Ini Strategi Pemprov DKI Kendalikan Inflasi

- Inflasi Jakarta pada Juni 2026 tercatat 2,78 persen secara tahunan dan 0,41 persen bulanan, menunjukkan harga barang serta jasa di Ibu Kota masih stabil.
- Pemprov DKI Jakarta bersama TPID menerapkan strategi 4K—Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif—untuk menjaga kestabilan harga pangan.
- Stabilitas inflasi membantu menjaga daya beli masyarakat; Pemprov terus bersinergi dengan pelaku usaha dan distributor agar pasokan aman serta harga kebutuhan pokok tetap terjangkau.
Harga kebutuhan pokok selalu menjadi perhatian masyarakat, terutama ketika harga pangan atau biaya hidup mengalami kenaikan.
Stabilitas harga bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga berkaitan langsung dengan daya beli dan kesejahteraan warga. Karena itu, inflasi menjadi salah satu indikator penting untuk mengukur kesehatan ekonomi suatu daerah. Ketika inflasi tetap terkendali, masyarakat dapat menjalani aktivitas ekonomi dengan lebih tenang.
Kabar baiknya, kondisi tersebut masih terjaga di Jakarta. Pada Juni 2026, inflasi tahunan (year-on-year/yoy) tercatat sebesar 2,78 persen, tetap berada dalam rentang sasaran inflasi nasional.
Capaian ini mencerminkan konsistensi Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam menjaga stabilitas harga serta memastikan ketersediaan pasokan kebutuhan pokok bagi warga.
1. Inflasi Jakarta tetap terkendali

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta, inflasi pada Juni 2026 tercatat sebesar 0,41 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Angka tersebut menunjukkan kondisi harga barang dan jasa di Ibu Kota relatif stabil.
Kepala BPS Provinsi DKI Jakarta, Kadarmanto, mengatakan inflasi Juni 2026 terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga pada kelompok transportasi yang mencatat peningkatan indeks harga sebesar 2,54 persen dengan andil 0,34 persen terhadap inflasi.
"Inflasi Jakarta pada Juni 2026 didominasi peningkatan indeks harga pada kelompok transportasi," ujar Kadarmanto.
Menurutnya, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil sekitar 0,29 persen. Selain itu, inflasi juga dipengaruhi kenaikan tarif angkutan udara, telepon seluler, wortel, dan cabai.
Di sisi lain, penurunan harga sejumlah komoditas, seperti daging ayam ras, telur ayam ras, cabai rawit, pepaya, dan ikan kembung turut membantu menahan laju inflasi.
2. Strategi 4K menjadi kunci pengendalian inflasi

Untuk menjaga inflasi tetap terkendali, Pemprov DKI Jakarta bersama TPID memperkuat berbagai langkah pengendalian harga dan pasokan pangan.
Salah satu strategi yang diterapkan adalah pendekatan 4K, yakni Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif. Melalui strategi ini, pemerintah berupaya memastikan pasokan komoditas pangan strategis tetap tersedia, distribusi berjalan lancar, serta koordinasi antarpemangku kepentingan terus diperkuat.
Tak hanya itu, TPID juga aktif menggelar promosi komoditas pangan dan meningkatkan kapasitas para anggotanya melalui berbagai kegiatan, baik secara luring maupun daring. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat efektivitas pengendalian inflasi sekaligus mengantisipasi potensi gejolak harga.
3. Stabilitas harga menjaga daya beli masyarakat

Menjaga inflasi tetap rendah bukan hanya soal angka dalam laporan statistik. Stabilitas harga juga berperan penting dalam menjaga daya beli masyarakat sehingga kebutuhan sehari-hari, terutama pangan, tetap terjangkau.
Pemprov DKI Jakarta terus memperkuat sinergi dengan pelaku usaha, distributor, dan pemangku kepentingan guna memastikan pasokan tetap aman dan harga tetap stabil.
Dengan inflasi yang terjaga, masyarakat dapat lebih tenang berbelanja sehingga ekonomi Jakarta tumbuh sehat dan berkelanjutan. (WEB)





















