ilustrasi malaria (freepik.com/freepik)
Untuk membedakan apakah kemunculan kembali parasit disebabkan infeksi baru atau kegagalan pengobatan, tim peneliti menganalisis penanda genetik seperti PfPM2 dan PfMDR1. Hasil awalnya menunjukkan sebagian besar parasit masih sensitif secara teoritis terhadap piperakuin. Namun, secara mengejutkan, di lapangan ditemukan beberapa parasit dengan karakteristik tersebut tetap mampu bertahan setelah terapi.
“Temuan ini menunjukkan mekanisme perubahan genetik yang menyebabkan resistensi parasit ternyata lebih kompleks dari yang kita perkirakan. Karena itu, penelitian mendalam masih sangat diperlukan,” imbuh Puji.
Selain memantau perubahan genetik terkait resistensi, BRIN juga meneliti target molekuler baru untuk obat antimalaria generasi mendatang. Salah satu yang menjadi perhatian utamanya adalah apikoplas, organel unik yang hanya dimiliki parasit Plasmodium dan tidak ada pada manusia. Apikoplas berperan penting dalam metabolisme parasit, sehingga sangat potensial sebagai sasaran terapi baru.
Dia mengingatkan penelitian terhadap perubahan genetik parasit malaria tidak boleh berhenti. Pemahaman mendalam tentang perubahan genetik parasit akan menjadi bekal penting untuk menjaga efektivitas terapi yang ada sekaligus mempercepat penemuan obat-obatan baru.
“Parasit akan terus mengalami perubahan genetik. Karena itu, riset harus terus berjalan agar strategi pengobatan kita selalu selangkah lebih maju dan tetap efektif dalam mendukung target eliminasi malaria di Indonesia pada 2030,” jelasnya.