Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BRIN Ungkap Risiko Lalat, Nyamuk, dan Tikus Pascabencana
ilustrasi bencana alam (pexels.com/Franklin Pena Gutierrez)
  • BRIN mengingatkan bencana dapat menaikkan risiko penyakit tular vektor dan zoonosis akibat perubahan lingkungan, sanitasi terganggu, serta interaksi manusia, hewan, dan lingkungan yang meningkat.
  • Pendekatan One Health mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan melalui surveilans, riset, pertukaran data, kesiapsiagaan, serta kolaborasi lintas sektor berbasis bukti.
  • Wilayah pengungsian berpotensi mengalami peningkatan lalat, nyamuk, dan tikus; BRIN mendorong identifikasi risiko dini agar mitigasi dilakukan sebelum kasus penyakit meningkat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bencana tidak hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga dapat meningkatkan risiko penyakit menular vektor dan zoonosis. Perubahan lingkungan, gangguan sanitasi, terbentuknya habitat vektor, serta meningkatnya interaksi manusia, hewan, dan lingkungan menjadi faktor yang perlu diantisipasi sejak dini.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat peran riset dan kolaborasi lintas sektor melalui penerapan pendekatan One Health.

Ancaman penyakit karena berbagai faktor

Kepala Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Wahyu Pudji Nugraheni, menekankan bahwa ancaman penyakit tular vektor dan zoonosis tidak dapat dilepaskan dari perubahan iklim, perubahan lingkungan, mobilitas penduduk serta kejadian bencana. 

Berbagai kondisi tersebut menurutnya, dapat mengubah ekosistem, sanitasi, distribusi vektor, dan pola interaksi manusia dengan hewan serta lingkungan. Karena itu, penanganan penyakit membutuhkan pendekatan yang terintegrasi.

“Kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari kesehatan hewan dan lingkungan. Sehingga pencegahan dan pengendalian penyakit membutuhkan surveillance, riset, kesiapsiagaan dan kolaborasi lintas sektor,” ujar Wahyu yang dikutip dari situs resmi.

Langkah mitigasi bisa dilakukan secara cepat

Ilustrasi pengungsian (Dok. BNPB)

BRIN memiliki peran strategis dalam menyediakan basis pengetahuan dan riset untuk mendukung kesiapsiagaan kesehatan masyarakat. Hasil penelitian diharapkan tidak berhenti pada publikasi, tetapi dapat menjadi dasar penguatan surveilans, mitigasi, dan respons terhadap ancaman penyakit.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Ristiyanto, memaparkan, studi dinamika penularan tersebut menjadi penting untuk memahami perubahan risiko penyakit setelah bencana. Gangguan sanitasi, perubahan lingkungan, munculnya habitat vektor, dan meningkatnya interaksi manusia, hewan, serta lingkungan dapat menciptakan kondisi yang mendukung penyebaran penyakit.

Dengan mengandalkan data dan riset, potensi risiko dapat diidentifikasi lebih awal sehingga langkah mitigasi dapat dilakukan secara lebih tepat, bukan sekadar menunggu hingga kasus penyakit meningkat.

Peningkatan lalat, nyamuk, dan tikus

Penerapan One Health membutuhkan integrasi antara kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan. Hal ini mencakup integrasi surveilans, pertukaran data, penelitian, serta pengambilan keputusan berbasis bukti. 

Ketua Umum Perkumpulan Entomologi Kesehatan Indonesia (PEKI), Suwito mengatakan bahwa kondisi bencana dan pascabencana dapat memicu peningkatan populasi lalat, nyamuk, dan tikus, terutama di wilayah pengungsian.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko berbagai penyakit. Suwito juga mencontohkan pengendalian vektor secara preventif di kawasan IKN yang menurutnya berkontribusi terhadap pengendalian malaria di kawasan inti pusat pemerintahan. 

“Strategi mitigasi terpadu One Health untuk menghadapi bencana dan zoonosis ini merupakan bagian penting yang perlu kita persiapkan karena potensi untuk bencana maupun wabah di Indonesia juga relatif besar,” jelas Suwito.

Ke depan, BRIN berkomitmen memperkuat riset, diseminasi pengetahuan, dan jejaring kolaborasi untuk mendukung kebijakan kesehatan berbasis bukti. Hasil riset dan inovasi diharapkan berkontribusi pada penguatan surveilans terpadu, kesiapsiagaan bencana, serta pencegahan dan pengendalian penyakit tular vektor dan zoonosis di Indonesia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article