Ekspor Jeblok, Sisa Anggur Prancis Kini Diolah Jadi Bahan Bakar

- Uni Eropa mencairkan dana 40 juta euro untuk menyuling stok anggur Prancis yang menumpuk, demi menstabilkan harga dan menjaga ekonomi petani sebelum musim panen tiba.
- Hasil penyulingan anggur diubah menjadi bahan baku industri seperti disinfektan, produk farmasi, dan bioetanol guna mencegah kelebihan pasokan di pasar minuman beralkohol.
- Ekspor anggur Prancis anjlok akibat perubahan gaya hidup generasi muda dan hambatan perdagangan global, membuat stok melimpah meski lahan produksi sudah dikurangi sejak 2023.
Jakarta, IDN Times - Komisi Eropa memberikan bantuan dana darurat untuk para produsen anggur di Prancis yang sedang kesulitan. Langkah cepat ini diambil karena stok anggur yang tidak terjual terus menumpuk, sehingga membuat harga di pasar global anjlok parah.
Dana ini diambil dari cadangan pertanian Uni Eropa dengan tujuan menstabilkan pasar sebelum musim panen tiba di akhir tahun. Pemerintah Prancis dan Uni Eropa sepakat bahwa bantuan ini sangat mendesak demi menjaga ekonomi para petani dan mencegah krisis ini menyebar ke negara-negara Eropa lainnya.
1. Uni Eropa cairkan dana besar untuk atasi stok anggur yang melimpah

Uni Eropa telah mencairkan dana sebesar 40 juta euro (Rp782,88 miliar) untuk membiayai proses distilasi atau penyulingan sisa stok anggur Prancis yang tidak laku mulai Selasa (31/3/2026). Berdasarkan aturan, para pembuat anggur akan mendapatkan ganti rugi sebesar 33 euro (Rp645,88 ribu) per hektoliter.
Program darurat ini menyasar sekitar 1,2 juta hektoliter stok anggur merah dan rosé yang harganya merosot hampir 20 persen dibandingkan rata-rata lima tahun terakhir. Dengan membuang stok berlebih ini, diharapkan keseimbangan antara pasokan dan permintaan untuk tahun 2025/2026 bisa pulih, sekaligus mengurangi tekanan harga yang mengancam para produsen di wilayah penghasil anggur terbesar di Eropa tersebut.
Komisioner Pertanian Uni Eropa, Christophe Hansen, menjelaskan bahwa bantuan ini sangat penting untuk menyelamatkan sektor pertanian setempat.
"Petani anggur Prancis adalah bagian penting dari sejarah pertanian Eropa, tapi sekarang mereka menghadapi masalah besar yang belum pernah ada sebelumnya. Bantuan ini bertujuan untuk menolong pasar secara langsung agar harga tidak terus anjlok dan stok tidak menumpuk di Prancis," kata Hansen, dilansir Brussels Times.
2. Hasil sulingan anggur dialihkan jadi bahan medis dan bahan bakar industri

Seluruh alkohol mentah yang dihasilkan dari proses distilasi massal ini akan dialokasikan khusus untuk kebutuhan industri. Alkohol tersebut akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan disinfektan, produk farmasi, hingga bioetanol.
Aturan hukum melarang keras hasil penyulingan ini dijual kembali ke pasar makanan dan minuman. Hal ini dilakukan untuk mencegah persaingan tidak sehat karena pasar minuman beralkohol saat ini sudah terlalu jenuh. Melalui skema ini, Uni Eropa mengubah produk pertanian yang tidak laku menjadi barang berguna bagi sektor kesehatan dan energi, sambil tetap menjaga keseimbangan pasar.
Menteri Pertanian Prancis, Marc Fesneau, menekankan bahwa dana ini sangat penting agar para pembuat anggur bisa kembali mendapatkan penghasilan.
"Dana ini diberikan untuk menghentikan hancurnya harga supaya para petani anggur bisa kembali punya penghasilan. Namun, industri juga harus mulai memikirkan masa depan, melihat perubahan selera konsumen, dan menyesuaikan diri dengan keadaan pasar yang baru," kata Fesneau, dilansir Vinetur.
3. Ekspor anggur Prancis turun akibat perubahan gaya hidup

Turunnya permintaan anggur di dunia saat ini disebabkan oleh perubahan gaya hidup masyarakat, terutama generasi muda yang mulai mengurangi konsumsi alkohol tradisional. Selain itu, masalah ekonomi dunia dan tarif pajak perdagangan yang tinggi membuat ekspor ke negara besar seperti Amerika Serikat dan China menjadi sulit.
Akibatnya, jumlah ekspor anggur Prancis jatuh ke level terendah dalam 20 tahun terakhir. Padahal, Prancis sudah mencoba mengurangi produksi dengan menutup 35 ribu hektar lahan anggur sejak tahun 2023. Namun, stok tetap saja berlebih karena penurunan jumlah orang yang minum anggur jauh lebih cepat dibandingkan pengurangan luas lahan.
Anggota Parlemen Eropa, Esther Herranz García, menjelaskan bagaimana kebijakan ini membantu petani menghadapi krisis ekonomi sekaligus perubahan iklim.
"Aturan ini adalah jawaban yang tepat untuk krisis di sektor anggur. Eropa memberikan bantuan nyata berupa dana darurat untuk membantu petani beradaptasi lebih cepat terhadap perubahan pasar dan tantangan iklim," kata García.
Melalui bantuan nyata ini, pihak berwenang di Eropa berharap para produsen anggur bisa mengatur ulang produksi mereka dan mencari peluang di pasar ekspor baru agar usaha mereka bisa bertahan dalam jangka panjang.



















