Seller Mundur Perlahan karena Fee E-Commerce makin Mencekik?

- Kenaikan biaya layanan di Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop sejak Mei 2026 memicu keresahan seller karena margin keuntungan makin tipis dan banyak yang mulai mengurangi aktivitas di marketplace.
- Sejumlah brand lokal seperti True to Skin dan Raecca memilih membangun website resmi untuk menjaga stabilitas bisnis serta menawarkan promo langsung tanpa potongan besar dari platform e-commerce.
- Penyesuaian biaya layanan, logistik, dan sistem iklan baru membuat seller meninjau ulang ketergantungan pada marketplace serta mulai beralih ke kanal penjualan mandiri demi kontrol bisnis lebih besar.
Kenaikan biaya layanan di berbagai platform e-commerce mulai memicu keresahan di kalangan penjual online. Memasuki awal Mei 2026, Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop kompak melakukan penyesuaian biaya layanan yang berdampak langsung pada seller. Perubahan kebijakan tersebut langsung ramai diperbincangkan di media sosial karena dianggap semakin membebani pelaku usaha, terutama seller kecil dan menengah yang bergantung pada margin keuntungan. Situasi ini pun memunculkan berbagai reaksi, mulai dari keluhan terbuka hingga keputusan untuk meninggalkan marketplace secara perlahan.
Fenomena tersebut terlihat dari munculnya gerakan "tinggalkan E-commerce" di platform seperti Threads dan X. Banyak seller mengaku mulai kesulitan mempertahankan keuntungan karena biaya layanan, logistik, hingga promosi terus meningkat dari waktu ke waktu. Sebagian penjual menilai marketplace kini tidak lagi seideal beberapa tahun lalu ketika biaya operasional masih lebih ringan. Di tengah kondisi tersebut, sejumlah brand mulai mencari alternatif lain lewat kanal penjualan mandiri melalui website resmi.
1. Seller mulai pamit dari marketplace

Gelombang protes seller mulai ramai bermunculan setelah platform e-commerce mengumumkan penyesuaian biaya layanan terbaru. Di media sosial, beberapa penjual menyampaikan bahwa potongan dari setiap transaksi kini terasa semakin besar dibanding sebelumnya. Kondisi tersebut dinilai membuat keuntungan penjualan menjadi semakin tipis, terutama bagi usaha yang bermain di segmen harga kompetitif. Tidak sedikit seller yang akhirnya mulai mengurangi aktivitas toko mereka di marketplace.
Beberapa seller bahkan memutuskan untuk menonaktifkan toko secara penuh di platform tertentu. Mereka menilai kenaikan biaya tambahan yang terus terjadi perlahan membuat bisnis menjadi sulit berkembang. Selain biaya layanan, seller juga harus mempertimbangkan pengeluaran lain seperti iklan, promo diskon, hingga subsidi ongkir agar toko tetap bersaing di pencarian marketplace. Kombinasi berbagai biaya tersebut membuat sebagian pelaku usaha mulai mempertanyakan efektivitas berjualan di platform e-commerce besar.
2. Brand lokal mulai bangun website sendiri

Fenomena hengkang dari marketplace tidak hanya dilakukan seller kecil, tetapi juga mulai terlihat di kalangan brand lokal. Salah satu yang menjadi sorotan adalah brand kosmetik True to Skin yang memilih mengarahkan konsumen ke situs resmi mereka. Keputusan ini diambil setelah muncul kabar mengenai kenaikan fee layanan yang dinilai cukup signifikan bagi seller. Biaya tambahan yang dibebankan berpotensi memengaruhi stabilitas bisnis jika terus meningkat dalam jangka panjang.
Langkah serupa juga dilakukan oleh Raecca yang mulai memperkuat kanal penjualan melalui website resmi perusahaan. Mengutip pernyataan melalui akun Instagram resminya pada, Kamis (7/5/2026), Raecca menyebut konsumen kini bisa berbelanja lebih nyaman lewat situs resmi mereka sambil mendapatkan berbagai promo menarik. “Mulai hari ini, kamu bisa belanja dengan tenang, dan dapetin best deals di Official Website Raecca! More deals, free ongkir, dan masih banyak yang bisa kamu dapatkan dengan berbelanja di website Raecca,” tulis Raecca melalui akun Instagram @raeccaid.
3. Shopee perbarui skema biaya dan sistem iklan

