Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Rupiah Lanjutakan Pelemahan hingga Rp18.135 per Dolar AS di Penutupan
ilustrasi mata uang rupiah (vecteezy.com/tri agung susilo haryono)
  • Rupiah ditutup melemah 55 poin atau 0,30 persen ke level Rp18.135 per dolar AS pada perdagangan Senin, 26 Oktober 2026.
  • Tekanan rupiah dipicu kekhawatiran eskalasi geopolitik Timur Tengah yang mengangkat harga minyak mentah kembali di atas 100 dolar AS per barel.
  • Arus keluar dana asing dari pasar saham domestik turut membebani rupiah; investor dinilai menunggu langkah konkret untuk memulihkan kepercayaan pasar modal Indonesia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah melanjutkan pelemahan hingga penutupan perdagangan, Senin (26/10/2026) sore. Mata uang Garuda ditutup pada level Rp18.135 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah tercatat melemah 55 poin atau 0,30 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

1. Mata uang di Asia bergerak melemah

Mayoritas mata uang tercatat bergerak melemah, rinciannya:

  • Bath Thailand melemah 0,05 poin

  • Rupee India melemah 0,30 poin

  • Pesso Filipina melemah 0,30 poin

  • Won Korea melemah 2,20 poin

  • Yen Jepang melemah 0,30 poin

2. Alasan rupiah melemah

Pengamat Pasar Uang, Lukman Leong mengatakan, nilai tukar rupiah yang masih tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini disebabkam oleh kekhawatiran terhadap eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak mentah serta berlanjutnya arus keluar dana asing dari pasar saham domestik menjadi sentimen negatif bagi rupiah.

"Ada kekhawatiran terkait eskalasi tensi geopolitik timteng yang kembali membuat harga minyak naik di atas 100 dolar AS per barel," ucapnya.

3. Rupiah juga terdampak gejolak domestik

Selain tekanan dari eksternal, arus keluar dana asing (capital outflow) di pasar saham domestik yang masih berlanjut turut membebani pergerakan rupiah. Menurut Lukman, sejumlah langkah telah disiapkan untuk merespons dinamika pasar modal domestik, termasuk rencana mengeluarkan saham dengan kategori high share concentration (HSC) dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Meski demikian, ia menilai investor membutuhkan langkah konkret untuk memulihkan kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia. Pernyataan atau komitmen saja dinilai belum cukup untuk menjawab kekhawatiran investor.

“Statement memang agak disesali, namun yang dicari investor adalah langkah konkret, bukan hanya pernyataan,” kata Lukman

Curated For You

Editorial Team

Related Article