Bos Danantara Ungkap BUMN Produsen Gula Bakal Dimerger

- Pemerintah berencana menggabungkan pabrik gula milik ID FOOD, yaitu PT PG Rajawali I dan II, ke dalam PT Sinergi Gula Nusantara di bawah PTPN III untuk memperkuat konsolidasi BUMN pangan.
- Setelah merger, PTPN akan difokuskan pada pengolahan pangan sementara ID FOOD diarahkan menjadi perusahaan perdagangan yang menangani ekspor dan impor produk pangan nasional.
- Kementerian Pertanian dan BUMN menargetkan swasembada gula meski menghadapi tantangan kebocoran gula rafinasi impor yang menyebabkan kerugian besar bagi industri domestik.
Jakarta, IDN Times - Rencana konsolidasi BUMN secara besar-besaran tahun ini turut menyasar pada anak usaha produsen gula di bawah Holding BUMN Pangan ID Food dan Holding BUMN Perkebunan PTPN III. Hal itu diungkapkan ole Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria.
“Kita memiliki dua perusahaan gula, pabrik gula yang pertama ada di dalam perusahaan gula PGN, di bawah PGN, kita menyebutnya SugarCo. Dan yang kedua kita punya pabrik gula juga di bawah ID FOOD,” kata Dony dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (8/4/2026).
1. Pabrik Gula ID FOOD bakal dilebur ke PTPN

Adapun perusahaan pabrik gula (PG) di bawah IDFOOD adalah PT PG Rajawali I dan PT PG Rajawali II. Kedua anak usaha IDFOOD itu bakal dimerger PT Sinergi Gula Nusantara (PT SGN) atau lebih sering dikenal dengan sebutan Sugar Co yang merupakan Sub Holding Komoditi Gula PTPN III (Persero).
“Kita ingin melakukan proses konsolidasi dengan melakukan merger, penggabungan dari ID Food ke PGN,” ucap Dony.
2. IDFOOD fokus pada bisnis perdagangan

Merger itu dilakukan agar BUMN fokus pada bisnis inti masing-masing. PTPN akan difokuskan menjadi BUMN manufaktur atau pengolah pangan, sementara IDFOOD fokus dengan bisnis perdagangan, termasuk ekspor dan impor.
“IDFOOD akan fokus bisnisnya menjadi trading company. Jadi memang ini sengaja kita lakukan sehingga mereka fokus kepada core business-nya masing-masing,” tutur Dony.
3. Genjot swasembada gula

Dony mengatakan, pihaknya bersama Kementerian Pertanian (Kementan) fokus mengupayakan swasembada gula di Indonesia.
Namun, dalam mewujudkannya, masih ada tantangan besar, di mana adanya kebocoran pasokan gula rafinasi yang diimpor di pasar-pasar tradisional.
Padahal, gula rafinasi bukanlah gula konsumsi yang bisa diperjualbelikan secara bebas di pasar. Pemerintah hanya mengizinkan penggunaannya oleh industri sebagai bahan baku dan bahan penolong.
Bahkan, dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) nomor 1 tahun 2019, dinyatakan bahwa penyalouran gula rafinasi harus dijaga.
Akibatnya, SugarCo membukukan kerugian hingga Rp680 miliar, karena perang harga yang disebabkan kebocoran gula rafinasi impor tersebut.
“Kalau ini diteruskan, ini sulit untuk industri gula kita berkembang akibat daripada kebocoran-kebocoran daripada gula rafinasi yang masuk ke dalam pasar,” ujar Dony.
Untuk mengatasinya, Dony mengatakan perlu perbaikan pada industri gula secara menyeluruh.
“Kami sebetulnya di industri sangat berharap bahwa pertemuan ini betul-betul menghasilkan hasil yang konkret mengenai tata kelola industri gula kita ke depan. Karena memang Bapak Presiden betul-betul mengharapkan industri gula ini seharusnya kita bisa swasembada,” ujar Dony.

















