Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dari Ragu Jadi Untung: Cerita Petambak Mangrove Bulungan Kaltara
Ketua Kelompok Tani Tambak (KTT) Tias Berkah, Bulungan, Kalimantan Utara, Herman. (dok. M4CR)
  • Petambak udang windu di Desa Tanjung Buka, Bulungan, mengalami penurunan hasil panen selama 10 tahun terakhir akibat kualitas air laut yang memburuk.
  • Pada 2024, KTT Tias Berkah mengadopsi silvofishery melalui pendampingan M4CR, merehabilitasi 77 hektare mangrove dengan 800 bibit per hektare.
  • Setelah penanaman mangrove, panen udang meningkat dari 100–150 kg menjadi 150–300 kg, sementara keberhasilan tumbuh 87 persen membuka dukungan usaha penggemukan kepiting bakau.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Hamparan tambak tradisional membentang luas mengikuti garis pantai di Desa Tanjung Buka, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Di kawasan inilah Herman, Ketua Kelompok Tani Tambak (KTT) Tias Berkah, bersama anggota kelompoknya menggantungkan hidup keluarga mereka pada komoditas udang windu.

Namun, perjalanan mengelola tambak selama hampir dua dekade tidak selalu berjalan mulus. Setelah hampir 20 tahun, Herman mulai merasakan perubahan yang mencemaskan. Hasil panen udang windu yang menjadi urat nadi ekonomi mereka tak lagi stabil akibat kualitas air laut yang perlahan memburuk.

“Dulu awal 2001 itu, di masa-masa memang penghasilan ya bisa dibilang itu luar biasa dan melimpah. Setelah usia tambak kami di 20 tahun ke atas, karena memang tambak ini sudah sekitar 30 tahun. Hasil itu di 10 tahun terakhir ini menurun drastis,” ucap Herman.

1. Sempat ragu karena takut panen udang akan makin menurun

Penanaman bibit pohon mangrove Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR). (dok. M4CR)

Kondisi itu menuntut para petambak memutar otak mencari jalan keluar demi kelangsungan usaha mereka. Titik balik hadir pada 2024, saat Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) memperkenalkan metode silvofishery, yakni pola budidaya yang mengintegrasikan penanaman mangrove di dalam kawasan pertambakan.

Awalnya, Herman dan para anggota khawatir kehadiran pohon mangrove dengan karakter akar yang besar justru akan mempersempit ruang gerak udang serta mengurangi luasan efektif tambak.

“Awal mulanya saya itu ragu, dan akhirnya mereka menjelaskan apa itu fungsi mangrove, manfaatnya ke tanah itu apa. Dan kami juga diajari untuk cara membibit, cara mencari bibit yang baik, cara menanamnya. Dan akhirnya saya dan kelompok itu sepakat untuk ikut penanaman mangrove ini,” kata Herman.

2. Penanaman mangrove dimulai

Penanaman bibit pohon mangrove Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR). (dok. M4CR)

KTT Tias Berkah diberikan pendampingan intensif diberikan melalui Program M4CR. Pendekatan diawali dengan sosialisasi Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan (PADIATAPA) dan dilanjutkan lewat sekolah lapang.

Dari ruang belajar inilah wawasan para petambak diperkaya, mulai dari teknik penanaman mangrove ideal hingga aspek teknis budidaya modern seperti manajemen pintu air, kontrol salinitas, dan pengecekan pH air.

Berbekal pemahaman baru, KTT Tias Berkah langsung merehabilitasi kawasan mangrove seluas 77 hektare (ha) dengan pola tanam 800 bibit per ha. Kelompok tani itu merawat bibit mangrove dengan konsisten, melakukan penyulaman pada tanaman yang mati, membersihkan gulma, hingga memantau pertumbuhan secara berkala.

3. Hasil panen naik dua kali lipat dan membuka peluang usaha baru

Udang windu hasil panen Kelompok Tani Tambak (KTT) Tias Berkah yang menggunakan metode silvofishery. (dok. M4CR)

Usaha merawat ekosistem pesisir itu membuahkan hasil nyata. Sebelum adopsi mangrove, hasil panen udang windu hanya berkisar 100–150 kilogram (kg). Setelah mangrove tumbuh subur, produksi melonjak tajam hingga mencapai 150–300 kg dalam sekali panen. Akar mangrove yang kokoh terbukti menjaga lingkungan dari abrasi, memperbaiki kualitas air, serta menjadi habitat alami pendukung ekosistem tambak.

“Penanaman itu di tahun 2024 akhir. Dan alhamdulillah ketika panen, usia penanaman saya itu di 1 tahun 2 bulan, dan memang yang saya tanam itu seperti ini. Kurang lebih yang kami tanam itu dari teman-teman M4CR, 61.600 bibit. Dan alhamdulillah hasil monev itu, yang hidup mencapai 87 persen. Dan hasil panen kami sudah mulai naik,” ujar Herman.

PPIU Manager M4CR Kalimantan Utara, Sarif mengatakan, atas dedikasi merehabilitasi mangrove dengan tingkat keberhasilan tumbuh mencapai 87 persen, KTT Tias Berkah mendapatkan apresiasi berupa dukungan skema Matching Grants untuk pengembangan usaha penggemukan kepiting bakau. Bantuan tersebut mencakup fiber boat beserta mesin tempel, benih kepiting bakau, hingga keranjang penggemukan.

"Pelestarian ekosistem mangrove harus sejalan dengan ketahanan pangan pesisir. Ketika lingkungan pulih, pasokan pangan dan pendapatan dari hasil budidaya pun ikut naik tanpa harus saling mengorbankan. Dedikasi mereka dalam merawat mangrove hingga mencapai tingkat keberhasilan tumbuh 87 persen adalah pencapaian luar biasa,” ujar Sarif.

Curated For You

Editorial Team

Related Article