Jakarta, IDN Times - Hamparan tambak tradisional membentang luas mengikuti garis pantai di Desa Tanjung Buka, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Di kawasan inilah Herman, Ketua Kelompok Tani Tambak (KTT) Tias Berkah, bersama anggota kelompoknya menggantungkan hidup keluarga mereka pada komoditas udang windu.
Namun, perjalanan mengelola tambak selama hampir dua dekade tidak selalu berjalan mulus. Setelah hampir 20 tahun, Herman mulai merasakan perubahan yang mencemaskan. Hasil panen udang windu yang menjadi urat nadi ekonomi mereka tak lagi stabil akibat kualitas air laut yang perlahan memburuk.
“Dulu awal 2001 itu, di masa-masa memang penghasilan ya bisa dibilang itu luar biasa dan melimpah. Setelah usia tambak kami di 20 tahun ke atas, karena memang tambak ini sudah sekitar 30 tahun. Hasil itu di 10 tahun terakhir ini menurun drastis,” ucap Herman.
