Jos! Produk Lokal Sour Sally Ekspansi Bisnis ke Filipina

Sour Sally memperluas bisnis ke Filipina, pasar internasional ketiganya setelah Indonesia dan Uni Emirat Arab, dengan gerai pertama di Greenhills Mall, Metro Manila, pada November 2026.
Didirikan pada 2008, Sour Sally mengoperasikan 180 gerai di tiga negara dan lebih dari 30 kota, menjual lebih dari 100 juta cup serta melayani 15 juta pelanggan per tahun.
Ekspansi Filipina dijalankan melalui waralaba bersama Frank Lao dan Janica Faye Lao, untuk membangun pertumbuhan jangka panjang sambil mempertahankan identitas dan standar produk.
Jakarta, IDN Times - Merek makanan dan minuman (food and beverage/F&B) asal Indonesia, Sour Sally, memperluas bisnis ke Filipina.
Ekspansi ini menjadikan Filipina sebagai pasar internasional ketiga Sour Sally setelah Indonesia dan Uni Emirat Arab.
Gerai pertama Sour Sally dibuka di Greenhills Mall, Greenhills Shopping Center, San Juan City, Metro Manila, pada November 2026.
Pendiri sekaligus CEO Sour Sally, Donny Pramono mengatakan ekspansi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan merek lokal ke pasar internasional.
“Kami melihat Filipina sebagai pasar yang menawarkan peluang besar untuk membangun hubungan yang bermakna dengan konsumen sekaligus memperkenalkan pengalaman khas Sour Sally di pasar internasional yang baru,” ujar Donny dalam keterangan tertulis, Jumat (6/11/2026).
1. Sour Sally layani 15 juta pelanggan setiap tahun

Ilustrasi Bisnis. (IDN Times/Aditya Pratama) Sour Sally berdiri sejak 2008 dan telah mengoperasikan 180 gerai di tiga negara dan lebih dari 30 kota. Selama 18 tahun beroperasi, Sour Sally mengembangkan bisnis yoghurt beku dengan sejumlah inovasi produk.
Salah satu produk andalannya adalah Black Sakura, yang diperkenalkan sebagai yoghurt beku hitam pertama di dunia. Produk ini menggunakan arang aktif alami dan mengandung probiotik. Hampir dua dekade sejak diperkenalkan, Black Sakura masih menjadi produk terlaris Sour Sally.
Perusahaan mengklaim telah menjual lebih dari 100 juta cup dan melayani lebih dari 15 juta pelanggan setiap tahun.
Bisnis tersebut juga mempekerjakan lebih dari 1.000 karyawan.
2. Ekspansi Filipina mengandalkan model bisnis waralaba

Ilustrasi Bisnis. (IDN Times/Aditya Pratama) Ekspansi ke Filipina dilakukan melalui kerja sama dengan mitra waralaba lokal, Frank Lao dan Janica Faye Lao.
Head of International Franchise Development Sour Sally, Christian Jordan, mengatakan perusahaan ingin mengembangkan bisnis jangka panjang di pasar tersebut dengan mempertahankan identitas merek dan standar produknya.
“Fokus kami bukan hanya menghadirkan gerai pertama, tetapi juga membangun keberadaan bisnis yang berkelanjutan bersama mitra waralaba lokal serta meletakkan fondasi yang kuat bagi pertumbuhan jangka panjang,” kata Christian.
Model waralaba tersebut memungkinkan Sour Sally memperluas jaringan gerai di pasar baru dengan melibatkan mitra lokal. Perusahaan juga menyesuaikan pendekatan bisnis dengan karakteristik konsumen setempat tanpa mengubah identitas utama merek.
3. Genjot perjuasan pasar internasional

Ilustrasi Bisnis. (IDN Times/Aditya Pratama) Perusahaan melihat ekspansi internasional sebagai peluang untuk memperluas jaringan waralaba sekaligus memperkenalkan produk F&B asal Indonesia kepada konsumen di luar negeri.
Pembukaan gerai pertama di Greenhills Mall turut dihadiri perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Manila, termasuk Atase Perdagangan Rahayu Ningsih dan Wakil Kepala Perwakilan RI di Manila, Victorina Hesti Dewayani.
Ke depan, Sour Sally berencana menggelar sejumlah kegiatan promosi bersama mitra waralaba, media, kreator konten, dan masyarakat Filipina untuk memperkenalkan mereknya di pasar tersebut.




















