Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

BI Beberkan Faktor Pemicu Lesunya Rupiah hingga Tembus Rp18.184

2 min read
BI Beberkan Faktor Pemicu Lesunya Rupiah hingga Tembus Rp18.184
ilustrasi cadangan devisa (unsplash.com/ Viacheslav Bublyk)
  • Rupiah ditutup melemah 28 poin atau 0,18 persen ke Rp18.184 per dolar AS, dipengaruhi tekanan eksternal dan domestik.
  • Ketidakpastian konflik Timur Tengah, harga minyak di atas 115 dolar AS, penguatan dolar, serta arus modal keluar dari pasar berkembang memperbesar tekanan.
  • Kekhawatiran terkait MSCI dan kebutuhan valas akhir bulan menambah volatilitas; BI melakukan intervensi NDF, DNDF, spot, serta pembelian SBN.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Bank Indonesia (BI) menyebut sejumlah faktor eksternal dan domestik masih menekan nilai tukar rupiah. Ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah, penguatan dolar AS, hingga kekhawatiran penurunan status pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) menjadi sentimen yang membebani rupiah.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah seharian dan ditutup pada level Rp18.184 per dolar AS atau melemah 28 poin atau 0,18 persen dibandingkan penutupan kemarin.

  1. 1. Sentimen risk-off eksternal picu aliran modal asing keluar

    Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)
    Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)

    Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, ketidakpastian konflik Timur Tengah membuat harga minyak dunia bertahan di atas 115 dolar AS per barel. Kondisi tersebut turut meningkatkan risiko fiskal ke depan dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS).

    "Sentimen risk-off yang memburuk mendorong penguatan dolar AS dan arus keluar dana dari pasar negara berkembang (emerging markets)," ujar Erwin dalam keterangannya, Rabu (28/10/2026).

  2. 2. Laporan MSCI hingga peningkatan kebutuhan valas picu volatilitas

    ilustrasi 100 dolar AS (pexels.com/Engin Akyurt)
    ilustrasi 100 dolar AS (pexels.com/Engin Akyurt)

    Tak hanya itu, kondisi ini terjadi di tengah kenaikan yield obligasi. Dari domestik, kekhawatiran atas potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI turut menekan aliran dana.

    "Kebutuhan valas domestik yang meningkat menjelang akhir bulan juga menambah tekanan," tuturnya.

  3. 3. BI berada di pasar untuk stabilkan rupiah

    Logo Bank Indonesia
    Logo Bank Indonesia

    Erwin mengatakan, pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang negara-negara kawasan. Secara bulanan, rupiah tercatat melemah 1,15 persen. Di tengah tekanan tersebut, cadangan devisa Indonesia masih terjaga sebesar 146,3 miliar dolar AS pada akhir September 2026.

    "BI terus hadir di pasar untuk menjaga mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga sesuai fundamentalnya," kata Erwin.

    Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI terus melakukan intervensi di pasar keuangan melalui transaksi non-deliverable forward (NDF), domestic non-deliverable forward (DNDF), dan transaksi spot. BI juga membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Selain intervensi pasar, BI terus memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan korporasi, pelaku pasar, serta pihak terkait lainnya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More