Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Punakha Dzong, Benteng Biara di Bhutan yang Dibangun Tanpa Paku
Punakha Dzong (commons.wikimedia.org/Bernard Gagnon)
  • Punakha Dzong berdiri di pertemuan Sungai Pho Chhu dan Mo Chhu di Lembah Punakha, memadukan arsitektur Bhutan bercat putih dengan lanskap pegunungan.
  • Pada abad ke-17, benteng-biara ini menggagalkan serangan Tibet pada 1639 dan 1644; tangga kayu menuju pintu masuk dilepas untuk menghambat musuh.
  • Punakha Dzong tetap penting bagi monarki dan agama Bhutan: dibangun tanpa paku atau cetak biru, serta menjadi markas musim dingin Je Khenpo dan ribuan biksu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bicara tentang Bhutan, pikiran kita mungkin langsung tertuju pada pegunungan Himalaya dan budayanya yang masih sangat terjaga. Di antara banyak bangunan bersejarah di negara ini, Punakha Dzong menjadi salah satu yang paling terkenal. Bangunan yang berfungsi sebagai benteng sekaligus biara ini tidak hanya memiliki arsitektur yang khas, tetapi juga menyimpan banyak cerita menarik.

Sebagai salah satu benteng-biara tertua dan terpenting di Bhutan, Punakha Dzong memiliki peran besar dalam sejarah, budaya, dan kehidupan keagamaan masyarakat setempat. Bangunan ini juga menyimpan berbagai fakta menarik yang mungkin belum banyak diketahui. Yuk, simak 5 fakta menarik Punakha Dzong berikut ini!

1. Dibangun di pertemuan dua sungai

Punakha Dzong berdiri di pertemuan dua sungai (unsplash.com/Pema Gyamtsho)

Salah satu keunikan Punakha Dzong terletak pada lokasinya yang berdiri tepat di pertemuan Sungai Pho Chhu dan Sungai Mo Chhu di Lembah Punakha. Dalam bahasa setempat, Pho Chhu berarti "Sungai Jantan", sedangkan Mo Chhu berarti "Sungai Betina". Kedua sungai yang berhulu di kawasan pegunungan ini bertemu di depan bangunan sebelum menyatu menjadi Sungai Puna Tsang Chhu.

Lokasi tersebut tidak hanya membuat Punakha Dzong tampak megah, tetapi juga menghadirkan panorama alam yang indah. Bangunan bercat putih dengan sentuhan kayu khas Bhutan tampak menyatu dengan aliran sungai dan lanskap pegunungan di sekitarnya. Pemandangan inilah yang membuat Punakha Dzong dikenal sebagai salah satu benteng-biara paling indah di Bhutan.

2. Pernah menjadi benteng perang melawan Tibet

Punakha Dzong pernah menjadi benteng pertahanan Bhutan (commons.wikimedia.org/Afifa Afrin)

Pada abad ke-17, Punakha Dzong memiliki peran penting sebagai benteng pertahanan Bhutan saat menghadapi serangan dari pasukan Tibet. Tercatat, benteng ini diserbu pada tahun 1639 dan 1644, tetapi kedua upaya invasi tersebut berhasil digagalkan. Keberhasilan itu menjadikan Punakha Dzong sebagai salah satu simbol pertahanan penting dalam sejarah Bhutan.

Saat terjadi perang, benteng ini dimanfaatkan untuk memperkuat pertahanan wilayah. Salah satu strategi yang digunakan adalah melepas tangga kayu menuju pintu masuk sehingga musuh lebih sulit memasuki kompleks benteng. Berkat fungsi pertahanannya yang efektif, Punakha Dzong ikut berperan dalam mempertahankan wilayah Bhutan dari serangan pasukan Tibet pada masa itu.

3. Masih menjadi tempat upacara penting kerajaan

Punakha Dzong masih menjadi lokasi berbagai upacara penting Kerajaan Bhutan (flickr.com/Gelay Jamtsho)

Meskipun ibu kota Bhutan telah dipindahkan ke Thimphu, Punakha Dzong tetap memegang peran penting bagi monarki Bhutan hingga saat ini. Bangunan bersejarah ini menjadi lokasi penobatan Raja Pertama Bhutan dan masih digunakan sebagai tempat penyelenggaraan berbagai upacara kenegaraan maupun keagamaan yang memiliki makna besar bagi negara.

Salah satu peristiwa penting yang berlangsung di Punakha Dzong adalah pernikahan Raja Jigme Khesar Namgyel Wangchuck dengan Ratu Jetsun Pema pada tahun 2011. Peristiwa tersebut semakin menegaskan kedudukan Punakha Dzong sebagai salah satu simbol penting monarki sekaligus bangunan bersejarah yang masih memiliki peran besar dalam kehidupan masyarakat Bhutan hingga sekarang.

4. Dibangun tanpa paku dan cetak biru

Punakha Dzong dibangun dengan teknik sambungan kayu tradisional (commons.wikimedia.org/Bernard Gagnon)

Salah satu keunikan Punakha Dzong adalah proses pembangunannya yang tidak menggunakan paku, sekrup, maupun cetak biru (blueprint) seperti bangunan modern. Para pengrajin memanfaatkan sambungan kayu tradisional yang dibuat dengan sangat presisi, sehingga setiap balok dan tiang dapat saling mengunci dengan kuat. Seluruh proses pembangunannya mengandalkan keterampilan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Teknik tersebut membuat struktur bangunan tetap kokoh meski telah berdiri selama berabad-abad. Sambungan kayu yang saling mengunci juga memberikan kelenturan pada bangunan sehingga mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan kondisi alam, termasuk saat terjadi gempa bumi. Keahlian para pengrajin inilah yang membuat Punakha Dzong tetap bertahan dan menjadi salah satu contoh terbaik arsitektur tradisional Bhutan hingga sekarang.

5. Menjadi markas musim dingin para biksu

Punakha Dzong menjadi markas musim dingin bagi para biksu (flickr.com/Donatella Venturi)

Selain dikenal sebagai bangunan bersejarah, Punakha Dzong juga masih berfungsi sebagai markas musim dingin bagi Zhung Dratshang (Central Monastic Body), lembaga keagamaan utama di Bhutan. Setiap tahun, Je Khenpo (pemimpin tertinggi agama Buddha di Bhutan) bersama ribuan biksu berpindah dari Tashichho Dzong di Thimphu ke Punakha Dzong untuk menjalani musim dingin.

Perpindahan ini dilakukan karena Punakha memiliki iklim yang lebih hangat dibandingkan Thimphu saat musim dingin. Tradisi yang dikenal sebagai Rabney ini telah berlangsung sejak abad ke-17 dan masih terus dijalankan hingga sekarang. Keberlangsungannya menunjukkan bahwa Punakha Dzong tetap menjadi bagian penting dalam menjaga tradisi keagamaan di Bhutan.

Punakha Dzong bukan hanya menjadi saksi perjalanan panjang sejarah Bhutan, tetapi juga tetap memegang peran penting dalam kehidupan kerajaan dan keagamaan hingga saat ini. Keunikan lokasi, sejarah, serta tradisi yang masih terus dipertahankan membuat bangunan ini menjadi salah satu warisan budaya paling berharga di Bhutan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article