Ilustrasi gerai Starbucks. (unsplash.com/AK)
Gelombang kritik memaksa Starbucks Korea menarik promosi tersebut hanya dalam waktu singkat. Sementara, Shinsegae Group selaku pemegang saham mayoritas melalui E-Mart langsung mengambil tindakan tegas. CEO Starbucks Korea saat itu, Son Jeong-hyun, beserta seorang eksekutif lainnya langsung dipecat pada hari yang sama ketika kontroversi ini meletus. Ketua Shinsegae Group Chung Yong-jin menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada publik dan keluarga korban. Ia juga memerintahkan audit internal.
Di sisi lain, Presiden Korsel, Lee Jae Myung, juga turut angkat suara dengan mengutuk keras kampanye pemasaran yang dianggap tidak peka terhadap sejarah tersebut.
Sebagai bagian dari pemulihan citra merek, Starbucks Korea mengambil langkah luar biasa dengan menutup lebih dari 2 ribu gerainya lebih awal. Penunutupan serentak ini digunakan untuk menggelar pelatihan wajib mengenai sejarah dan kepekaan sosial bagi seluruh karyawan, dikutip dari The Straits Times.
Dalam proses penyelidikan, pihak kepolisian sempat menemui kendala karena audit internal perusahaan dinilai tidak maksimal. Sejumlah karyawan yang terlibat dalam penyusunan kampanye dilaporkan menolak menyerahkan telepon seluler mereka, sedangkan sebagian catatan pesan internal dari tahap awal perencanaan telah terhapus karena melewati batas waktu penyimpanan data perusahaan.