Chamois (pexels.com/Daniel)
Bulu chamois pada dasarnya terdiri dari dua jenis bulu, yang mampu melindunginya dari kondisi iklim yang keras di lingkungannya. Bulu ini memberikan perlindungan optimal yang memungkinkan chamois untuk menahan fluktuasi suhu ekstrem yang dihadapinya. Lapisan terluar, yang dikenal sebagai bulu permukaan dengan panjang 2-4 cm, biasanya lebih kasar dan dapat memerangkap banyak udara, memberikan isolasi termal untuk tubuh hewan. Lapisan bawahnya atau disebut bulu wol atau bulu primer, sangat halus dan keputihan.
Bulu chamois mengalami dua kali pergantian, satu di musim gugur dan satu di musim semi. Di musim dingin, bulunya panjang, lembut dan lebat, mulai dari cokelat tua hingga kehitaman. Berkat warnanya yang gelap bulu tersebut menyerap sinar matahari dalam jumlah besar, memberikan hewan tersebut sumber kehangatan tambahan. Satu-satunya bagian yang berwarna terang adalah area hidung, daerah perut, dan bercak anus.
Pergantian bulu musim semi dimulai pada bulan Maret dan berlangsung selama lebih dari tiga bulan. Bulu musim dingin berwarna gelap pada chamois kemudian digantikan oleh bulu musim panas, yang ditandai dengan bulu lebih pendek, kasar, dan warna mulai dari kuning pucat hingga abu-abu kemerahan. Pada kedua jenis kelamin, garis tipis bulu gelap mengikuti garis tengah punggung. Bulu ini bertahan hingga akhir Agustus ketika pergantian bulu musim gugur dimulai, yang berlangsung hingga Desember.
Sebagai penutup, chamois bisa dibilang mamalia tangguh yang hidup di tempat ekstrem, mulai dari suhu hingga medan yang tak mudah dilalui bagi mamalia lainnya. Tubuhnya sengaja dirancang khusus untuk melompat di antara tebing-tebing curam. Chamois adalah mamalia yang gemar poligami, dengan pola kawin yang cukup brutal untuk seekor mamalia.