Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)
Pada 16 Oktober 2026 lalu, MSCI Inc mengumumkan tengah mempertimbangkan untuk mengubah klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Usulan tersebut didasarkan pada kekhawatiran investor terhadap tingkat investabilitas saham Indonesia. Sejumlah persoalan yang menjadi perhatian mencakup transparansi struktur kepemilikan saham dan dugaan praktik perdagangan yang terkoordinasi.
Dalam tinjauan klasifikasi pasar pada Juni 2026, MSCI mengungkapkan bahwa sejumlah pelaku pasar mempertanyakan kemampuan investor untuk berinvestasi di pasar saham Indonesia secara transparan dan efisien. Padahal, regulator pasar modal Indonesia telah mengumumkan sejumlah langkah reformasi untuk meningkatkan transparansi dan memperbaiki akses investasi.
Pengumuman MSCI Inc. bagaikan badai bagi IHSG. Di hari itu juga, BEI sempat menghentikan sementara perdagangan bursa, karena IHSG terkoreksi lebih dari 8 persen. Pekan lalu, investor asing mencatatkan nilai jual bersih atau net foreign sell senilai Rp6,67 triliun, meningkat 108 persen dibandingkan pekan sebelumnya, yakni Rp3,2 triliun.
Pelemahan IHSG masih berlanjut sampai pekan ini. Pagi tadi, IHSG dibuka melemah 17,06 poin atau -0,32 persen ke 5.249,07. Di tengah kondisi tersebut, BEI optimistis pada 2027 akan ada pencatatan efek baru, dengan proyeksi mencapai 905 efek, meningkat 13,1 persen dibandingkan RKAT 2026 sebesar 800 efek.
"Target tersebut mencakup Rp25 pencatatan saham baru, 175 emisi obligasi dan sukuk, serta 705 efek lainnya termasuk waran terstruktur dan produk investasi kolektif," kata Jeffrey.