Bendera Uni Emirat Arab (pexels.com/Suji Su)
Pengumuman Trump muncul setelah Uni Emirat Arab (UEA), yang sebelumnya menjadi salah satu mitra dagang terbesar Iran dan memasok lebih dari 30 persen impornya, memutuskan menangguhkan seluruh hubungan keuangan, pertukaran komersial, serta transaksi dengan Iran. UEA menuduh Teheran meluncurkan dua rudal balistik ke arah perairannya, sedangkan Iran menolak tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai operasi bendera palsu.
Profesor ekonomi Timur Tengah di Brandeis University Nader Habibi menilai AS sangat mendorong keputusan UEA tersebut dan merujuk pada kontak tingkat tinggi, termasuk percakapan telepon Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dengan Penasihat Keamanan Nasional Emirat Syeikh Tahnoon bin Zayed Al Nahyan. Analis menyoroti keterbatasan praktis dari tekanan ekonomi tambahan.
Habibi mengidentifikasi China, Irak, dan Turkiye sebagai target potensial, termasuk lembaga keuangan yang melayani kilang minyak mandiri jenis teapot yang masih membeli minyak Iran. Ia mengingatkan pemerintah China telah memperingatkan entitas di negaranya agar tak bekerja sama dengan sanksi AS, sementara penerapan penuh pembatasan perdagangan darat Iran dengan negara-negara tetangga akan sulit dilakukan.
Analis senior di Eurasia Group Gregory Brew menyebut setiap langkah ekonomi baru yang efektif perlu diarahkan kepada mitra dagang Iran, tetapi AS akan kesulitan melakukan tindakan semacam itu terhadap China sebagai negara paling penting bagi masa depan ekonomi Iran. Kondisi tersebut juga berkaitan dengan rencana kunjungan pemimpin China Xi Jinping ke AS.
Managing principal di Obsidian Risk Advisor Brett Erickson menyebut langkah ekonomi yang kini diancam Trump sebelumnya belum digunakan karena memiliki risiko. Menurutnya, jika tindakan tersebut menawarkan profil risiko-imbalan yang menguntungkan bagi pemerintahan Trump, langkah itu seharusnya sudah diterapkan.
Erickson menilai tindakan terhadap bank-bank China yang berbisnis dengan Iran menjadi tuas paling berdampak yang dapat digunakan Trump. Jika digabungkan dengan penerapan nyata keputusan UEA untuk memutus hubungan, langkah tersebut dapat menjadi sangat kuat.
Erickson menyebut kendala terbesar adalah waktu karena perang ekonomi terhadap Iran tak hanya perlu menghasilkan hasil, tetapi juga harus mencapainya dengan cepat. Wartawan Al Jazeera Mike Hanna yang melaporkan dari Washington, menggambarkan pengumuman itu sebagai cerminan tingkat frustrasi atas kebuntuan yang berkepanjangan.
Hanna mempertanyakan alat ekonomi tambahan yang masih tersedia di luar langkah yang telah diterapkan dan menilai pernyataan tersebut mungkin terdengar seperti ancaman berulang bagi pejabat Iran. Ia menambahkan target audiensnya mungkin publik Amerika yang terus menentang konflik, sementara Trump mengambil sikap yang diharapkannya terlihat sangat tegas di ruang publik meski belum ada detail spesifik untuk menilai kemungkinan efektivitas langkah tersebut dalam memperkuat aksi ekonomi terhadap Iran.
Trump juga menyatakan kapal-kapal dari negara-negara Teluk yang bersekutu dengan AS terus melintasi Selat Hormuz dengan bantuan militer AS dan menyebut banyak kapal saat ini melintas. Axios melaporkan pasukan AS telah memfasilitasi 15-20 kapal setiap malam, yang mengangkut sekitar separuh volume pengiriman minyak harian sebelum perang, sambil tetap mempertahankan blokade terhadap ekspor Iran.
Data pelacakan kapal dari Kpler menunjukkan volume transit secara keseluruhan tetap rendah. Mantan kepala cabang Iran di intelijen militer Israel Danny Citrinowicz menyebut fasilitasi tersebut sebagai perkembangan operasional penting, tetapi mempertanyakan berapa lama AS mampu mempertahankannya.
Citrinowicz menambahkan, langkah tersebut tak akan memaksa Iran menyerah atau secara mendasar mengubah posisi perundingannya.