Program 1 RT 1 APAR Terus Diperluas, Kesadaran Warga Meningkat

- Pemprov DKI Jakarta memperkuat Program Satu RT Satu APAR lewat GEMPAR untuk membangun budaya siaga kebakaran, dengan target setiap RT memiliki minimal dua unit APAR.
- Kesadaran warga terhadap pentingnya mitigasi kebakaran meningkat, terlihat dari usulan pengadaan APAR di Musrenbang dan dukungan aktif masyarakat dalam sosialisasi pencegahan kebakaran.
- Kolaborasi lintas pihak menjadi kunci keberhasilan program, termasuk dukungan komunitas dan penambahan personel pemadam agar kesiapsiagaan menghadapi kebakaran semakin optimal.
Kebakaran masih menjadi ancaman yang kerap menghantui permukiman padat di Jakarta. Dalam hitungan menit, api dapat membesar dan menghanguskan rumah-rumah sebelum petugas pemadam tiba di lokasi. Berangkat dari kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus memperkuat Program Satu RT Satu APAR melalui Gerakan Masyarakat Punya APAR (GEMPAR).
Program yang diluncurkan sejak Mei 2025 itu tidak hanya berfokus pada penyediaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), tetapi juga membangun budaya kesiapsiagaan di tengah masyarakat. Edukasi, pelatihan, hingga kolaborasi lintas pihak menjadi bagian penting agar warga mampu melakukan penanganan awal saat kebakaran terjadi.
1. Program 1 RT 1 APAR terus diperkuat

Saat meluncurkan Program GEMPAR di Kelurahan Sukabumi Utara, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung berharap agar setiap RT memiliki sedikitnya dua unit APAR. Langkah ini dinilai penting untuk mempercepat penanganan kebakaran pada menit-menit pertama sebelum petugas pemadam datang.
“RT di Jakarta kurang lebih ada 30.679 dan saya berharap setiap RT ada dua APAR. Berdasarkan pengalaman tahun 2025, ada 598 kebakaran dan 141 yang menyelesaikan adalah APAR yang dimiliki oleh masyarakat,” ujar Pramono.
Komitmen tersebut diperkuat melalui Peraturan Gubernur (Pergub) yang menjadi dasar pelaksanaan Program Satu RT Satu APAR di seluruh wilayah Jakarta.
Dukungan juga datang dari DPRD DKI Jakarta. Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta, Kevin Wu, menilai perluasan penyediaan APAR hingga tingkat RT akan membuat masyarakat lebih sigap menghadapi potensi kebakaran.
“Kita berharap program ini bisa mempermudah warga untuk lebih gesit memadamkan api ketika pertama kali muncul di sekitarnya,” ujarnya.
2. Kesadaran warga mulai tumbuh

Program Satu RT Satu APAR mulai mendorong meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi kebakaran.
Program ini mulai mengubah cara pandang masyarakat terhadap pentingnya mitigasi kebakaran. APAR kini tidak lagi dipandang sekadar fasilitas tambahan, melainkan kebutuhan bersama untuk menjaga lingkungan tetap aman.
Hal itu terlihat dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kelurahan Kemanggisan, Jakarta Barat. Warga mengusulkan pengadaan APAR di setiap RT sebagai salah satu prioritas pembangunan lingkungan.
Lembaga Masyarakat Kelurahan (LMK) RW 03, Barkah, juga menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat.
“Perlu juga dilakukan sosialisasi pencegahan bahaya kebakaran,” ujarnya.
Usulan tersebut menunjukkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesiapsiagaan menghadapi kebakaran terus meningkat seiring berjalannya Program GEMPAR.
3. Kolaborasi jadi kunci membangun budaya siaga

Membangun budaya siaga kebakaran tidak bisa dilakukan pemerintah sendirian. Berbagai elemen masyarakat harus ikut ambil bagian dalam memperkuat mitigasi kebakaran di tingkat lingkungan.
Salah satunya dilakukan Ikatan Alumni SMAN 112 Jakarta yang menyalurkan 30 unit APAR kepada masyarakat sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pencegahan kebakaran di kawasan permukiman.
Di sisi lain, Pemprov DKI Jakarta terus memperkuat kapasitas layanan pemadam kebakaran melalui penambahan personel secara bertahap.
Menurut Pramono, kebutuhan ideal petugas pemadam di Jakarta mencapai sekitar 10 ribu hingga 11 ribu orang, sementara saat ini baru tersedia sekitar 3.900 personel.
“Memang personel masih sangat kekurangan. Kebutuhan sekitar 10 sampai dengan 11 ribu personel. Sekarang baru ada kurang lebih 3.900 personel, sehingga secara perlahan mulai kami tambah supaya kebutuhan itu bisa tercukupi,” ungkapnya.
Program GEMAR ini dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat. Siti Nurhayati, warga RW 07 Kelurahan Petukangan Selatan, Jakarta Selatan, mengaku lebih percaya diri menghadapi potensi kebakaran setelah mengikuti pelatihan penggunaan APAR.
“Sekarang saya jadi tahu cara menggunakan APAR. Kalau ada api kecil, kami tidak panik dan bisa langsung melakukan penanganan awal,” tuturnya. (WEB)





















