Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Danantara Target Hemat US$3,5 Miliar per Tahun dari Konsolidasi BUMN

3 min read
Danantara Target Hemat US$3,5 Miliar per Tahun dari Konsolidasi BUMN
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia Dony Oskaria. (IDN Times/Triyan).
  • Danantara menargetkan penghematan US$3,5 miliar atau Rp63 triliun per tahun lewat konsolidasi BUMN untuk memangkas kerugian, transaksi berlapis, dan tumpang tindih bisnis.
  • Sebanyak 52 persen dari 1.074 perusahaan ekosistem BUMN merugi total Rp20 triliun per tahun, sementara 97 persen dividen berasal dari hanya delapan perusahaan.
  • Danantara menyiapkan transformasi lima tahun, dengan konsolidasi dan restrukturisasi pada tahun pertama untuk menangani utang, kewajiban antarperusahaan, sengketa, serta meningkatkan kinerja BUMN.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Danantara Indonesia membidik penghematan hingga 3,5 miliar dolar AS per tahun atau setara Rp63 triliun (kurs Rp18.000 per dolar AS), melalui konsolidasi perusahaan dalam ekosistem badan usaha milik negara (BUMN). Langkah ini ditempuh untuk memangkas inefisiensi bisnis yang selama ini membebani perusahaan pelat merah.

Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia Dony Oskaria mengungkapkan, sebanyak 52 persen dari 1.074 perusahaan dalam ekosistem yang dikelolanya mengalami kerugian dengan total mencapai Rp20 triliun per tahun. Selain itu, struktur bisnis yang berlapis memicu inefisiensi transaksi hingga 2 miliar dolar AS per tahun.

“Jadi, pada dasarnya, jika saya menutup perusahaan-perusahaan ini, kita bisa langsung menghemat 3,5 miliar dolar AS setiap tahun,” ujarnya dalam dalam acara Danantara TIIF 2026, Senin (26/10/2026).

Menurut Dony, salah satu persoalan yang membuat pengelolaan BUMN tidak efisien adalah banyaknya perusahaan yang menjalankan bisnis serupa, tetapi tetap beroperasi sebagai entitas terpisah.

Struktur tersebut membuat transaksi harus melewati sejumlah perusahaan sehingga menambah biaya dan memperpanjang rantai bisnis. Karena itu, Danantara menilai konsolidasi diperlukan untuk menyederhanakan struktur perusahaan dan mengurangi tumpang tindih bisnis.

Melalui langkah tersebut, perusahaan-perusahaan dalam ekosistem BUMN diharapkan dapat beroperasi lebih efisien. Di sisi lain, kontribusi dividen BUMN masih terkonsentrasi pada segelintir perusahaan. Donny menyebut, 97 persen dividen yang diterima berasal hanya dari delapan perusahaan.

“Bagi saya, lebih baik mengelola delapan perusahaan yang menyumbang 97 persen dividen setiap tahun daripada mengelola 1.074 perusahaan,” katanya.

Menurut Dony, kondisi tersebut menunjukkan perlunya pembenahan terhadap struktur perusahaan dalam ekosistem BUMN. Pengelolaan ribuan entitas dengan kontribusi yang tidak merata dinilai menjadi tantangan tersendiri bagi Danantara dalam meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan.

Persoalan yang dihadapi juga tidak hanya menyangkut kerugian dan inefisiensi. Dia mengungkapkan adanya akumulasi utang yang tidak terkelola, lebih dari 1.000 kewajiban antarperusahaan, serta lebih dari 500 perkara yang melibatkan perusahaan dalam ekosistem BUMN.

Telkom menjadi salah satu contoh. Dony menyebut, perusahaan telekomunikasi tersebut pernah memiliki 157 perkara yang perlu ditangani.

“Bisa Anda bayangkan? Di Telkom saja, terdapat 157 kasus. Oleh karena itu, kami mulai memikirkan cara untuk memperbaiki bisnis ini,” ujarnya.

Banyaknya kewajiban dan sengketa antarperusahaan tersebut menjadi bagian dari persoalan yang perlu dibenahi dalam proses transformasi BUMN. Danantara perlu menata hubungan bisnis antarentitas agar struktur perusahaan lebih sederhana dan pengelolaan kewajiban menjadi lebih baik.

Dony menegaskan, pembenahan tersebut penting bagi Danantara dalam menjalankan perannya sebagai pengelola investasi negara atau sovereign wealth fund.

Pengelolaan BUMN yang sehat dan efisien diharapkan dapat memperkuat kontribusi perusahaan pelat merah terhadap perekonomian.

"Jadi, di Indonesia, fondasi dari dana abadi negara kita sangat bergantung pada seberapa baik kita mengelola badan usaha milik negara. Jika kita gagal mengelola BUMN, maka tidak akan ada lagi BUMN di Indonesia," tegasnya.

Untuk itu, Danantara menyusun peta jalan transformasi BUMN selama lima tahun. Pada tahun pertama, fokus diarahkan pada konsolidasi dan restrukturisasi perusahaan dalam ekosistem tersebut.

Dony mengatakan, proses transformasi akan dilakukan dengan kerangka kerja yang jelas, bukan sekadar mencoba-coba. Danantara juga menggunakan tolok ukur global di setiap industri untuk mengevaluasi model bisnis dan menentukan langkah pembenahan perusahaan.

Melalui konsolidasi dan restrukturisasi, Danantara berharap dapat mengurangi tumpang tindih bisnis, menekan inefisiensi, serta meningkatkan kontribusi dividen BUMN kepada negara.

    Share Article
    Editorial Team

    Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

    Related Articles

    See More