Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BPS: Penduduk Miskin Turun Jadi 22,93 Juta Orang pada Maret 2026
ilustrasi kemiskinan (pexels.com/Austin Garcia)
  • BPS mencatat penduduk miskin mencapai 22,93 juta orang pada Maret 2026, turun 430 ribu dibandingkan September 2025; tingkat kemiskinan menjadi 8,07 persen.
  • Kesenjangan desa-kota masih lebar: kemiskinan perkotaan 6,34 persen dan perdesaan 10,67 persen. Indeks kedalaman serta keparahan membaik di kota, namun meningkat di desa.
  • Sebanyak 12,02 juta penduduk miskin, atau 52,42 persen total nasional, berada di Jawa. Penurunan kemiskinan terjadi di seluruh wilayah, terdalam di Jawa sebesar 0,21 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan jumlah penduduk miskin mencapai 22,93 juta orang pada Maret 2026. Angka ini lebih rendah 0,43 juta orang terhadap September 2025 yang saat itu sebanyak 23,36 juta orang. Dari sisi persentase tingkat kemiskinan pada September 2026 mencapai 8,07 persen atau turun sebesar 0,18 persen dibandingkan September 2025.

“Berdasarkan tren dari grafik sejak Maret 2023-Maret 2026 jumlah dan tingkat kemiskinan terus mengalami penurunan,” ucap Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh. Edy Mahmud dalam konferensi pers di kantor BPS pada Rabu (5/8/2026).

Dia mengatakan disparitas kemiskinan antara perdesaan dan perkotaan masih cukup lebar. Di mana persentase penduduk miskin di perkotaan pada Maret 2026 sebesar 6,34 persen, turun dibandingkan September 2025 yang sebesar 6,6 persen. Sedangkan, persentase penduduk miskin di perdesaan pada Maret 2026 sebesar 10,67 persen, menurun 0,05 persen, jika dibandingkan September 2025 yang sebesar 10,72 persen.

BPS juga menganalisis dari sisi indeks kedalaman kemiskinan dan indeks keparahan kemiskinan. Indeks kedalaman kemiskinan adalah ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi indeks ini maka semakin jauh rata-rata pengeluaran penduduk dari garis kemiskinan.

Adapun indeks kedalaman kemiskinan 1,268 pada Maret 2026. Di mana indeks kedalaman kemiskinan kota turun ke 0,951 pada Maret 2026 dari 1,040 pada September 2025. Sedangkan indeks kedalaman kemiskinan desa naik ke 1,744 pada Maret 2026 dari 1,661 pada September 2025.

“Jika ditinjau berdasarkan klasifikasi wilayah indeks kedalaman kemiskinan pada Maret 2026 di perkotaan mengalami penurunan sedangkan di perdesaan mengalami peningkatan dibandingkan September 2025,” ucap Edy.

Sementara itu, indeks keparahan kemiskinan merupakan gambaran dari sebaran pengeluaran diantara penduduk miskin sendiri. Secara umum indeks kedalaman kemiskinan dan indeks keparahan kemiskinan pada Maret 2026 mengalami penurunan dibandingkan dengan September 2025.

Adapun indeks keparahan kemiskinan sebesar 0,291 pada Maret 2026. Adapun indeks keparahan kemiskinan di perkotaan turun ke 0,209 pada Maret 2026 dari 0,245 pada September 2025. Sedangkan indeks keparahan kemiskinan desa naik ke 0,414 pada Maret 2026 dari 0,390 pada September 2025.

“Indeks keparahan kemiskinan menunjukan pola yang serupa dengan indeks kedalaman kemiskinan. Di mana dibandingkan dengan September 2025 indeks keparahan kemiskinan di perkotaan mengalami penurunan sedangkan di pedesaan mengalami peningkatan,” tutur Edy.

Sementara itu, bila dilihat secara spasial jumlah penduduk miskin masih terkonsentrasi di Pulau Jawa yaitu 12,02 juta atau 52,42 persen dari keseluruhan penduduk miskin di Indonesia. Jumlah penduduk miskin paling sedikit berada di Pulau Kalimantan yaitu 870 ribu orang atau 3,79 persen dari keseluruhan penduduk miskin di Indonesia.

“Bila dibandingkan dengan September 2025 penurunan tingkat kemiskinan terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Penurunan paling dalam di Pulau Jawa yaitu turun 0,21 persen," ucapnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article