ilustrasi ikan terkena sampah plastik (pexels.com/Nataliya)
Dilansir World Economic Forum, partikel-partikel kecil dari mikroplastik seringkali melewati sistem penyaringan air, dan kemudian kita bisa saja menelannya tanpa sadar. Saking kecilnya, mikroplastik tersebut dapat terbawa di atmosfer, menyebar ke pelosok bumi yang paling terpencil sekalipun.
Di lautan, partikel mikroplastik dapat dimakan oleh ikan-ikan dan makhluk lain, mulai dari ikan yang paling kecil hingga paling besar, bahkan kerang pun berisiko memakan partikel tersebut. Adanya sebuah studi di negara bagian Oregon, Amerika Serikat, menemukan bahwa mikroplastik dalam 98,9% sampel makanan laut, sementara di tahun 2022 ditemukan mikroplastik yang telah terurai dalam kerang biru di lepas pantai Australia.
Artinya, hewan-hewan laut tadi membawa mikroplastik di dalam tubuh mereka. Ketika ikan atau kerang itu dimakan oleh manusia, maka otomatis mikroplastik pun ikut tertelan. Proses ini disebut 'transfer trofik' mikroplastik. Karena satu hewan memakan hewan lain, maka mikroplastik dapat berpindah melalui rantai makanan.
Tidak hanya mengancam makhluk hidup di laut, keberadaan mikroplastik juga menghantui bahan makanan yang biasa kita konsumsi sehari-hari. Mikroplastik telah ditemukan dalam bahan makanan termasuk madu, teh, gula, bahkan buah dan sayuran.
Menurut studi Universitas Cardiff, mikroplastik berpotensi masuk ke lahan pertanian melalui lumpur limbah yang digunakan sebagai pupuk. Sebagian besar dari ini kemudian akan berakhir di saluran air sebagai akibat dari limpasan dari lapisan tanah bagian atas.
Dilansir wasserdreinull.de, terdapat tiga jalur utama masuknya mikroplastik ke dalam makanan manusia, antara lain:
Kontaminasi lingkungan pada makanan segar
Makanan yang dianggap sudah bersih pun tak lepas dari bayang-bayang mikroplastik. Terdapat sebuah studi di Italia yang menemukan antara 52.050 dan 233.000 partikel mikroplastik per gram dalam buah dan sayuran, yang mana buah apel dan wortel menunjukkan nilai kontaminasi tertinggi.
Para peneliti Turki ini melakkan penelitian terhadap buah dan sayur yang paling banyak dikonsumsi pada tahun 2023, hasilnya terdapat 2,9 partikel per gram. Artinya, tanaman mampu menyerap mikroplastik melalui sistem akar dan mengangkut ke batang, daun, biji, dan berakhir pada buah atau sayur yang kita makan.
Kontaminasi melalui proses pengolahan
Analisis sistematis terhadap 103 studi pada tahun 2025 mengkonfirmasi bahwa makanan ultra-olahan mengandung partikel mikroplastik lebih banyak daripada produk yang diproses minimal. Hal ini karena jumlah tahapan pemrosesan yang lebih tinggi meningkatkan waktu kontak dengan komponen peralatan yang mengandung plastik dalam proses produksi.
Kontaminasi dari pelatan masak rumah tangga
Dapur yang biasa kita gunakan untuk masak kemungkinan juga menyumbang mikroplastik dalam makanan. Di mana peralatan masak plastik dapat menyumbangkan ribuan partikel mikroplastik per tahun ke makanan rumahan. Khususnya peralatan masak plastik yang jauh lebih banyak melepaskan partikel, gelas sekali pakai yang berisi air panas, bahkan teko plastik pun mampu melepaskan 6-8 juta partikel mikroplastik per cangkir.