Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Rupiah Tertekan, BI Perkuat Intervensi di Pasar Valas
Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)
  • Rupiah melemah 98 poin atau 0,55 persen ke Rp17.916 per dolar AS, dipicu ekspektasi pengetatan moneter AS, inflasi global, dan ketidakpastian fiskal.
  • Tekanan eksternal mencakup yield US Treasury 10 tahun di 5,11 persen serta harga minyak Brent di atas 100 dolar AS; domestik dipengaruhi kebutuhan valas importir dan arus keluar portofolio.
  • BI memperkuat stabilisasi melalui NDF, spot, DNDF, dan pembelian SBN, sambil memperluas underlying transaksi; cadangan devisa mencapai 146,5 miliar dolar AS pada Agustus 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times- Bank Indonesia menilai pergerakan nilai tukar rupiah kembali mendapat tekanan akibat meningkatnya ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), kekhawatiran terhadap inflasi global, serta ketidakpastian prospek fiskal.

Adapun pada sore ini rupiah parkir di level 17.916 per dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah tercatat melemah 98 poin atau 0,55 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

1. Terjadi kenaikan imbal hasil surat utang AS capai level tertinggi sejak 2007

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Dok. IDN Times)

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI) Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, tekanan eksternal tercermin dari kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun yang mencapai 5,11 persen atau level tertinggi sejak 2007.

"Tekanan juga berasal dari ketidakpastian konflik Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia, sehingga harga minyak Brent kembali di atas 100 dolar AS per barel," kata Erwin dalam keterangannya, Kamis (24/9/2026).

2. Terjadi peningkatan kebutuhan valas di kuartal III

ilustrasi 100 dolar AS (pexels.com/Engin Akyurt)

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah turut berasal dari meningkatnya kebutuhan valuta asing (valas) oleh importir menjelang akhir kuartal III 2026. Selain itu, terjadi arus keluar portofolio dari aset negara-negara emerging markets.

Meski demikian, BI memastikan terus melakukan stabilisasi nilai tukar agar pergerakan rupiah tetap sesuai fundamental dan mekanisme pasar berjalan dengan baik.

BI juga memperkuat strategi operasi moneter yang berorientasi pasar atau pro-market untuk mengelola struktur suku bunga di pasar uang.

"Efektivitas stabilisasi dan kecukupan likuiditas diperkuat melalui peningkatan insentif Swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) lindung nilai kepada Bank Indonesia dalam rangka pendanaan luar negeri," ujar Erwin.

3. BI memperluas transaksi underlying yang dapat digunakan dalam instrumen tersebut

ilustrasi dolar AS (pexels.com/pixabay)

Selain itu, BI memperluas transaksi underlying yang dapat digunakan dalam instrumen tersebut. Perluasan mencakup arus masuk modal portofolio, pinjaman luar negeri oleh bank, serta investasi langsung asing atau foreign direct investment (FDI).

Erwin menambahkan, intervensi BI dilakukan secara konsisten melalui berbagai instrumen, baik di pasar offshore maupun domestik.

Intervensi tersebut mencakup transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

"Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar juga terus diperkuat," katanya.

Secara umum, BI menilai pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang negara-negara kawasan. Secara kuartal berjalan atau quarter-to-date (qtd), rupiah tercatat menguat 0,46 persen.

Di sisi lain, posisi cadangan devisa Indonesia juga meningkat menjadi 146,5 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2026. Posisi tersebut dinilai menjadi salah satu penopang dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal.

Curated For You

Editorial Team

Related Article