Ilustrasi rupiah melemah (pexels.com/ahsanjaya)
Tak hanya itu, pelemahan rupiah juga berisiko menekan daya beli masyarakat melalui kenaikan harga barang impor. Yusuf mencermati, inflasi pada September 2026 mencapai 3,28 persen secara tahunan (year on year/yoy), sedangkan inflasi harga bergejolak (volatile food) sudah mencapai 5,03 persen.
Di sisi lain, inflasi kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices) masih rendah karena harga BBM bersubsidi ditahan. Artinya, sebagian tekanan kenaikan harga masih ditanggung APBN melalui subsidi dan kompensasi.
"Dampak pelemahan rupiah terhadap harga barang akan terasa dalam tiga hingga enam bulan ke depan," ucapnya.
Dengan demikian, kenaikan biaya produksi barang yang menggunakan bahan baku impor, seperti gandum, kedelai, gula, obat-obatan, dan elektronik, berpotensi semakin terasa pada kuartal IV-2026 hingga awal 2027. Tekanan harga juga berpotensi terjadi pada BBM dan LPG nonsubsidi.
Ia menambahkan, inflasi inti yang masih moderat di level 2,84 persen menunjukkan permintaan domestik belum cukup kuat. Dalam kondisi tersebut, produsen cenderung menahan kenaikan harga dengan mengurangi margin keuntungan. Namun, ruang untuk menekan margin memiliki batas sehingga kenaikan biaya produksi berisiko diteruskan kepada konsumen.
Kelompok masyarakat kelas menengah menjadi salah satu yang paling rentan terdampak. Sebab, kelompok ini banyak mengonsumsi barang impor dan BBM nonsubsidi, tetapi tidak seluruhnya memperoleh bantuan sosial.
Pada saat yang sama, tekanan terhadap rupiah juga membatasi ruang penurunan suku bunga. Alhasil, daya beli masyarakat berpotensi tertekan dari dua sisi, yakni kenaikan harga barang dan biaya kredit yang masih tinggi.