Konflik Timur Tengah Memanas, Rupiah Melemah ke Rp18.184

Rupiah ditutup melemah ke level Rp18.184 per dolar AS pada perdagangan Rabu (28/10/2026).
Pasar mencermati ketegangan Timur Tengah, klaim serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi, serta gangguan pelayaran di Selat Hormuz.
Keputusan The Fed dan prospek rupiah pada Kamis menjadi perhatian investor di tengah tekanan terhadap mata uang.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (28/10/2026). Rupiah ditutup di level Rp18.184 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 28 poin dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp18.156 per dolar AS.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai perkembangan konflik di Timur Tengah dan keputusan kebijakan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) menjadi sejumlah faktor yang dicermati pasar.
1. Serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi memicu kekhawatiran
Ibrahim menyoroti perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah, terutama ketegangan yang melibatkan Iran dan Arab Saudi. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Arab Saudi, Turki, dan Pakistan telah mengadakan pembicaraan dengan pejabat Iran di Teheran pada Senin (26/10/2026). Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan untuk melanjutkan diskusi guna memperkuat perdamaian dan keamanan kawasan, meskipun belum mencapai hasil yang diharapkan.
Namun, upaya diplomatik tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan. Kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran menyatakan pada Selasa (27/10/2026) telah menyerang kilang minyak terbesar Arab Saudi menggunakan rudal. Pihak berwenang Arab Saudi belum segera mengonfirmasi serangan terhadap fasilitas yang memiliki kapasitas pengolahan 550 ribu barel minyak per hari tersebut.
Pada awal pekan ini, kelompok tersebut juga mengklaim menyerang stasiun pemompaan di sepanjang jalur pipa minyak Timur-Barat Arab Saudi. Jalur pipa itu memungkinkan minyak mentah dialirkan tanpa harus melewati Selat Hormuz.
Selain itu, kelompok Houthi mengklaim menyerang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Serangkaian klaim serangan tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai keamanan jalur alternatif ekspor minyak Arab Saudi. Kekhawatiran itu muncul ketika pelayaran melalui Selat Hormuz, salah satu jalur utama perdagangan minyak dunia, masih terganggu akibat konflik yang melibatkan Iran. Kondisi tersebut membuat keamanan pasokan energi global tetap menjadi perhatian pelaku pasar.
"Serangan-serangan tersebut memicu kekhawatiran mengenai keamanan rute ekspor alternatif, terutama di saat pengiriman melalui Selat Hormuz jalur vital bagi pasokan minyak global masih sangat terganggu akibat konflik yang lebih luas yang melibatkan Iran," kata Ibrahim.
2. Investor menanti keputusan suku bunga The Fed
Selain perkembangan geopolitik, investor juga mencermati keputusan kebijakan moneter The Fed pada Rabu (28/10/2026). Keputusan tersebut menjadi perhatian pasar untuk memperoleh petunjuk mengenai prospek ekonomi AS dan permintaan bahan bakar.
"Harga minyak yang lebih tinggi dapat menambah tekanan inflasi, yang berpotensi mempersulit pilihan kebijakan bank sentral tersebut," ujar dia.
Suku bunga AS juga menjadi perhatian pasar keuangan global karena memengaruhi daya tarik aset berbasis dolar. Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed dapat memengaruhi pergerakan dolar AS dan mata uang negara lain, termasuk rupiah.
3. Rupiah diperkirakan melemah lagi pada Kamis
Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Kamis (29/10/2026). Rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp18.180 hingga Rp18.230 per dolar AS.
Sementara itu, untuk perdagangan sepanjang pekan ini, rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp17.900 hingga Rp18.250 per dolar AS.






















