Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Igor Tudor Gagal Total selama Melatih Tottenham?

Kenapa Igor Tudor Gagal Total selama Melatih Tottenham?
ilustrasi bola berlogo Tottenham Hotspur (pixabay.com/VariousPhotography)
Intinya Sih
  • Igor Tudor hanya bertahan 43 hari di Tottenham setelah gagal memperbaiki performa tim yang terpuruk dan hanya meraih satu poin dari lima laga Premier League.
  • Perubahan formasi mendadak ke sistem tiga bek serta penempatan pemain yang tidak sesuai posisi membuat Tottenham kehilangan keseimbangan dan produktivitas permainan.
  • Tudor dinilai kurang pengalaman di Premier League, gagal beradaptasi dengan intensitas tinggi liga Inggris, sehingga keputusan manajemen Tottenham menuai banyak kritik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Igor Tudor dan Tottenham Hotspur secara resmi mengakhiri kerja sama pada 29 Maret 2026. Ia hanya bertahan selama 43 hari sejak penunjukkannya pada 14 Februari 2026. Tudor menggantikan Thomas Frank yang dipecat akibat performa buruk Tottenham pada 2025/2026. Sayangnya, pelatih asal Kroasia itu gagal mengangkat posisi The Lilywhites dari papan bawah. Ancaman degradasi dari English Premier League (EPL) bahkan makin membesar setelah Tudor hanya meraih 1 poin dalam 5 laga.

Lantas, kenapa Igor Tudor gagal total selama melatih Tottenham?

1. Mengubah sistem permainan Tottenham dan menempatkan pemain di posisi yang salah

Igor Tudor mengubah sistem permainan Tottenham dari 4 bek menjadi 3 bek. Padahal, The Lilywhites selalu bermain dengan formasi empat bek selama dilatih Ange Postecoglu pada 2023--2025 dan Thomas Frank pada paruh pertama 2025/2026. Perubahan sistem permainan secara mendadak pada pertengahan musim membuat para pemain kesulitan beradaptasi. Akibatnya, Tottenham menelan 4 kekalahan dan 1 kali berimbang tanpa meraih kemenangan dalam 5 laga Premier League. Parahnya lagi, The Lilywhites mencatat 13 kali kebobolan dan hanya mencetak 4 gol di EPL.

Salah satu alasan sistem permainan tiga bek tidak berjalan karena penempatan posisi pemain yang kurang tepat. Dalam kekalahan Tottenham 1-3 dari Crystal Palace, Tudor memainkan Archie Gray yang merupakan gelandang bertahan menjadi wing back kanan. Sementara itu, Pedro Porro yang seorang bek kanan murni dengan karakter menyerang malah dimainkan sebagai bek tengah sisi kanan.

Di lini depan, Tudor menurunkan Mathys Tel dan Randal Kolo Muani di belakang Dominic Solanke. Akibatnya, Tottenham kehilangn kreativitas karena ketiga pemain tersebut memiliki karakter yang berbeda. Tel tipikal penyerang yang melebar, sementara Solanke dan Kolo Muani beberapa kali kesulitan dalam bertukar posisi. Keputusan taktis kurang tepat menjadi faktor kegagalan Tudor selama melatih Tottenham.

2. Gagal memaksimalkan potensi materi pemain Tottenham

Igor Tudor gagal memanfaatkan materi pemain Tottenham yang terbilang cukup berkualitas untuk bersaing di papan tengah EPL. Ia tidak mampu memaksimalkan kreativitas Xavi Simons, ketajaman Richarlison dan Solanke, dan determinasi Pedro Porro sebagai bek kanan. Terlebih lagi, manajemen Tottenham mendatangkan beberapa pemain baru, seperti Souza dan Conor Gallagher. Sayangnya, formasi tiga bek dan perubahan susunan starting line-up tiap pertandingan membuat Tottenham kehilangan stabilitas.

Selain itu, Tudor membuat keputusan kontroversial terkait pemilihan kiper saat kalah 2-5 dari Atletico Madrid pada leg pertama 16 besar Liga Champions Eropa (UCL) pada 10 Maret 2026. Ia mencadangkan kiper utama, Guglielmo Vicario, dan memainkan Antonin Kinsky sejak menit pertama. Hanya dalam 15 menit, Tottenham kebobolan tiga gol akibat blunder Kinsky. Tudor langsung menarik keluar Kinsky dan memasukkan Vicario pada menit ke-17. Langkah tersebut membuat kepercayaan diri pemain Tottenham sudah hancur akibat kebobolan tiga gol dalam 15 menit pertama pertandingan.

3. Minim pengalaman melatih klub-klub EPL

Penunjukkan Igor Tudor sebagai pengganti Thomas Frank sudah mendapat banyak keraguan dari kalangan media-media Inggris dan fans Tottenham. Sebab, Tudor belum pernah menangani klub-klub Premier League sepanjang karier kepelatihannya. Selain itu, rekam jejak sang pelatih bersama Lazio dan Juventus dinilai kurang impresif. Keraguan tersebut terbukti dengan buruknya performa Tottenham selama dilatih Tudor.

Ia gagal beradaptasi dengan permainan liga Inggris yang dikenal keras dan intensitas tinggi. Tudor menghabiskan sebagian besar kariernya sebagai pemain dan pelatih bersama klub-klub Serie A Italia. Alhasil, Tottenham asuhannya bermain dengan tempo lebih lambat, mengandalkan serangan balik, dan tidak efektif dalam membangun serangan meski menguasai bola. Gaya permainan tersebut identik dengan Serie A yang cenderung taktikal, sementara EPL lebih menekankan kepada permainan tempo dan transisi cepat serta benturan fisik keras.

Manajemen Tottenham kini menjadi pihak yang paling mendapat banyak kritik dari kalangan penggemar. Keputusan memecat dan menunjuk pelatih yang kurang tepat memberikan dampak besar bagi performa buruk The Lilywhites di EPL dan UCL. Tottenham dituntut bangkit cepat dan terhindar potensi terdegradasi ke EFL Championship. Mampukah manajemen Tottenham mencari solusi dan selamat dari zona degradasi?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kidung Swara Mardika
EditorKidung Swara Mardika
Follow Us

Latest in Sport

See More