Airlangga: Rencana AS Serap Minyak Venezuela Tak Ganggu Pasar Global

- Harga minyak di AS akan terpengaruh kisruh minyak di Venezuela. Dinamika tersebut lebih berpengaruh pada pasar energi domestik AS.
- Presiden ke-47 AS Donald Trump mengumumkan penyerahan 30–50 juta barel minyak dari Venezuela kepada AS dengan harga berlaku.
- Pemerintah Indonesia akan memantau perkembangan situasi di Venezuela dan transisi pemerintahan di negara tersebut.
Jakarta, IDN Times - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai rencana Amerika Serikat memperoleh 30–50 juta barel minyak dari Venezuela tidak akan mengganggu pasar energi global, mengingat produksi minyak negara tersebut relatif kecil.
Menurut Airlangga, produksi minyak Venezuela saat ini masih di bawah 1 juta barel per hari, atau kurang dari 1 persen dari total produksi minyak dunia, sehingga pengalihan minyak dalam jumlah tersebut hanya berdampak sangat terbatas terhadap pasokan global.
"Enggak (berdampak). Pertama, produksi minyak Venezuela itu kan di bawah 1 juta barel per hari, jadi di bawah 1 persen. Secara global, dampaknya tidak ada,” ujar Airlangga di kantornya, Jakarta, Jumat (9/1/2025).
1. Harga minyak di AS akan terpengaruh kisruh minyak di Venezuela

Ia menambahkan, dinamika tersebut justru lebih berpengaruh terhadap pasar energi domestik AS dibandingkan pasar energi dunia secara keseluruhan. Adapun Presiden ke-47 AS Donald Trump pada Selasa (6/1) mengumumkan bahwa pemerintahan interim Venezuela menyetujui penyerahan 30–50 juta barel minyak kepada AS.
Minyak tersebut rencananya akan dijual di pasar dengan harga berlaku, sementara hasil penjualannya dikelola di bawah kepemimpinan Trump. Dengan demikian, Trump berharap kebijakan tersebut dapat membantu memenuhi sebagian kebutuhan energi AS sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi kedua negara.
3. Pemerintah akan memantau perkembangan terkini situasi di Venezuela

Airlangga menyatakan akan terus memantau perkembangan tersebut. Jika dihitung dengan asumsi harga minyak sekitar 56 dolar AS per barel, nilai transaksi sebesar 30–50 juta barel minyak diperkirakan mencapai hingga 2,8 miliar dolar AS atau setara sekitar Rp47 triliun.
Sementara itu, terkait perkembangan transisi pemerintahan di Venezuela, Airlangga mengatakan Pemerintah Indonesia masih mencermati dinamika yang terjadi.
“Kita monitor saja,” ujarnya.


















