Penerapan One Health membutuhkan integrasi antara kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan. Hal ini mencakup integrasi surveilans, pertukaran data, penelitian, serta pengambilan keputusan berbasis bukti.
Ketua Umum Perkumpulan Entomologi Kesehatan Indonesia (PEKI), Suwito mengatakan bahwa kondisi bencana dan pascabencana dapat memicu peningkatan populasi lalat, nyamuk, dan tikus, terutama di wilayah pengungsian.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko berbagai penyakit. Suwito juga mencontohkan pengendalian vektor secara preventif di kawasan IKN yang menurutnya berkontribusi terhadap pengendalian malaria di kawasan inti pusat pemerintahan.
“Strategi mitigasi terpadu One Health untuk menghadapi bencana dan zoonosis ini merupakan bagian penting yang perlu kita persiapkan karena potensi untuk bencana maupun wabah di Indonesia juga relatif besar,” jelas Suwito.
Ke depan, BRIN berkomitmen memperkuat riset, diseminasi pengetahuan, dan jejaring kolaborasi untuk mendukung kebijakan kesehatan berbasis bukti. Hasil riset dan inovasi diharapkan berkontribusi pada penguatan surveilans terpadu, kesiapsiagaan bencana, serta pencegahan dan pengendalian penyakit tular vektor dan zoonosis di Indonesia.