Sampul buku Kebanksentralan: Konsep dan Kebijakan yang diterbitkan BI Institute pada 2026. (bi.go.id/BI Institute)
Pergantian Gubernur BI terjadi ketika pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Pada saat yang sama, bank sentral harus tetap menjalankan kebijakan berdasarkan kebutuhan menjaga inflasi, rupiah, dan stabilitas sistem keuangan. Reuters melaporkan proses pencalonan pemimpin baru BI diawasi investor karena muncul kekhawatiran mengenai independensi kebijakan bank sentral.
Independensi tidak berarti BI bekerja sendiri tanpa berkoordinasi dengan pemerintah. Kebijakan moneter dan fiskal tetap perlu saling mendukung, tetapi keputusan bank sentral harus didasarkan pada analisis ekonomi dan mandat kelembagaannya. Koordinasi diperlukan untuk menjaga pertumbuhan, sedangkan independensi dibutuhkan agar keputusan tidak semata-mata mengikuti kepentingan jangka pendek.
Dalam forum Bank Indonesia pada 4 Agustus 2026, Destry menekankan pentingnya kredibilitas kelembagaan, komunikasi kebijakan, dan pengambilan keputusan berbasis bukti. Ia mengatakan BI berkomitmen memperkuat riset yang relevan untuk mendukung perumusan kebijakan di tengah perubahan ekonomi dan keuangan global.
Pergantian Gubernur BI bukan sekadar pergantian jabatan di sebuah lembaga negara. Pemimpin yang terpilih akan menghadapi pekerjaan besar untuk menjaga rupiah, mengendalikan inflasi, mendukung pembiayaan produktif, serta mempertahankan kepercayaan publik dan pasar. Pada akhirnya, keberhasilan kebijakan tersebut akan dinilai melalui hal yang paling dekat dengan masyarakat: harga yang terkendali, cicilan yang terjangkau, dan kegiatan usaha yang tetap bergerak.