Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Bencana yang Perlu Diwaspadai saat Naik Gunung, Wajib Hati-hati!
ilustrasi mendaki gunung (pexels.com/Bisesh Gurung)
  • Tragedi longsoran salju di Broad Peak, Pakistan, menegaskan pentingnya memahami risiko alam dan menyiapkan fisik serta perlengkapan sebelum mendaki.
  • Cuaca ekstrem dapat memicu hipotermia; hujan deras juga meningkatkan risiko longsor, guguran batu, dan banjir bandang, terutama di lereng, tebing, lembah, serta dekat sungai.
  • Petir mengancam di puncak atau jalur terbuka, sedangkan gempa dapat memicu longsor; pendaki perlu menjauhi area rawan dan mencari jalur aman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mendaki gunung menjadi aktivitas yang digemari banyak orang karena menawarkan pemandangan alam yang indah sekaligus tantangan untuk menaklukkan medan yang tidak mudah. Namun, di balik keindahannya, kawasan pegunungan juga menyimpan berbagai potensi bencana yang dapat mengancam keselamatan jiwa. Risiko tersebut bisa muncul akibat perubahan cuaca, kondisi medan, maupun faktor alam lainnya yang sulit diprediksi.

Hal ini kembali menjadi sorotan setelah tragedi avalanche atau longsoran salju di Broad Peak, Pakistan, yang menimbulkan korban dalam ekspedisi pendakian. Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa memahami potensi bahaya di gunung sama pentingnya dengan mempersiapkan fisik dan perlengkapan sebelum mendaki. Lalu, bencana alam apa saja yang perlu diwaspadai saat berada di kawasan pegunungan? Yuk, simak daftarnya di bawah ini!

1. Cuaca ekstrem dan hipotermia

ilustrasi hipotermia (pexels.com/Rois Martin)

Salah satu bahaya yang paling sering dihadapi pendaki adalah cuaca ekstrem yang dapat berubah dalam waktu singkat. Hujan, angin kencang, dan suhu yang turun drastis membuat tubuh kehilangan panas lebih cepat, terutama jika pakaian dalam keadaan basah. Dilansir Centers for Disease Control and Prevention (CDC), kondisi tersebut dapat memicu hipotermia, yaitu ketika suhu tubuh turun di bawah batas normal sehingga organ tubuh tidak dapat bekerja dengan baik.

Hipotermia tidak hanya terjadi saat cuaca bersalju, tetapi juga dapat dialami ketika seseorang berada di lingkungan yang dingin dan basah dalam waktu lama. Gejalanya meliputi menggigil hebat, kebingungan, tubuh terasa lemah, hingga kesulitan berbicara. Oleh karena itu, pendaki perlu mengenakan pakaian yang sesuai, menjaga tubuh tetap kering, dan segera mencari perlindungan jika cuaca mulai memburuk.

2. Longsor dan guguran batu

ilustrasi longsoran salju (pexels.com/Jean-Paul Wettstein)

Longsor dan guguran batu menjadi salah satu ancaman yang perlu diwaspadai saat mendaki gunung, terutama di jalur yang memiliki lereng curam atau tebing. Mengutip dari United States Geological Survey (USGS), longsor merupakan pergerakan tanah, batuan, atau material lainnya menuruni lereng yang dapat dipicu oleh hujan lebat, gempa bumi, maupun kondisi lereng yang tidak stabil. Sementara itu, guguran batu terjadi ketika batuan terlepas dari tebing lalu jatuh dengan cepat ke bawah.

Peristiwa ini dapat terjadi secara tiba-tiba sehingga berisiko membahayakan pendaki yang berada di bawahnya. Risiko biasanya meningkat setelah hujan deras karena tanah menjadi lebih labil dan batuan lebih mudah bergeser. Itulah kenapa pendaki harus tetap waspada saat melintasi jalur berbatu atau berada di dekat tebing, terutama ketika cuaca sedang buruk.

3. Banjir bandang

ilustrasi banjir (pexels.com/Engin Akyurt)

Banjir bandang juga menjadi salah satu bencana yang perlu diwaspadai saat mendaki gunung, terutama ketika hujan deras mengguyur kawasan hulu. Dilansir National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), banjir bandang dapat terjadi hanya dalam hitungan menit hingga beberapa jam setelah hujan lebat. Aliran air yang deras tidak hanya membawa air, tetapi juga lumpur, bebatuan, dan batang pohon yang dapat menyapu apa pun di jalurnya.

Sementara itu, Federal Emergency Management Agency (FEMA) menjelaskan bahwa banjir bandang sering terjadi tanpa banyak waktu untuk memberikan peringatan, sehingga sangat berbahaya bagi siapa pun yang berada di lembah, sungai, atau jalur pendakian. Risiko akan semakin tinggi apabila pendaki tetap melanjutkan perjalanan saat hujan deras berlangsung. Jadi, penting untuk selalu memantau prakiraan cuaca dan menghindari jalur yang berada di dekat aliran sungai ketika hujan turun.

4. Sambaran petir

ilustrasi petir (unsplash.com/Breno Machado)

Sambaran petir merupakan salah satu bahaya yang sering mengancam pendaki, terutama saat berada di puncak atau jalur yang terbuka. Menurut NOAA, petir dapat menyambar hingga beberapa kilometer dari pusat badai, sehingga tetap berbahaya meski hujan belum turun di lokasi pendaki. Risiko akan semakin tinggi ketika seseorang berada di tempat yang lebih tinggi dibandingkan area di sekitarnya.

Oleh sebab itu, pendaki sebaiknya segera turun dari puncak atau punggungan gunung jika mulai terdengar suara guntur atau terlihat kilat. Mencari perlindungan di bangunan yang kokoh merupakan pilihan paling aman, sementara berteduh di bawah pohon justru tidak disarankan. Memahami tanda-tanda cuaca buruk dapat membantu pendaki mengurangi risiko tersambar petir selama berada di gunung.

5. Gempa bumi

ilustrasi gempa bumi (pexels.com/Mustafa Akin)

Meski tidak selalu terjadi, gempa bumi juga menjadi salah satu bencana yang perlu diwaspadai saat berada di kawasan pegunungan. Berdasarkan laporan USGS, guncangan gempa dapat memicu bahaya lain seperti longsor dan guguran batu di lereng yang curam. Kondisi ini membuat jalur pendakian yang sebelumnya aman dapat berubah menjadi berbahaya dalam waktu singkat.

Pendaki sebaiknya segera menjauhi tebing, lereng yang terjal, maupun area dengan banyak batu besar jika merasakan guncangan gempa. Tetap tenang dan mengikuti jalur evakuasi yang aman juga dapat membantu mengurangi risiko cedera. Memahami potensi bencana susulan menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan keselamatan saat mendaki gunung.

Tragedi longsoran salju di Broad Peak menjadi pengingat bahwa keindahan gunung selalu berdampingan dengan berbagai potensi bahaya alam yang tidak bisa disepelekan. Dengan memahami risiko dan mempersiapkan diri sebaik mungkin, pendaki dapat mengambil keputusan yang lebih aman ketika menghadapi situasi darurat di jalur pendakian. Menurutmu, bencana alam mana yang paling perlu diwaspadai saat mendaki gunung, dan apakah persiapanmu selama ini sudah cukup menghadapinya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article