Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Beban Ekonomi yang Dihadapi Warga saat Biaya Hidup Tinggi

4 min read
4 Beban Ekonomi yang Dihadapi Warga saat Biaya Hidup Tinggi
ilustrasi seorang wanita dan uang (pexels.com/Kaboompics)
  • Kenaikan harga pangan menekan anggaran rumah tangga; inflasi tahunan mencapai 3,28 persen pada September 2026, sementara harga pangan bergejolak naik 5,03 persen.
  • Biaya hunian dan transportasi sulit dipangkas karena pilihan tempat tinggal murah dapat menambah ongkos perjalanan; kelompok transportasi mencatat kenaikan harga tahunan 4,84 persen.
  • Pendapatan yang terbatas dan tagihan rutin membuat ruang menabung atau menghadapi kebutuhan mendadak makin sempit, sehingga rumah tangga berisiko memakai dana pokok atau berutang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mengatur keuangan menjadi semakin berat ketika sebagian besar pendapatan habis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kita dapat mengurangi jajan sampai memilih barang yang lebih murah, tetapi pengeluaran rutin tetap harus dibayar setiap bulan. Kondisi ini membuat persoalan biaya hidup tidak cukup dihadapi dengan menurunkan kebiasaan konsumsi atau gaya hidup.

Perdebatan mengenai biaya hidup juga memunculkan pertanyaan tentang batas kemampuan kita untuk berhemat. Penghematan memang membantu mengendalikan pengeluaran, tetapi tidak otomatis membuat makanan, tempat tinggal, transportasi, dan kebutuhan keluarga menjadi lebih terjangkau. Ada sejumlah beban ekonomi yang dihadapi warga saat biaya hidup tinggi. Hal ini perlu kita pahami untuk melihat mengapa sebagian rumah tangga tetap kesulitan memenuhi kebutuhan meski sudah hidup sederhana.

  1. 1. Harga kebutuhan pokok terus membebani pengeluaran

    ilustrasi membeli sayuran
    ilustrasi membeli sayuran (unsplash.com/Alex Hudson)

    Makanan menjadi salah satu kebutuhan yang sulit dikurangi karena tubuh memerlukan asupan gizi setiap hari. Memasak sendiri dan membeli bahan pangan sesuai anggaran dapat membantu menghemat uang, tetapi pilihan tersebut tetap bergantung pada harga bahan makanan di pasar. Ketika harga beras, telur, minyak goreng, atau sumber protein meningkat, rumah tangga perlu mengeluarkan lebih banyak uang untuk memenuhi kebutuhan yang sama.

    Bank Indonesia mencatat inflasi tahunan Indonesia mencapai 3,28 persen pada September 2026, naik dari 3,19 persen pada Agustus 2026. Kelompok harga pangan bergejolak atau volatile food, yaitu komoditas yang harganya mudah berubah mengikuti pasokan dan permintaan, mengalami inflasi tahunan sebesar 5,03 persen. Angka ini menunjukkan adanya tekanan harga pangan, meskipun kenaikan harga setiap komoditas dapat berbeda dan tidak semua barang mengalami kenaikan pada tingkat yang sama.

  2. 2. Biaya tempat tinggal dan transportasi sulit dihindari

    ilustrasi membeli rumah
    ilustrasi membeli rumah (pexels.com/Ivan Samkov)

    Tempat tinggal dan transportasi merupakan kebutuhan penting bagi masyarakat yang harus bekerja, bersekolah, atau mengurus keluarga. Pilihan untuk menyewa hunian yang lebih murah terkadang membawa konsekuensi berupa jarak yang lebih jauh dari tempat kerja dan tambahan ongkos perjalanan. Akibatnya, penghematan pada satu jenis pengeluaran belum tentu mengurangi total biaya bulanan secara signifikan.

    Transportasi juga mencakup berbagai pengeluaran, mulai dari tarif angkutan umum hingga bahan bakar, parkir, dan perawatan kendaraan. Data inflasi September 2026 menunjukkan kelompok transportasi mengalami kenaikan harga tahunan sebesar 4,84 persen. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa biaya untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain turut memengaruhi anggaran rumah tangga, terutama bagi pekerja yang tidak memiliki pilihan transportasi yang terjangkau.

  3. 3. Pendapatan tidak selalu sejalan dengan kebutuhan hidup

    ilustrasi mengelola gaji
    ilustrasi mengelola gaji (pexels.com/Yan Krukau)

    Kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan sangat bergantung pada pendapatan yang tersedia setiap bulan. Ketika penghasilan terbatas, ruang untuk menabung, membayar utang, atau menghadapi kebutuhan mendadak dapat semakin sempit karena kenaikan pengeluaran rutin. Karena itu, kesulitan keuangan tidak selalu muncul akibat belanja berlebihan, tetapi juga dapat terjadi ketika pendapatan tidak cukup untuk menutup kebutuhan dasar.

    Badan Pusat Statistik mencatat rata-rata upah buruh, karyawan, dan pegawai di Indonesia sebesar Rp3.287.675 per bulan pada Februari 2026. Angka tersebut merupakan rata-rata nasional, sehingga tidak menggambarkan kondisi setiap pekerja dan tidak bisa langsung dianggap sebagai standar biaya hidup seluruh masyarakat. Namun, data itu dapat menjadi bahan untuk menilai pentingnya membandingkan pendapatan dengan harga kebutuhan di setiap wilayah, karena biaya hidup dan tingkat upah dapat berbeda cukup jauh.

  4. 4. Tagihan rutin menyisakan sedikit ruang untuk berhemat

    ilustrasi menghitung uang
    ilustrasi menghitung uang (pexels.com/Pavel Danilyuk)

    Selain makanan dan transportasi, rumah tangga juga perlu membayar listrik, air, komunikasi, pendidikan, serta kebutuhan kesehatan. Sebagian pengeluaran tersebut memang dapat diatur, misalnya dengan memilih paket internet yang lebih sesuai atau mengurangi pemakaian listrik yang tidak diperlukan. Namun, kebutuhan penting tetap memiliki batas penghematan karena pemotongan berlebihan dapat mengganggu aktivitas, pendidikan, atau kesehatan anggota keluarga.

    Tekanan semakin terasa ketika beberapa pengeluaran muncul bersamaan, seperti biaya sekolah, obat-obatan, perbaikan kendaraan, atau kebutuhan keluarga yang mendadak. Rumah tangga yang tidak memiliki tabungan memadai dapat terpaksa menggunakan dana kebutuhan pokok atau berutang untuk menutup pengeluaran tersebut. Situasi ini menunjukkan bahwa kemampuan berhemat juga dipengaruhi oleh besarnya pendapatan, kestabilan pekerjaan, dan tersedianya perlindungan ketika menghadapi keadaan darurat.

    Mengatur gaya hidup tetap penting agar pengeluaran tidak melampaui kemampuan keuangan. Meski begitu, tetap ada beban ekonomi yang dihadapi warga saat biaya hidup tinggi. Mereka juga membutuhkan kondisi yang memungkinkan pendapatan mencukupi kebutuhan dasar, termasuk akses terhadap pangan, hunian, dan transportasi yang terjangkau. Oleh sebab itu, persoalan biaya hidup perlu dilihat dari dua sisi sekaligus, yaitu keputusan keuangan individu dan kondisi ekonomi yang memengaruhi kemampuan masyarakat untuk hidup layak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More