5 Fakta Ribbon Tailed Astrapia, Burung Ekor Panjang dari Papua Nugini

- Ribbon-tailed astrapia adalah cenderawasih endemik pegunungan Papua Nugini; jantannya memiliki dua bulu ekor putih berbentuk pita hingga tiga kali panjang tubuh.
- Bulu spesies ini menampilkan iridesensi, sehingga warna gelap dapat berubah hijau, biru, atau berkilau lain tergantung sudut cahaya dan posisi burung.
- Dalam sistem poligini, jantan memamerkan ekor di lek untuk menarik betina, sementara betina sendiri membangun sarang, mengerami telur 21 hari, dan mengasuh anak.
Ribbon-tailed astrapia merupakan salah satu burung cenderawasih yang hidup di pegunungan Papua Nugini. Burung bernama ilmiah Astrapia mayeri ini dikenal karena penampilannya yang sangat mencolok, terutama pada individu jantan. Di antara berbagai jenis cenderawasih, spesies ini termasuk yang paling mudah dikenali berkat hiasan ekornya yang panjang.
Keunikan tersebut membuat Ribbon-tailed astrapia sering dianggap sebagai salah satu burung paling spektakuler di dunia. Selain memiliki penampilan yang tidak biasa, spesies ini juga memperlihatkan perilaku kawin yang menarik serta hidup di habitat pegunungan yang relatif terpencil. Berikut lima fakta menarik tentang Ribbon-tailed astrapia yang membuatnya begitu istimewa.
1. Memiliki ekor yang lebih panjang daripada tubuhnya

Ribbon-tailed astrapia mendapatkan namanya dari sepasang bulu ekor putih berbentuk pita yang dimiliki burung jantan dewasa. Panjang bulu tersebut dapat mencapai sekitar tiga kali panjang tubuhnya. Kondisi ini menjadikannya salah satu burung dengan rasio panjang ekor terhadap ukuran tubuh paling ekstrem di dunia.
Dilansir dari Australian Museum, panjang tubuh jantan sekitar 125 sentimeter jika dihitung bersama bulu ekornya, sedangkan betina hanya sekitar 35 sentimeter. Perbedaan ukuran tersebut membuat ekor panjang menjadi ciri yang sangat menonjol pada burung jantan. Bulu ekor itu juga menjadi salah satu elemen penting dalam penampilan spesies ini.
2. Warna tubuhnya berubah sesuai arah cahaya

Menurut Cornell Lab of Ornithology, Ribbon-tailed astrapia memiliki bulu berkilau yang dapat tampak berbeda tergantung sudut cahaya. Warna yang semula terlihat gelap dapat berubah menjadi hijau, biru, atau warna berkilau lainnya ketika cahaya mengenai struktur mikroskopis pada bulu. Fenomena ini dikenal sebagai iridesensi.
Iriidesensi terjadi karena struktur bulu memantulkan warna tertentu dan menghilangkan warna lainnya. Akibatnya, warna tubuh burung dapat berubah secara dramatis hanya karena perubahan posisi atau pencahayaan. Efek tersebut membuat penampilan burung ini terlihat sangat mencolok saat bergerak.
3. Hidup di hutan pegunungan Papua Nugini

Ribbon-tailed astrapia merupakan spesies endemik Papua Nugini. Burung ini menghuni hutan dataran tinggi, termasuk hutan berlumut dan kawasan subalpin pada ketinggian sekitar 1.800 hingga 3.450 meter di atas permukaan laut. Namun, sebagian besar populasinya ditemukan pada wilayah yang berada di atas 2.450 meter.
Dilansir dari Australian Museum, persebarannya mencakup sejumlah daerah pegunungan seperti Mount Hagen, Mount Giluwe, Enga Highlands, hingga kawasan sekitar Sungai Strickland. Habitat pegunungan yang relatif sulit dijangkau membuat sebagian wilayah persebarannya masih minim gangguan manusia. Lingkungan tersebut menyediakan sumber makanan dan lokasi berkembang biak yang sesuai bagi spesies ini.
4. Jantan melakukan pertunjukan kawin di lokasi tertentu

Menurut Australian Museum, Ribbon-tailed astrapia memiliki sistem perkawinan poligini, yang biasanya terjadi pada bulan Juni, Agustus, dan Desember. Burung jantan akan menampilkan pertunjukan untuk menarik perhatian betina. Pertunjukan tersebut biasanya dilakukan pada lokasi tertentu yang digunakan berulang kali.
Australian Museum menjelaskan bahwa jantan membentuk lek, yaitu kelompok tempat beberapa individu jantan memamerkan diri secara bersamaan. Mereka bergerak dari satu cabang ke cabang lain sambil memperlihatkan bulu ekor panjang yang melengkung. Perilaku ini menjadi bagian penting dalam proses pemilihan pasangan oleh betina.
5. Betina membesarkan anak tanpa bantuan jantan

Menurut Australian Museum, setelah proses perkawinan selesai, betina bertanggung jawab penuh terhadap pembangunan sarang dan pengasuhan anak. Sarang sering dibangun kembali pada lokasi yang sama dari waktu ke waktu. Masa pengeraman telur berlangsung sekitar 21 hari.
Anak burung akan berada di sarang selama sekitar 25 hingga 29 hari sebelum meninggalkannya. Seluruh proses tersebut ditangani oleh betina tanpa keterlibatan jantan. Sementara itu, jantan lebih banyak berfokus pada aktivitas mencari pasangan melalui pertunjukan kawin.
Ribbon-tailed astrapia menunjukkan bagaimana evolusi dapat menghasilkan bentuk dan perilaku yang sangat unik pada spesies burung. Ekor panjang yang luar biasa, warna bulu yang berubah mengikuti cahaya, hingga perilaku kawin yang kompleks menjadikan spesies ini salah satu cenderawasih paling menarik untuk dipelajari. Keberadaannya juga memperlihatkan kekayaan keanekaragaman hayati yang dimiliki kawasan pegunungan Papua Nugini.













![[QUIZ] Dari Jenis Lapisan Bumi yang Kamu Pilih, Ini Cara Kamu Menjaga Diri](https://image.idntimes.com/post/20250325/13374401-jgfm-ysyy-210214-2-2-097bb1575dfbb9113f53dc51ed222913-df58ad69c6b697331651bf8586f1a988.jpg)







