3 Tips Jualan Makanan yang Mudah Expired, Biar Gak Jadi Food Waste!

- Pelaku usaha makanan perlu menyesuaikan produksi dengan pola permintaan harian agar modal tidak tertahan pada produk yang berisiko tidak terjual dan menjadi limbah.
- Sistem FIFO, pengecekan tanggal kedaluwarsa, serta pemantauan kemasan, aroma, tekstur, dan suhu penyimpanan penting untuk menjaga stok tetap aman dan berkualitas.
- Stok yang mendekati masa simpan dapat dipercepat perputarannya lewat bundling dan evaluasi data penjualan, tanpa menjual makanan yang sudah tidak layak konsumsi.
Menjual makanan bisa menjadi bisnis yang menarik karena permintaannya selalu ada. Namun, ada satu tantangan yang tidak bisa diabaikan: produk makanan tidak bisa disimpan selamanya. Berbeda dengan pakaian atau peralatan rumah tangga, makanan memiliki masa simpan. Jika tidak terjual tepat waktu, kualitasnya bisa menurun dan pada akhirnya harus dibuang.
Bagi pelaku usaha kecil, makanan yang terbuang bukan sekadar masalah operasional. Itu berarti modal yang sudah dikeluarkan untuk membeli bahan baku atau membuat produk ikut hilang. Karena itu, menjual makanan yang mudah kedaluwarsa membutuhkan strategi yang sedikit berbeda. Kuncinya bukan hanya membuat produk yang enak, tetapi juga mengatur jumlah produksi, stok, dan penjualan dengan cermat. Berikut tiga tips yang bisa diterapkan.
1. Produksi berdasarkan pola permintaan, bukan sekadar memenuhi etalase

ilustrasi warteg (Pexels.com/Noval Gani) Salah satu kesalahan yang bisa membuat usaha makanan merugi adalah memproduksi terlalu banyak produk agar etalase terlihat penuh. Memang, makanan yang tersedia banyak bisa membuat toko terlihat menarik. Namun, jika ternyata tidak semuanya terjual, sebagian produk justru berpotensi menjadi sampah.
Karena itu, coba mulai mencatat berapa banyak produk yang terjual setiap hari. Misalnya, kamu menjual 30 porsi makanan setiap hari. Pada hari biasa, rata-rata hanya 20-25 porsi yang terjual. Artinya, memproduksi 50 porsi tanpa alasan yang jelas justru meningkatkan risiko makanan tersisa.
Sebaliknya, jika pada akhir pekan permintaan meningkat, jumlah produksi bisa dinaikkan secara bertahap. Pola ini dapat membantu usaha menentukan jumlah produksi berdasarkan data, bukan sekadar perkiraan. Pastikan pengelolaan operasional dan stok agar peningkatan permintaan tidak justru menimbulkan masalah, seperti stok yang tidak terkendali atau kualitas produk yang menurun.
Untuk produk yang sangat mudah rusak, pendekatan produksi sedikit tetapi lebih sering bisa menjadi pilihan dibandingkan membuat dalam jumlah besar sekaligus. Dengan begitu, modal tidak terlalu lama tertahan dalam bentuk makanan yang belum terjual. Lebih baik kehabisan sedikit daripada terlalu banyak makanan yang akhirnya harus dibuang, selama kamu tetap menjaga ketersediaan produk agar pelanggan tidak kecewa.
2. Terapkan sistem stok berdasarkan tanggal kedaluwarsa

ilustrasi toko roti (Pexels.com/Madison Inouye) Kalau menjual makanan kemasan, bahan baku, minuman, atau produk lain yang memiliki masa simpan, jangan asal mengambil barang dari rak. Biasakan menggunakan prinsip FIFO atau First In, First Out, yaitu barang yang lebih dulu masuk harus lebih dulu dijual atau digunakan. Cara sederhana ini membantu mencegah stok lama tertinggal di bagian belakang rak.
Selain itu, lakukan pengecekan tanggal secara berkala. Pisahkan produk yang masa simpannya lebih pendek agar lebih mudah dipantau. Tanggal pada kemasan juga perlu dibaca dengan benar. USDA Food Safety and Inspection Service menjelaskan bahwa istilah seperti Sell-By, Use-By, dan Best if Used By dapat memiliki arti berbeda. Sell-By, misalnya, berkaitan dengan pengelolaan persediaan di toko, sedangkan Best if Used By menunjukkan periode ketika kualitas produk diperkirakan berada pada kondisi terbaik.
Namun, jangan menjadikan perbedaan istilah tersebut sebagai alasan untuk menjual makanan yang sudah tidak layak konsumsi. Jika produk menunjukkan tanda kerusakan atau pembusukan, jangan dijual hanya karena tanggal pada kemasannya belum lewat. Penanganan dan kondisi penyimpanan juga memengaruhi kualitas serta keamanan makanan. Karena itu, selain tanggal, perhatikan pula kemasan, aroma, tekstur, kondisi penyimpanan, dan petunjuk dari produsen. Untuk makanan yang membutuhkan suhu tertentu, pastikan penyimpanannya sesuai dengan petunjuk pada kemasan.
3. Buat strategi khusus untuk stok yang mendekati masa simpan

ilustrasi toko roti (Pexels.com/Ani Hadushaj) Bagaimana jika ada makanan yang masa simpannya mulai mendekati batas tetapi masih layak dijual? Jangan menunggu sampai produk benar-benar tidak bisa dijual. Kamu bisa membuat strategi untuk mempercepat perputarannya, selama produk masih memenuhi ketentuan keamanan dan kualitas yang berlaku. Misalnya dengan membuat paket bundling. Produk yang biasanya dibeli satuan dapat digabungkan dengan produk lain menjadi paket dengan harga yang lebih menarik. Cara ini bisa meningkatkan kemungkinan produk terjual lebih cepat.
Contohnya, toko yang menjual roti bisa membuat paket roti dan minuman. Penjual makanan ringan bisa membuat paket beberapa produk sekaligus. Strategi lainnya adalah menyesuaikan jumlah produksi berikutnya. Jika dalam satu minggu terdapat banyak produk yang tersisa, jangan langsung menganggap masalahnya adalah kurang promosi. Bisa jadi jumlah produksinya memang terlalu tinggi dibandingkan permintaan.
Di sinilah pencatatan penjualan menjadi penting. Catat produk mana yang cepat habis, produk mana yang sering tersisa, serta hari dan jam ketika penjualan paling tinggi. Dari sana, kamu bisa menentukan produk apa yang harus diproduksi lebih banyak dan mana yang perlu dikurangi.
Namun, ada satu batas yang tidak boleh dilanggar, yakni jangan menjual makanan yang sudah tidak layak konsumsi hanya untuk menghindari kerugian. Keuntungan bisnis tidak boleh mengorbankan keamanan konsumen. Bisnis makanan bukan cuma soal laku, tetapi juga soal mengurangi yang terbuang
Menjual makanan yang mudah kedaluwarsa memang memiliki tantangan tersendiri. Ada modal yang harus dikeluarkan terlebih dahulu, sementara waktu untuk menjual produk tersebut terbatas. Karena itu, semakin cepat kamu mengetahui pola penjualan, semakin mudah mengatur produksi dan persediaan.






