Shopee menjadi salah satu platform yang melakukan penyesuaian biaya layanan pada program Gratis Ongkir XTRA mulai 2 Mei 2026. Program ini sebenarnya bersifat opsional, tetapi banyak seller memilih ikut demi meningkatkan daya tarik toko dan mempertahankan daya saing produk di marketplace. Dalam kebijakan baru tersebut, beberapa kategori produk mengalami kenaikan biaya layanan yang cukup terasa. Misalnya pada kategori fesyen dan logam mulia, biaya layanan naik dari 1,5 persen menjadi 2 persen untuk produk ukuran biasa.
Sebagai informasi, program Gratis Ongkir XTRA memungkinkan penjual menawarkan promo ongkir gratis kepada pembeli di Shopee. Meski begitu, seller yang mengikuti program ini tetap dikenakan biaya layanan tertentu sesuai kategori produk. Dalam aturan terbaru, Shopee juga membagi produk ke dalam dua kategori utama, yakni ukuran biasa dan ukuran khusus. Produk ukuran biasa mencakup barang dengan berat di bawah 5 kilogram, dimensi maksimal 60 cm, dan volume tidak melebihi 20.000 cm3.
Sementara itu, produk ukuran khusus meliputi barang dengan berat minimal 5 kilogram atau memiliki dimensi maupun volume di atas batas yang telah ditentukan. Klasifikasi tersebut ikut memengaruhi besaran biaya layanan yang dibebankan kepada seller. Untuk beberapa kategori tambahan, biaya layanan bahkan naik hingga 8 persen untuk produk ukuran biasa dan 9 persen pada produk ukuran khusus. Kenaikan ini membuat banyak penjual mulai menghitung ulang margin keuntungan mereka di marketplace.
Meski begitu, Shopee menyebut penyesuaian ini dibarengi sejumlah keuntungan bagi seller. Beberapa di antaranya seperti perluasan program bebas biaya layanan untuk UMKM, subsidi ongkir produk ukuran khusus, dan promosi biaya layanan bagi pengguna iklan. Platform tersebut menilai kebijakan baru ini bertujuan menjaga kualitas layanan sekaligus mendukung pertumbuhan ekosistem penjual di platform mereka. Di sisi lain, seller menilai tambahan biaya tetap menjadi tantangan besar di tengah persaingan harga yang semakin ketat.
Selain biaya layanan dan logistik, seller juga mulai menyoroti perubahan sistem iklan GMV Max yang berlaku mulai 7 Mei 2026. GMV Max merupakan fitur dalam Mode Bidding iklan Shopee yang berfungsi mengoptimalkan performa iklan secara otomatis, termasuk menentukan kata pencarian dan biaya per klik. Perubahan aturan ini dianggap cukup signifikan karena mengubah cara transaksi dihitung sebagai hasil iklan. Banyak seller khawatir sistem baru akan membuat biaya iklan semakin sulit dikendalikan.
Pada aturan lama, transaksi dihitung sebagai hasil iklan apabila pembeli mengklik iklan lalu melakukan pembelian dalam waktu tujuh hari. Namun, pada aturan baru, transaksi tetap dianggap berasal dari iklan meskipun pembeli hanya melihat iklan tanpa melakukan klik, lalu membeli produk dalam waktu satu hari. Perubahan ini memicu kekhawatiran seller karena cakupan atribusi iklan menjadi lebih luas dibanding sebelumnya. Sebagian penjual menilai kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya pemasaran yang harus mereka keluarkan di platform.
4. Tokopedia dan TikTok Shop tambah biaya logistik

Sementara itu, Tokopedia dan TikTok Shop mulai menerapkan biaya layanan logistik pada setiap pesanan baru sejak 1 Mei 2026. Biaya tersebut dibebankan kepada penjual dan dihitung berdasarkan ongkos kirim yang dibayarkan pembeli saat checkout. Besaran biaya bervariasi tergantung berat paket, tujuan pengiriman, dan jenis layanan logistik yang digunakan. Kebijakan ini langsung menjadi perhatian seller karena menambah komponen pengeluaran baru di setiap transaksi.
TikTok Shop disebut menerapkan biaya logistik hingga sekitar Rp5 ribu per pesanan, sedangkan Tokopedia dapat mencapai lebih dari Rp10 ribu sebelum pajak. Meski biaya tambahan ini tidak terlihat oleh pembeli saat checkout, seller tetap harus menanggung potongan tersebut dari hasil penjualan mereka. Banyak penjual menilai biaya logistik tambahan ini semakin mempersempit ruang keuntungan yang sebelumnya sudah tertekan akibat biaya layanan dan promo. Situasi tersebut membuat sebagian seller mulai mempertimbangkan strategi penjualan di luar marketplace.
5. Ketergantungan marketplace mulai dipertanyakan

