ilustrasi kapal pengangkut minyak (unsplash.com/Fredick F.)
Dilansir dari CNN International, upaya pemerintah AS mengendalikan harga energi di jalur pasokan minyak telah berlangsung sejak sebulan lalu melalui bantuan Angkatan Laut AS mengawal kapal tanker keluar dari Selat Hormuz. Presiden Donald Trump juga mengumumkan kesepakatan pelonggaran sebagian sanksi Rusia demi membuka keran impor solar.
Layanan pelacak maritim Kpler melaporkan sedikitnya 18 kapal di sekitar Timur Tengah diserang dalam dua pekan terakhir. Dampaknya, transit minyak dan bahan bakar anjlok hingga 54 persen dari level pra-perang.
“Tampaknya Iran berusaha menjaga harga minyak tetap tinggi menjelang pemilihan paruh waktu, dan cara terbaik untuk melakukannya adalah meningkatkan serangan - baik dari mereka sendiri maupun melalui Houthi,” kata Analis Kpler, Matt Smith.
Dampak konflik tecermin dari data Asosiasi Otomobil Amerika (AAA) yang mencatat rata-rata harga bensin harian mencapai 4,33 dolar AS (setara Rp77,5 ribu) per galon dan solar 6,29 dolar AS (setara Rp112,6 ribu) per galon. Kepala Analisis Perminyakan GasBuddy, Patrick DeHaan, mengungkapkan sepanjang 2026 telah tercatat 158 hari dengan rata-rata harga bensin di atas 4 dolar AS (setara Rp71,6 ribu) per galon, menjadi jumlah terbanyak dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Lembaga riset Moody’s Analytics menaksir dampak perang Iran menambah beban pengeluaran rata-rata rumah tangga AS sebesar 2 ribu dolar AS (setara Rp35,8 juta).
“Perang tanpa arah di Iran terus mengganggu rantai pasok global, mendorong naiknya harga pangan dan bahan bakar,” kata Kepala Ekonom Yayasan The Century (TCF), Kyle Moore kepada Al Jazeera.