Program co-firing biomassa. (Dok. PLN)
Selain hidrogen, PLN Indonesia Power menguji teknologi co-firing amonia di PLTU Labuan. Teknologi ini dilakukan dengan mencampurkan amonia ke dalam bahan bakar batu bara di boiler untuk mengurangi konsumsi batu bara.
Dalam pengujian dengan rasio campuran amonia sebesar 1 persen, perusahaan mencatat potensi peningkatan efisiensi PLTU hingga 1,3 persen dan penghematan konsumsi batu bara sekitar 19.700 ton per tahun.
"Penggunaan teknologi tersebut juga berpotensi menurunkan emisi karbon hingga 1,8 persen, dengan pengurangan emisi tahunan mencapai 35.000 ton;" kata Bernardus.
Untuk mendukung pengembangan teknologi tersebut, PLN Indonesia Power juga menjajaki pemanfaatan kelebihan pasokan (excess) hidrogen dari PLTGU Cilegon, PLTGU Priok, dan PLTGU Tambak Lorok sebagai bahan baku produksi amonia hijau.
Perusahaan menilai, pemanfaatan hidrogen dari pembangkit gas dapat membuka peluang integrasi teknologi antarpembangkit sekaligus mendukung diversifikasi bahan bakar di sektor ketenagalistrikan.
Ke depan, PLN Indonesia Power akan melanjutkan kajian, pengujian, dan evaluasi teknis untuk memastikan pengembangan co-firing hidrogen dan amonia memenuhi aspek keselamatan, keandalan, efisiensi, serta kelayakan implementasi.
Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk mendukung target dekarbonisasi nasional melalui pemanfaatan teknologi pembangkitan yang lebih efisien dan rendah emisi.