Pendakian puncak gunung selalu berisiko dan berbahaya. Namun, sebenarnya, perubahan iklimlah yang memperburuk tantangan itu hingga memakan banyak korban jiwa. Beberapa orang yang berani mendaki keajaiban alam pasti tahu, deh, kalau panduan perjalanan mereka sudah ketinggalan zaman. Yap, rute yang dulunya aman berubah menjadi rute yang memakan nyawa.
Meningkatnya suhu dan tingginya titik beku hanyalah dua alasan kenapa pendakian gunung menjadi lebih berbahaya. Yap, longsoran batu lebih mungkin terjadi. Lapisan di bawah tanah dan permafrost juga mengalami perubahan. "Es dan salju mencair, dan bebatuan menunggu untuk jatuh. Saya tidak melihat mekanisme yang dapat menghentikan ini dan mengurangi tingkatnya lagi," kata Arnaud Temme, afiliasi dan profesor Institute for Arctic and Alpine Research (INSTAAR), seperti yang dikutip Outside.
Arnaud Temme mempelajari berbagai rute gunung setelah mengalami pengalamannya sendiri saat mendaki pada tahun 2011. "Tujuh dari 63 rute yang saya pelajari sekarang dihapus dari buku panduan, seolah-olah tidak pernah ada, karena terlalu berbahaya akibat longsoran batu," tambah Temme.
Dikutip BBC, baru-baru ini, tepatnya pada akhir Juli 2026, pendaki profesional bernama Nirmal Purja dan tim pendaki lainnya ditemukan tewas akibat diterjang longsoran salju besar (avalanche) di jalur pendakian utama yang sedang mereka lewati. Tim SAR menemukan jasad Nirmal Purja bersama 9 korban lainnya di sekitar ketinggian 5.700 hingga 6.600 meter di puncak Gunung Broad Peak.
Beberapa gunung di dunia memang dianggap sangat berbahaya untuk didaki. Bahkan, tingkat kematiannya setinggi lebih dari 30 persen. Namun, tidak semua gunung punya rintangan masa itu sama. Jika kamu seorang pendaki dan ingin melakukan perjalanan ini, simak dulu yuk, 12 gunung paling berbahaya di dunia untuk pendaki.
