Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cadangan Devisa Akhir Tahun Diproyeksi Susut Jadi 143-147 Miliar Dolar
Ilustrasi cadangan devisa (IDN Times/Arief Rahmat)
  • Cadangan devisa Indonesia akhir Juli 2026 mencapai 145,3 miliar dolar AS, turun dari 145,6 miliar dolar AS pada Juni dan diproyeksikan menjadi 143–147 miliar dolar AS akhir tahun.
  • Terbatasnya modal asing, ketidakpastian global-domestik, peninjauan klasifikasi MSCI, serta revisi prospek negatif Moody’s dan Fitch menekan sentimen pasar terhadap Indonesia.
  • Risiko defisit kembar dan arus portofolio yang terbatas berpotensi membuat rupiah fluktuatif; Bank Indonesia diperkirakan memakai cadangan devisa untuk stabilisasi, dengan proyeksi Rp17.800–Rp18.000 per dolar AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, memproyeksikan posisi cadangan devisa pada akhir tahun akan berada di kisaran 143 miliar dolar AS–147 miliar dolar AS pada akhir tahun ini.

"Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan posisi cadangan devisa pada akhir 2025 yang mencapai 156,47 miliar dolar AS," jelasnya kepada IDN Times, Sabtu (8/8/2026).

Adapun data posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 mencapai 145,3 miliar dolar AS atau Rp2.615 triliun. Angka tersebut turun tipis dibandingkan posisi pada akhir Juni yang sebesar 145,6 miliar dolar AS.

1. Tekanan terhadal cadev tak terlepas dari masih terbatasnya aliran modal asing masuk

ilustrasi cadangan devisa (unsplash.com/ Viacheslav Bublyk)

Faisal menilai tekanan terhadap cadangan devisa tidak terlepas dari masih terbatasnya arus masuk modal ke Indonesia.

Ketidakpastian global dan domestik membuat selera risiko investor masih rapuh, meski sentimen sedikit membaik seiring penurunan harga minyak global di tengah kemajuan negosiasi perdamaian AS-Iran.

"Arus masuk investasi portofolio juga berpotensi tertahan. Dari sisi ekuitas, investor masih mencermati keputusan MSCI yang akan kembali meninjau klasifikasi pasar Indonesia pada November 2026," bebernya.

2. Ada risiko twin defisit yang membayangi

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Mathieu Stern)

Sementara itu, sentimen di pasar pendapatan tetap (fixed income) Indonesia ikut melemah setelah Moody's dan Fitch merevisi prospek Indonesia menjadi negatif. Kondisi tersebut terjadi meski S&P masih mempertahankan prospek stabil.

Di dalam negeri, risiko twin deficits atau defisit kembar juga menjadi perhatian. Risiko tersebut mencakup potensi pelebaran defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) dan defisit fiskal seiring kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan serta meningkatnya peran kebijakan fiskal sebagai penyangga ekonomi.

"Secara keseluruhan, selera risiko pasar masih rapuh. Meskipun penurunan harga minyak dapat sedikit meredakan tekanan, sentimen investor kemungkinan akan tetap berhati-hati," kata Faisal.

3. Rupiah masih berpotensi bergerak fluktuatif

Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)

Berbagai kondisi tersebut membuat arus masuk portofolio diperkirakan masih terbatas. Rupiah pun berpotensi tetap bergerak fluktuatif sehingga Bank Indonesia kemungkinan masih perlu menggunakan cadangan devisa untuk menjaga stabilitas nilai tukar dalam jangka pendek hingga menengah.

Faisal juga mempertahankan proyeksi nilai tukar rupiah pada akhir 2026 di kisaran Rp17.800–Rp18.000 per dolar AS.

Menurutnya, dalam jangka menengah hingga panjang, keberlanjutan arus masuk modal akan bergantung pada efektivitas reformasi struktural pemerintah. Reformasi tersebut diperlukan untuk memperkuat fundamental makroekonomi, meningkatkan kepercayaan investor, dan memperbaiki iklim investasi.

Selain itu, perkembangan ketegangan perdagangan global dan risiko geopolitik, terutama di Timur Tengah, masih akan menjadi faktor penting yang menentukan dinamika arus modal Indonesia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article