Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik dalam pembukaan CMSE 2026, Kamis (5/11/2026). (IDN Times/Vadhia Lidyana)
  • CMSE 2026 dibuka di Gedung BEI pada 5–7 November, dipadati pengunjung dan menghadirkan 88 booth untuk mengenalkan produk investasi pasar modal.

  • BEI dan OJK menyoroti tekanan pasar akibat evaluasi transparansi, kredibilitas, serta tata kelola oleh MSCI, FTSE Russell, dan S&P DJI, di tengah volatilitas global.

  • Di tengah tekanan IHSG, fundamental emiten dan transaksi harian disebut tetap tumbuh, sementara jumlah investor meningkat 63,94 persen menjadi 33,36 juta.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Capital Market Summit Expo (CMSE) yang menjadi ajang Bursa Efek Indonesia (BEI) mengajak masyarakat mengenali berbagai produk investasi di pasar modal resmi dibuka.

CMSE digelar mulai hari ini, Kamis (5/11/2026) sampai Sabtu, (7/11). Di hari pertama penyelenggaraan, suasana gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) dipadati pengunjung acara tersebut. Dari pantauan IDN Times, antrean pengunjung ke gedung BEI untuk menghadiri CMSE mengular, sampai ke pintu di Halte BEI.

Di dalam gedung, ada 88 booth yang memeriahkan acara. Lobby gedung BEI yang biasanya lengang untuk lalu lalang, siang ini dipadati pengunjung.

Tak hanya pekerja dan pegiat pasar modal, banyak mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi hadir.

Pembukaan CMSE diisi dengan sambutan dari Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik. Dalam sambutannya, dia menyinggung tantangan yang dihadapi pasar modal saat ini, yaitu evaluasi terkait transparansi, kredibilitas, dan tata kelola dari penyedia indeks global, baik MSCI Inc (sebelumnya Morgan Stanley Capital International), FTSE Russel, dan S&P DJI.

Evaluasi itu memberikan tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan. Terakhir, pertimbangan MSCI mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market dan Standalone Market, yang memberikan dampak pada IHSG. Bahkan, perdagangan IHSG sempat dihentikan sementara atau trading halt.

“CMSE tahun ini kita lakukan dalam suasana yang penuh dinamika. Kalau kita melihat di satu sisi, pertumbuhan di pasar modal kita masih baik. Secara fundamental kinerja perusahaan tercatat di bursa masih baik. Nilai transaksi harian masih tumbuh di atas 10 persen,” ujar Jeffrey.

1. Fundamental emiten disebut masih baik

Suasana booth Capital Market Summit & Expo 2026 (CMSE 2026) di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (5/11/2026). (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Meski begitu, dalam membangkitkan optimisme, Jeffrey mengatakan fundamental perusahaan tercatat alias emiten Tanah Air masih baik. Dia mengatakan, nilai transaksi harian juga tumbuh di atas 10 persen.

“Kalau kita melihat di satu sisi pertumbuhan di pasar modal kita masih baik. Secara fundamental kinerja perusahaan tercatat di bursa masih baik. Nilai transaksi harian masih tumbuh di atas 10 persen. Jumlah investor kita tumbuh lebih dari 50 persen. Tetapi di sisi lain kita juga menghadapi tantangan di tahun ini,” tutur Jeffrey.

2. Evaluasi MSCI Cs juga jadi sorotan OJK

Deputi Komisioner Perizinan dan Pengawas Pengelolaan Investasi Pasar Modal dan Lembaga Efek OJK, Eddy Manindo Harahap dalam pembukaan CMSE 2026, Kamis (5/11/2026). (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Untuk melengkapi sesi pembukaan CMSE 2026, BEI turut memberikan waktu bagi OJK memberikan pidato kunci alias keynote speech. Dari pihak OJK, Deputi Komisioner Perizinan dan Pengawas Pengelolaan Investasi Pasar Modal dan Lembaga Efek, Eddy Manindo hadir mewakili Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi.

Hasan tak hadir karena waktu pembukaan CMSE 2026 bentrok dengan konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK.

Senada dengan Jeffrey, dalam sambutannya Eddy menyoroti evaluasi penyedia indeks global yang membayangi kinerja pasar modal Indonesia.

“Kita perlu mengaku ya bahwa tahun 2026 ini menjadi tahun yang menguji ketahanan pasar modal kita. Dari volatalitas ekonomi global, eskalasi tensi geopolitik, serta dinamika dari penilaian index provider global yang kita alami, memberikan tekanan yang tidak ringan bagi pasar saham domestik kita,” tutur Eddy.

3. Sebut masyarakat masih percaya pada pasar modal Indonesia

Suasana booth Capital Market Summit & Expo 2026 (CMSE 2026) di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (5/11/2026). (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Menurut Eddy, di balik tekanan terhadap IHSG, ada fakta lain yang patut disyukuri, di mana jumlah investor pasar modal yang masih tumbuh 63,94 persen atau sebanyak 13 juta investor, menjadi 33,36 juta investor.

Dia mengatakan, data itu membuktikan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia masih tinggi.

“Ini semakin menegaskan bahwa pasar modal kita adalah milik seluruh rakyat Indonesia,” kata Eddy.

Curated For You

Editorial Team

Related Article