Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Konflik AS-Iran Bisa Memengaruhi Harga Minyak dan Saham?
ilustrasi market yang turun (freepik.com/standret)
  • Menurunnya peluang damai AS-Iran dan penutupan Selat Hormuz memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi; Brent ditutup US$88,91 dan minyak mentah AS US$83,20 per barel pada 11 Agustus.
  • Minyak yang mahal dapat menaikkan biaya transportasi serta produksi, mendorong inflasi, dan memengaruhi ekspektasi investor terhadap durasi suku bunga tinggi Federal Reserve.
  • Ketidakpastian konflik menekan Wall Street dan mendorong sikap hati-hati investor, meski sektor energi S&P 500 naik 1,1 persen; gangguan berkepanjangan berisiko membebani pertumbuhan global.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Konflik AS dan Iran kembali mengguncang pasar setelah peluang terjadinya kesepakatan damai semakin menurun. Investor langsung memperhatikan pergerakan harga minyak karena konflik tersebut berpotensi mengganggu jalur perdagangan energi penting. Wall Street pun ikut tertekan ketika ketidakpastian meningkat.

Pergerakan harga minyak menjadi perhatian bukan hanya bagi perusahaan energi. Kenaikan biaya energi dapat memengaruhi harga barang, keputusan bank sentral, hingga keuntungan perusahaan di berbagai sektor. Berikut beberapa alasan mengapa perkembangan konflik AS-Iran bisa ikut menentukan arah pasar saham dan ekonomi global.

1. Selat Hormuz jadi kunci pasokan minyak dunia

Peta Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/Goran_tek-en, free license)

Salah satu alasan utama pasar sangat memperhatikan konflik ini adalah posisi Selat Hormuz sebagai jalur penting perdagangan energi. Ketika Iran mempertahankan penutupan selat tersebut, kapal pengangkut minyak dan energi menghadapi ketidakpastian untuk melewati jalur tersebut. Kekhawatiran mengenai pasokan yang terganggu kemudian mendorong harga minyak naik karena pasar mulai memperhitungkan kemungkinan berkurangnya pasokan.

Pada 11 Agustus, harga minyak Brent ditutup di US$88,91 per barel, sedangkan minyak mentah AS berada di US$83,20 per barel. Kenaikan tersebut terjadi ketika harapan mengenai kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz memudar. Selama ketidakpastian mengenai jalur tersebut bertahan, pasar minyak akan terus sensitif terhadap setiap perkembangan konflik.

2. Minyak mahal bisa membuat inflasi kembali naik

ilustrasi barel minyak (pexels.com/Александр Лич)

Kenaikan harga minyak tidak berhenti pada pasar komoditas karena energi merupakan bagian penting dari aktivitas ekonomi sehari-hari. Ketika minyak menjadi lebih mahal, biaya transportasi dan produksi dapat meningkat sehingga perusahaan berpotensi menaikkan harga barang atau jasa. Kondisi tersebut dapat membuat tekanan inflasi kembali meningkat setelah sebelumnya mulai mereda.

Masalahnya menjadi lebih besar jika inflasi tinggi membuat bank sentral harus mempertahankan suku bunga pada tingkat tinggi lebih lama. Data inflasi AS yang terbaru kini menjadi salah satu pertimbangan investor dalam memperkirakan arah suku bunga Federal Reserve. Artinya, konflik AS-Iran dapat memengaruhi pasar saham bukan hanya melalui harga minyak, tetapi juga melalui ekspektasi terhadap kebijakan moneter.

3. Saham bisa tertekan saat investor mulai berhati-hati

ilustrasi seorang investor (freepik.com/pressfoto)

Ketidakpastian geopolitik biasanya membuat investor lebih berhati-hati dalam mengambil risiko. Kekhawatiran terhadap konflik berkepanjangan dapat membuat sebagian pelaku pasar mengurangi kepemilikan saham dan mencari aset yang dianggap lebih aman. Tekanan terhadap pasar saham AS terlihat dari pergerakan Wall Street dalam beberapa waktu terakhir, ketika investor mulai lebih berhati-hati menghadapi ketidakpastian seputar konflik tersebut.

Namun, dampaknya tidak selalu sama bagi setiap saham. Perusahaan energi justru dapat memperoleh sentimen positif ketika harga minyak meningkat karena harga jual komoditas yang lebih tinggi berpotensi mendukung pendapatan mereka. Pada perdagangan tersebut, indeks sektor energi S&P 500 naik sekitar 1,1 persen, sementara sejumlah saham teknologi seperti Amazon, Alphabet, dan Nvidia justru mengalami tekanan.

4. Dampaknya bisa meluas ke ekonomi global

ilustrasi penurunan ekonomi (pixabay.com/Gerd Altmann)

Jika gangguan energi berlangsung lama, persoalannya dapat berkembang dari sekadar kenaikan harga minyak menjadi tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi. Negara yang sangat bergantung pada impor energi harus menghadapi biaya yang lebih tinggi, sementara perusahaan juga dapat mengalami peningkatan biaya operasional. Pada akhirnya, kondisi tersebut berpotensi menekan daya beli masyarakat dan laba perusahaan.

Pasar global juga akan terus mencermati perkembangan Selat Hormuz karena jalur tersebut memiliki peran besar dalam perdagangan energi. Bahkan ketika harga minyak masih bergerak di sekitar US$80 hingga US$90 per barel, perubahan ekspektasi mengenai pembukaan kembali selat dapat membuat harga bergerak tajam. Karena itu, durasi konflik menjadi faktor penting yang menentukan seberapa besar dampaknya terhadap ekonomi dan pasar.

Hubungan AS dan Iran memperlihatkan betapa cepatnya ketegangan geopolitik merembet ke pasar keuangan. Perubahan harga minyak dapat memengaruhi biaya produksi, inflasi, hingga prospek keuntungan perusahaan di berbagai negara. Karena itu, perkembangan konflik ini menjadi salah satu faktor yang patut diperhatikan investor dalam membaca arah pasar berikutnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article