadi, tampilan megah tersebut murni merupakan hasil dari permainan visual otak manusia semata.

5. Saksikan pada 26 Oktober 2026 tanpa peralatan khusus!

Ilustrasi Hunter's Moon. (unsplash.com/Ahmad Pishnamazi)

Dilansir Mountain Top University, mengamati fenomena Hunter's Moon sebenarnya sangat praktis dan tidak membutuhkan peralatan khusus sama sekali. Kamu bisa memeriksa jadwal terbit bulan di lokasimu lewat situs web atau aplikasi agar tidak ketinggalan momennya. Selain itu, pastikan memilih lokasi yang punya pemandangan terbuka ke arah ufuk timur tanpa terhalang bangunan.

Sebaiknya beri waktu sekitar 20 hingga 30 menit supaya matamu bisa beradaptasi dengan kondisi gelap malam. Usahakan juga untuk mengurangi melihat layar HP yang terang agar penglihatan malammu tetap terjaga dengan baik. Memahami arah dan waktu terbitnya bulan bakal membuat pengalaman menyaksikan pemandangan indah ini jadi makin maksimal.

Fenomena Hunter's Moon 2026 menjadi momen langka yang sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Waktu terbitnya yang lebih awal serta keindahan warna dan ukurannya membuat malam hari terasa jauh lebih spesial. Jadi, pastikan kamu meluangkan waktu sejenak di luar rumah untuk menikmati fenomena langit yang indah ini bersama orang-orang terdekat!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article