Apa Itu Barang Giffen? Saat Harga Naik, Permintaannya Justru Bertambah

- Barang Giffen adalah fenomena ekonomi langka ketika permintaan meningkat saat harga naik, berlawanan dengan hukum permintaan umum, terutama pada kebutuhan pokok nonmewah bagi kelompok berpendapatan rendah.
- Pada barang Giffen, efek pendapatan lebih kuat daripada efek substitusi. Kenaikan harga menekan daya beli, sehingga konsumen dengan pilihan pengganti terbatas justru membeli lebih banyak barang tersebut.
- Penelitian Robert Jensen dan Nolan Miller di China pada 2007 menemukan bukti kuat perilaku Giffen pada beras di Hunan, sementara temuan pada gandum di Gansu tidak sekuat itu.
Jakarta, IDN Times - Dalam teori ekonomi, kenaikan harga umumnya diikuti penurunan permintaan. Namun, kondisi itu tidak berlaku pada barang Giffen. Jenis barang ini justru menunjukkan pola sebaliknya, yakni permintaan meningkat ketika harga naik.
Konsep tersebut diambil dari nama ekonom Sir Robert Giffen. Contoh yang kerap dikaitkan dengan barang Giffen adalah kebutuhan pokok nonmewah, seperti roti dan beras, yang banyak dikonsumsi kelompok masyarakat berpendapatan rendah.
Dilansir Investopedia, barang ini memiliki kurva permintaan yang menanjak ke atas, berbeda dari pola permintaan pada umumnya.
1. Barang Giffen merupakan fenomena yang jarang terjadi

Barang Giffen tergolong fenomena langka dalam ilmu ekonomi karena hubungan antara penawaran dan permintaannya tidak mengikuti pola yang lazim. Kemunculannya dipengaruhi sejumlah faktor pasar, seperti penawaran, permintaan, harga, pendapatan, dan substitusi.
Seluruh faktor tersebut menjadi dasar dalam teori penawaran dan permintaan. Fenomena ini banyak dikaji melalui barang kebutuhan nonmewah yang dikonsumsi masyarakat berpendapatan rendah. Dari kajian tersebut terlihat kombinasi berbagai faktor tadi dapat membentuk kurva permintaan yang menanjak.
2. Efek pendapatan lebih kuat daripada efek substitusi

Dalam teori ekonomi, kenaikan harga biasanya membuat permintaan turun, sedangkan penurunan harga mendorong permintaan naik. Pendapatan dapat memengaruhi pola tersebut, sementara keberadaan barang pengganti atau substitusi umumnya memperkuat hubungan antara harga dan permintaan.
Pada barang Giffen, kondisi yang terjadi berbeda. Efek pendapatan lebih dominan, sementara efek substitusi juga tetap berperan. Akibatnya, permintaan justru meningkat ketika harga naik.
Barang Giffen umumnya merupakan kebutuhan pokok dengan pilihan pengganti yang terbatas. Saat harganya naik, konsumen tetap membelinya karena barang tersebut sulit digantikan.
Di sisi lain, kenaikan harga mengurangi pendapatan yang dapat dibelanjakan sehingga alternatif yang lebih mahal menjadi semakin sulit dijangkau. Kondisi itu membuat konsumen membeli lebih banyak barang Giffen.
3. Pernah diteliti pada beras di China

Dalam Principles of Economics, Alfred Marshall, mencatat pengamatan Sir Robert Giffen bahwa kenaikan harga roti terjadi ketika masyarakat tidak memiliki pendapatan yang cukup untuk membeli daging. Contoh tersebut kemudian diperdebatkan oleh George J. Stigler melalui artikelnya Notes on the History of the Giffen Paradox yang terbit pada 1947.
Pada 2007, ekonom Harvard Robert Jensen dan Nolan Miller melakukan penelitian di China untuk menguji fenomena barang Giffen. Penelitian dilakukan terhadap beras di Provinsi Hunan dan gandum di Provinsi Gansu yang sama-sama menjadi makanan pokok di daerah masing-masing. Rumah tangga yang dipilih secara acak menerima kupon subsidi untuk membeli bahan pangan tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bukti kuat adanya perilaku barang Giffen pada konsumsi beras di Hunan. Ketika harga beras turun karena subsidi, permintaan rumah tangga terhadap beras ikut menurun. Sebaliknya, saat subsidi dicabut sehingga harga naik, permintaan meningkat. Sementara itu, bukti serupa pada gandum di Gansu dinilai tidak sekuat temuan pada beras di Hunan.


















