Di tengah banyaknya konten promosi yang muncul setiap hari, brand harus mencari cara agar produknya tidak mudah diabaikan. Salah satu strategi yang cukup sering digunakan adalah membuat konten kontroversial. Alih-alih menampilkan iklan yang aman dan mudah diterima semua orang, beberapa brand justru memilih pesan yang berpotensi memancing perdebatan.
Kenapa Brand Membuat Konten Kontroversial demi Perhatian?

- Konten kontroversial membantu brand menembus persaingan media sosial, menghentikan kebiasaan scrolling, dan meningkatkan brand awareness melalui perhatian serta percakapan publik.
- Perdebatan, komentar, dan unggahan tanggapan dapat memperluas jangkauan secara organik tanpa biaya tambahan; emosi kuat juga membuat konten lebih mudah dibagikan dan diingat.
- Kontroversi dapat menegaskan identitas bagi target pasar tertentu, tetapi berisiko merusak reputasi jika dianggap tidak sensitif atau sekadar memanfaatkan isu demi keuntungan.
Strategi ini mungkin terlihat berisiko karena bisa mengundang kritik dari publik. Akan tetapi, dalam dunia pemasaran digital, kontroversi tidak selalu dianggap sebagai kegagalan. Perhatian yang muncul dari perdebatan terkadang justru memberikan keuntungan bagi brand. Lantas, kenapa brand membuat konten kontroversial demi perhatian?
1. Kontroversi membuat brand lebih mudah diperhatikan

ilustrasi iklan (unsplash.com/Dennis Maliepaard) Persaingan mendapatkan perhatian konsumen semakin ketat, terutama di media sosial. Setiap hari, pengguna melihat berbagai iklan, promosi, dan konten dari banyak brand. Akibatnya, konten yang biasa saja cenderung lebih mudah dilewati.
Konten kontroversial memiliki peluang lebih besar untuk menghentikan kebiasaan scrolling tersebut. Pernyataan yang mengejutkan atau bertentangan dengan pandangan umum dapat membuat orang penasaran, bahkan ketika mereka tidak tertarik dengan produk yang ditawarkan. Bagi brand, perhatian ini merupakan langkah awal untuk membangun kesadaran merek atau brand awareness. Semakin banyak orang membicarakan suatu konten, semakin besar pula kemungkinan nama brand dikenal oleh audiens baru.
2. Perdebatan bisa memperluas jangkauan konten tanpa biaya tambahan

ilustrasi scrolling media sosial (unsplash.com/ROBIN WORRALL) Salah satu alasan brand menggunakan kontroversi adalah potensi penyebaran konten secara organik. Ketika sebuah iklan memancing perdebatan, orang cenderung memberikan komentar, membagikannya, atau membuat konten tanggapan. Aktivitas tersebut dapat membantu memperluas jangkauan konten melalui sistem rekomendasi media sosial. Menariknya, orang yang mengkritik sebuah kampanye juga bisa ikut memperkenalkan brand kepada audiens yang lebih luas.
Emosi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keinginan seseorang untuk membagikan informasi. Konten yang memicu reaksi emosional kuat cenderung lebih menarik perhatian audiens. Hal ini membuat konten tersebut berpotensi lebih banyak dibagikan dibandingkan pesan yang terasa biasa.
3. Konten kontroversial cenderung lebih mudah diingat

ilustrasi konten di media sosial (magnific.com/magnific) Tujuan pemasaran tidak selalu membuat konsumen langsung membeli produk. Terkadang, brand hanya ingin memastikan namanya tetap diingat ketika konsumen membutuhkan produk dalam kategori tertentu. Iklan kontroversial dapat membantu mencapai tujuan tersebut karena menawarkan sesuatu yang berbeda dari promosi pada umumnya. Pesan yang mengejutkan atau memancing perdebatan bisa meninggalkan kesan lebih kuat.
Meski demikian, mudah diingat tidak selalu berarti disukai. Konsumen mungkin mengingat sebuah brand karena kampanyenya dianggap menarik, tetapi bisa juga karena iklannya dinilai menyinggung kelompok tertentu. Karena itu, brand perlu mempertimbangkan apakah perhatian yang diperoleh benar-benar mendukung citra yang ingin dibangun.
4. Kontroversi bisa memperkuat identitas brand di mata target pasar

ilustrasi scrolling media sosial (unsplash.com/Marco Palumbo) Tidak semua kampanye kontroversial dibuat sekadar untuk mengejar viralitas. Ada pula brand yang sengaja menyampaikan pandangan tertentu untuk menunjukkan nilai dan identitasnya kepada konsumen. Salah satu contohnya adalah kampanye Dream Crazy dari Nike pada 2018 yang melibatkan Colin Kaepernick. Kampanye tersebut memunculkan reaksi yang beragam karena berkaitan dengan isu sosial dan politik.
Namun, bagi sebagian konsumen yang memiliki pandangan serupa, pesan tersebut justru dapat memperkuat kedekatan emosional dengan brand. Strategi seperti ini menunjukkan bahwa sebuah perusahaan tidak selalu berusaha menyenangkan semua orang. Dalam beberapa situasi, brand memilih memperkuat hubungan dengan target pasar tertentu meskipun harus menghadapi kritik dari kelompok lain.
5. Risiko kontroversi bisa lebih besar daripada keuntungan yang diperoleh

ilustrasi Instagram (pexels.com/Viralyft) Walaupun berpotensi meningkatkan popularitas, kontroversi tetap memiliki risiko besar. Perhatian publik tidak otomatis berubah menjadi penjualan, apalagi jika konsumen merasa sebuah brand sengaja memanfaatkan isu sensitif demi keuntungan. Jika pesan dianggap tidak sensitif atau bertentangan dengan nilai perusahaan, reputasi brand justru bisa mengalami kerugian. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk memahami audiens, konteks sosial, dan konsekuensi dari pesan yang disampaikan sebelum meluncurkan kampanye.
Alasan brand membuat konten kontroversial demi perhatian berkaitan erat dengan nilai atensi dalam pemasaran digital. Perdebatan dapat membantu merek dikenal lebih cepat tanpa selalu membutuhkan biaya iklan yang besar. Meski begitu, popularitas sesaat belum tentu menghasilkan kepercayaan konsumen. Brand tetap perlu memastikan bahwa perhatian yang diperoleh tidak justru merusak hubungan dengan pelanggan dalam jangka panjang.






















