3 Ribu Kapal Sukses Lintasi Selat Hormuz, Ekspor Minyak Teluk Terjaga

- CENTCOM mengawal lebih dari 3.000 kapal komersial di Selat Hormuz selama enam bulan, membantu negara-negara Teluk mengekspor lebih dari 1,5 miliar barel minyak.
- Laksamana Brad Cooper menyatakan jalur transit Selat Hormuz telah dibersihkan dari ranjau, sementara lebih dari 95 persen kapal berlayar aman di tengah ancaman IRGC.
- Arus minyak Teluk pulih mendekati level sebelum perang, tetapi harga Brent bertahan sekitar 114,50 dolar AS per barel karena risiko pelayaran masih berlanjut.
Jakarta, IDN Times – Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melaporkan bahwa lebih dari 3 ribu kapal komersial telah melintasi Selat Hormuz dengan pengawalan selama enam bulan terakhir. Dilansir Anadolu Agency, operasi tersebut turut membantu negara-negara Teluk mempertahankan ekspor minyak yang mencapai lebih dari 1,5 miliar barel sejak Juni.
CENTCOM juga mencatat lebih dari 95 persen kapal berhasil berlayar dengan aman di tengah agresi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
1. CENTCOM membersihkan ranjau di Selat Hormuz

Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons) Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, menyatakan jalur transit utama di Selat Hormuz telah dibersihkan dari ranjau melalui operasi intensif yang melibatkan personel. Ia menyampaikan hal tersebut setelah meninjau langsung kondisi operasional selat menggunakan helikopter Angkatan Darat AS pada Minggu (25/10/2026).
Cooper menyampaikan komitmen AS untuk mendukung keamanan pelayaran bersama negara-negara Teluk dan industri maritim.
“Kami terus berdiri bahu membahu dengan mitra-mitra Teluk kami dan industri pelayaran,” kata Cooper, dikutip Al Jazeera.
Ia menambahkan bahwa CENTCOM tetap berfokus menjaga kelancaran lalu lintas komersial melalui kerja sama dengan berbagai lembaga AS, Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), dan industri pelayaran.
2. Kpler mencatat pemulihan arus minyak mentah

ilustrasi kapal (pexels.com/Alexander Bobrov) Firma intelijen pasar Kpler melaporkan bahwa arus minyak mentah dari kawasan Teluk telah kembali mendekati tingkat sebelum perang yang dimulai akibat serangan gabungan AS dan Israel pada akhir Februari. Di luar Iran, setidaknya 16,5 juta barel minyak per hari tercatat meninggalkan kawasan tersebut pada September.
Para analis mengaitkan pemulihan itu dengan pemindahan muatan antarkapal di lepas pantai, pengawalan militer, serta peningkatan penggunaan jalur pipa minyak alternatif. Berbagai langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko serangan terhadap kapal komersial yang melewati jalur sempit dan rawan konflik.
3. Harga minyak brent bertahan di atas 114 dolar AS

ilustrasi pabrik minyak (pexels.com/Zakelj) Harga minyak berjangka Brent masih berada di kisaran 114,50 dolar AS per barel (setara sekitar Rp2,05 juta) pada Minggu (25/10/2026). Angka tersebut turun sekitar dua persen dari level tertinggi dalam hampir enam bulan terakhir, tetapi masih jauh di atas harga 72,48 dolar AS per barel (setara sekitar Rp1,30 juta) pada 27 Februari 2026.
Meski gencatan senjata telah disepakati, belum tercapainya perjanjian damai final membuat Selat Hormuz tetap menjadi titik gesekan utama. Ancaman terhadap pelayaran komersial pun masih berlangsung di tengah konflik yang belum sepenuhnya berakhir.