Selama bertahun-tahun, marketplace menjadi pilihan utama bagi banyak pelaku usaha karena mampu menghadirkan trafik besar dan proses jual beli yang praktis. Kehadiran berbagai fitur promosi, pembayaran, hingga logistik membuat seller lebih mudah menjangkau konsumen dari berbagai daerah. Namun, perubahan biaya layanan yang terus meningkat kini mulai memunculkan pertanyaan mengenai keberlanjutan model bisnis tersebut. Banyak seller merasa ketergantungan penuh terhadap marketplace justru membuat mereka semakin rentan terhadap perubahan kebijakan platform.
Di sisi lain, membangun website sendiri mulai dianggap sebagai alternatif yang lebih menarik bagi sebagian brand. Lewat kanal penjualan mandiri, seller memiliki kontrol lebih besar terhadap promosi, data pelanggan, hingga strategi harga produk. Mereka juga tidak perlu membayar potongan biaya sebesar yang dikenakan marketplace pada setiap transaksi. Meski begitu, membangun website pribadi tetap memiliki tantangan tersendiri karena membutuhkan biaya pengembangan, pemasaran, dan kemampuan menarik trafik secara mandiri.
Sebagian seller akhirnya memilih pendekatan campuran, yakni tetap bertahan di marketplace sambil perlahan memperkuat kanal penjualan sendiri. Strategi ini dianggap lebih aman karena marketplace masih menjadi tempat utama jutaan konsumen mencari produk setiap hari. Pada saat yang sama, seller juga bisa mulai membangun audiens loyal di luar platform agar tidak sepenuhnya bergantung pada kebijakan marketplace. Pendekatan tersebut dinilai menjadi jalan tengah yang cukup realistis di tengah perubahan industri e-commerce saat ini.
Perubahan perilaku seller ini juga menunjukkan bahwa persaingan industri digital kini tidak hanya soal menarik pembeli, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem penjual. Jika biaya terus meningkat tanpa diimbangi keuntungan yang sepadan, bukan tidak mungkin lebih banyak seller memilih mencari jalur distribusi alternatif. Marketplace memang masih menawarkan pasar besar, tetapi seller kini semakin sadar pentingnya memiliki kendali lebih besar terhadap bisnis mereka sendiri. Karena itu, tren membangun website pribadi diperkirakan akan semakin berkembang dalam beberapa tahun ke depan.
Kenaikan biaya layanan di Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop memperlihatkan bagaimana industri e-commerce mulai bergerak menuju fase baru yang lebih kompleks. Platform tidak lagi hanya fokus menghadirkan promo besar untuk menarik pembeli, tetapi juga mulai mencari keseimbangan bisnis lewat penyesuaian biaya kepada seller. Di sisi lain, seller harus menghadapi tantangan baru berupa margin keuntungan yang semakin tertekan akibat bertambahnya berbagai komponen biaya. Situasi ini membuat banyak pelaku usaha mulai mengevaluasi kembali strategi penjualan mereka di marketplace.
Fenomena munculnya gerakan “tinggalkan E-commerce” hingga tren membangun website sendiri menjadi gambaran perubahan pola pikir seller di era digital saat ini. Banyak brand mulai menyadari pentingnya memiliki kanal penjualan mandiri agar tidak sepenuhnya bergantung pada kebijakan platform pihak ketiga. Meski marketplace masih menjadi sarana penting untuk menjangkau pasar luas, seller kini perlahan mencari cara agar bisnis mereka tetap sehat dan berkelanjutan. Ke depan, persaingan e-commerce kemungkinan tidak hanya terjadi antarplatform, tetapi juga antara marketplace dan kanal penjualan mandiri milik brand itu sendiri.


















