ilustrasi Starbucks, kedai kopi, kafe, tempat nongkrong, tempat ngopi, es kopi (pexels.com/Dainé Zeferino)
Meskipun jumlah gerainya menurun di sejumlah negara, Starbucks masih mencatatkan pendapatan yang besar. Hasil keuangan kuartal III 2026 menunjukkan pendapatan perusahaan mencapai US$9,3 miliar atau sekitar Rp155,31 triliun, dengan asumsi kurs Rp16.700 per dolar AS. Pada periode yang sama, penjualan di gerai yang telah beroperasi setidaknya selama periode pembanding yang ditentukan perusahaan meningkat 7,9 persen secara global. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja bisnis gak hanya ditentukan oleh jumlah gerai, tapi juga oleh perkembangan penjualan di lokasi yang sudah beroperasi.
Namun, pendapatan Starbucks secara tahunan tercatat turun 1,4 persen. Salah satu faktor yang turut memengaruhi angka tersebut adalah perubahan model operasional bisnis Starbucks di China menuju skema usaha patungan berlisensi. Dalam model ini, perusahaan bekerja sama dengan mitra untuk mengoperasikan gerai, sehingga keterlibatan langsung Starbucks dalam kegiatan operasional sehari-hari dapat berkurang. Sekitar 67 persen gerai Starbucks dalam data yang dibahas telah berstatus berlisensi, memperlihatkan pentingnya peran mitra dalam jaringan bisnis global perusahaan.
Ke depannya, perkembangan Starbucks akan bergantung pada kemampuannya menyeimbangkan ekspansi internasional, persaingan lokal, dan perubahan preferensi konsumen. Penambahan gerai memang bisa memperluas jangkauan merek, tapi perusahaan juga perlu memastikan setiap lokasi memiliki peluang bisnis yang memadai. Bagi Indonesia, perubahan jumlah gerai menjadi hal menarik untuk diperhatikan dalam beberapa tahun mendatang. Terlebih, Indonesia masih berada dalam 10 besar negara dengan jaringan Starbucks terbesar di dunia.
Peta gerai Starbucks dunia pada kuartal III 2026 memperlihatkan bahwa Amerika Serikat dan China masih mendominasi jaringan global perusahaan, sementara Korea Selatan dan Jepang menjadi pasar penting di Asia. Indonesia berada di peringkat ke-10 dengan 592 gerai, meskipun jumlahnya berkurang 17 lokasi dibandingkan dua tahun sebelumnya.
Di tengah ekspansi di sejumlah negara dan penutupan gerai di pasar lainnya, Starbucks tetap mencatatkan pendapatan kuartalan yang besar. Perkembangan ini menunjukkan bahwa keberhasilan bisnis kopi global bukan hanya ditentukan oleh jumlah gerai, tapi juga oleh strategi operasional dan kemampuan beradaptasi dengan kondisi pasar.