BI Beberkan Dana Asing Kabur dari Saham Capai 80 Juta Dolar AS

Investasi portofolio asing mencatat arus keluar bersih 80 juta dolar AS pada kuartal III-2026, terutama akibat pelepasan saham di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.
Hingga 19 Oktober 2026, kuartal IV membukukan arus masuk bersih 660 juta dolar AS, didorong dana asing ke SRBI dan SBN meski tekanan saham berlanjut.
Rupiah melemah menjadi Rp17.985 per dolar AS pada 20 Oktober, sementara cadangan devisa September mencapai 146,3 miliar dolar AS dan BI memperkuat stabilisasi.
Jakarta, IDN Times - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan, aliran investasi portofolio asing di pasar keuangan domestik mencatat arus keluar bersih (net outflow) sebesar 80 juta dolar AS pada kuartal III-2026.
"Arus keluar ini terutama dipicu pelepasan saham di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global," ucap Destry dalam Konferensi Pers RDG, Rabu (21/10/2026).
Tekanan arus keluar dana asing di pasar saham masih berlanjut pada Oktober 2026. Meski demikian, aliran dana asing ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) mencatat arus masuk.
Dengan perkembangan tersebut, investasi portofolio asing pada kuartal IV-2026 hingga 19 Oktober 2026 membukukan arus masuk bersih sebesar 0,66 miliar dolar AS.
Menurutnya, di tengah dinamika pasar keuangan global, posisi cadangan devisa Indonesia masih memadai. Destry menyampaikan, cadangan devisa pada akhir September 2026 tercatat sebesar 146,3 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
"Posisi tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. Ke depan, ketahanan eksternal Indonesia juga diperkirakan tetap terjaga, dengan transaksi berjalan sepanjang 2026 diproyeksikan mencatat defisit dalam kisaran 1,6 persen hingga 2,4 persen terhadap produk domestik bruto (PDB)," katanya.
Sementara itu, nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan eksternal. Pada 20 Oktober 2026, rupiah tercatat di level Rp17.985 per dolar AS, melemah 0,61 persen secara point-to-point dibandingkan posisi akhir September 2026.
Menurut Destry, pelemahan rupiah dipengaruhi eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), serta sentimen investor asing di pasar saham.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak global, BI terus memperkuat kebijakan stabilisasi, sekaligus menjaga ketahanan eksternal Indonesia.




















