Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kisah Perusahaan Tekstil asal Nganjuk Bertahan di Krisis Global

Kisah Perusahaan Tekstil asal Nganjuk Bertahan di Krisis Global
Presiden Direktur PT Mitra Saruta Indonesia, Hoo Yanto Andrian (IDN Times/Pitoko)
Intinya Sih
  • PT Mitra Saruta Indonesia tetap stabil di tengah krisis global berkat pasar ekspor yang beragam, termasuk Jepang, AS, serta perluasan ke Afrika dan Eropa.
  • Perusahaan mampu bertahan karena 95 persen bahan baku benang berasal dari limbah tekstil daur ulang lokal, sehingga tidak tergantung impor.
  • Saat pandemi COVID-19, bisnis sempat turun 50 persen namun pulih cepat dalam setahun berkat produk alternatif seperti benang dan sarung tangan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Surabaya, IDN Times - Presiden Direktur PT Mitra Saruta Indonesia (MSI), Hoo Yanto Andrian mengungkapkan resep di balik perusahaannya bisa bertahan di tengah ketidakpastian global yang terjadi saat ini.

Untuk diketahui, PT Mitra Saruta Indonesia adalah perusahaan tekstil yang memproduksi sarung tangan, kaos kaki, dan sejumlah produk tekstil lainnya. PT Mitra Saruta Indonesia mengoperasikan pabrik di Nganjuk, Jawa Timur dan menjadi salah satu mitra dari Lembaga Penjamin Ekspor Indonesia (LPEI) atau EximBank.

"Kita ini sudah lebih dari 30 tahun ekspor. Jadi kondisi yang sekarang itu kita alami sebelum-sebelumnya. Jadi, sudah terbiasa katakan seperti itu. Nah, kenapa efek daripada situasi-situasi yang kita alami sekarang ini tidak berdampak begitu signifikan? Karena market kita cukup diverse," kata Yanto saat berkunjung ke pabrik PT Mitra Saruta di Nganjuk, Kamis (16/4/2026).

1. Tujuan negara ekspor MSI

Pabrik PT Mitra Saruta Indonesia di Nganjuk, Jawa Timur
Pabrik PT Mitra Saruta Indonesia di Nganjuk, Jawa Timur (IDN Times/Pitoko)

Yanto menjelaskan, MSI memiliki pasar utama ekspor yakni Jepang dan Amerika Serikat (AS). Namun, pihaknya menjalankan strategi lebih agresif guna membuka pasar-pasar baru di luar negeri.

Baru-baru ini, perusahaan tekstil dengan 1.700 karyawan tersebut menyasar beberapa negara-negara di Afrika dan Eropa untuk mengekspor produk-produknya.

"Kita semuanya tahu bahwa di Afrika sendiri itu negara-negara Afrika pada tahap sekarang itu mereka juga sudah mulai develop. Jadi, South Africa kita sudah ekspor, Tunisia, Egypt itu cukup lama sebenarnya, beberapa negara Eropa yang istilahnya market tradisional kita termasuk Portugal, Spain dan sebagainya itu masih kontinu," tutur Yanto.

2. Bahan baku yang tidak tergantung impor

Kisah Perusahaan Tekstil asal Nganjuk Bertahan di Krisis Global
Pabrik PT Mitra Saruta Indonesia di Nganjuk, Jawa Timur (IDN Times/Pitoko)

Selain itu, satu hal lainnya yang membuat MSI mampu bertahan di situasi tidak pasti seperti sekarang lantaran tidak bergantung pada benang yang menjadi bahan baku produk-produknya.

Yanto menjelaskan, produk-produknya seperti yang utama sarung tangan dibuat menggunakan benang hasil pengolahan kembali limbah tekstil.

"Sedikit saya ceritakan background daripada industri kita yang agak unik ini. Jadi, kalau benang kita yang kita proses atau spinning kita itu 95 persen kita menggunakan material daur ulang," kata Yanto.

Adapun limbah-limbah tekstil itu berasal dari para pengepul atau industri-industri kecil yang berada di sekitar pabrik MSI.

3. Pandemik COVID-19 sempat buat bisnis Mitra Saruta tersendat

Kisah Perusahaan Tekstil asal Nganjuk Bertahan di Krisis Global
Pabrik PT Mitra Saruta Indonesia di Nganjuk, Jawa Timur (IDN Times/Pitoko)

Di sisi lain, Yanto kemudian mengambil contoh pada saat terjadinya pandemik COVID-19 enam tahun silam. Menurut dia, saat pandemik terjadi perusahaannya mampu memulihkan diri lumayan cepat. Meski begitu, pada 2-3 bulan pertama pandemik, bisnisnya sempat jatuh cukup lumayan hingga 50 persen.

"Tapi, setelah bulan keempat kita sudah menanjak 80 persen dan 90 persen itu tidak lebih dari satu tahun. Jadi, recovery rate kita terhadap resiko-resiko tersebut cukup bagus. Nah, kenapa itu bisa terjadi? Karena mungkin dari seperti saya katakan adalah produk alternatif yang kita punya," tutur Yanto.

"Untuk produk jadi, terutama benang, itu menjadi produk alternatif pada masa-masa sulit," sambung dia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More