Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

IHSG Berisiko Lanjut Lesu, Usulan MSCI Ujian Kepercayaan Investor

2 min read
IHSG Berisiko Lanjut Lesu, Usulan MSCI Ujian Kepercayaan Investor
ilustrasi pergerakan IHSG (IDN Times/Aditya Pratama)
  • IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan menuju level 5.500 jika tekanan jual membesar, dengan level 5.700 menjadi area penting yang dicermati pasar.
  • Usulan MSCI mengubah status Indonesia menjadi Standalone Market memicu kekhawatiran atas transparansi kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, dan penegakan aturan.
  • Potensi arus keluar dana asing diperkirakan berkisar 2,2-13 miliar dolar AS pada skenario tertentu, meski belum ada proyeksi resmi untuk Standalone Market.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melanjutkan pelemahan pada perdagangan Jumat (16/10/2026), di tengah kekhawatiran investor menyusul usulan Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai level 5.700 menjadi area yang perlu dicermati. Jika tekanan jual semakin besar, IHSG berisiko melanjutkan koreksi menuju level 5.500.

"Persoalan ini bukan lagi sekadar koreksi teknikal, melainkan krisis kepercayaan terhadap tata kelola pasar modal Indonesia," kata Hendra, Jumat (16/10/2026).

  1. 1. Tekanan IHSG tak lagi hanya karena faktor teknikal

    ilustrasi pergerakan IHSG (IDN Times/Aditya Pratama)
    ilustrasi pergerakan IHSG (IDN Times/Aditya Pratama)

    Menurut Hendra, tekanan terhadap IHSG tidak lagi semata-mata berkaitan dengan faktor teknikal, tetapi juga menyangkut kepercayaan investor terhadap tata kelola pasar modal Indonesia.

    MSCI menyoroti sejumlah persoalan, termasuk transparansi kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi (coordinated trading), serta bukti penegakan aturan yang dinilai belum memadai.

  2. 2. Risiko usulan MSCI perlu diwaspadai

    ilustrasi IHSG (IDN Times/Muhammad Surya)
    ilustrasi IHSG (IDN Times/Muhammad Surya)

    Meski perubahan klasifikasi tersebut masih berupa usulan, Hendra menilai risiko ini perlu diwaspadai karena MSCI mensyaratkan adanya bukti perbaikan yang material untuk meninjau kembali proses reklasifikasi. Risiko berikutnya adalah potensi keluarnya dana asing dari pasar saham Indonesia.

    "Jika Indonesia dikeluarkan dari kelompok indeks Emerging Market maupun Frontier Market, dana investasi pasif yang mengacu pada indeks terkait perlu menyesuaikan portofolionya. Sementara itu, sebagian investor aktif berpotensi mengurangi eksposur terhadap saham Indonesia," ujar Hendra.

  3. 3. Ada potensi peningkatan arus modal asing keluar

    ilustrasi IHSG (IDN Times/Aditya Pratama)
    ilustrasi IHSG (IDN Times/Aditya Pratama)

    Hendra menyebutkan, sejumlah estimasi potensi arus keluar dana asing sebelumnya berkisar 2,2 miliar hingga 7,8 miliar dolar AS untuk skenario tertentu. Bahkan, terdapat estimasi hingga 13 miliar dolar AS untuk skenario penurunan klasifikasi ke Frontier Market.

    "Dengan asumsi kurs Rp17.000-Rp18.000 per dolar AS, nilai tersebut setara dengan sekitar Rp37,4 triliun hingga Rp234 triliun," kata Hendra.

    Namun, angka tersebut bukan proyeksi resmi MSCI untuk skenario Standalone Market. Besaran arus keluar dana asing yang benar-benar terjadi masih belum dapat dipastikan.

    Di sisi lain, tekanan pasar juga berpotensi diperburuk oleh pelemahan rupiah, tingginya suku bunga global, serta ketidakpastian kebijakan ekonomi domestik.

    Hendra menilai pemerintah perlu memastikan kebijakan fiskal, efektivitas belanja negara, dan pelaksanaan program prioritas berjalan secara transparan dan efisien agar tidak menambah kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi.

    Dia juga menyoroti wacana perubahan mekanisme penyaluran dana pemerintah melalui koperasi. Menurutnya, kebijakan tersebut perlu dikaji dari sisi tata kelola, biaya, dan dampaknya terhadap sistem perbankan sebelum diterapkan.

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More